Karena Bunda Mencintaimu
Selesai sudah pledoii ini kubaca, tadinya kupikir takkan habis kubaca malam ini. Besok pagi aku harus sudah siap membacakannya di muka sidang. Aku ingin Pak Hakim mengerti maksud pembelaanku. Besok ada dua sidang yang harus kuhadiri pertama sidang kasus pemerkosaan yang pledoiinya baru selesai kubaca dan kasus perceraian seorang artis terkenal.
Sebagai seorang pengacara sebetulnya aku ingin memilih agar tak menangani kasus perceraian atau perkosaan tapi entahlah akhir-akhir ini yang masuk ke firmaku justru mayoritas adalah kasus yang tak kusukai itu, dunia memang tak selalu seperti yang ku inginkan. Kasus perkosaan yang kini kutangani memang sedikit unik, sang lelaki yang kini menjadi clientku tak pernah mengaku bahwa dia memperkosa, dia mengatakan bahwa semua itu dilakukannya atas dasar suka sama suka, hanya saja setelah hamil maka wanita yang pacarnya itu menuntut pertanggungjawabannya, dan clientku itu ternyata mengelak, maka masuklah kasus itu ke firmaku, karena sang wanita melaporkan clientku itu sebagai pemerkosa. Sebagai wanita sejujurnya aku tak ingin kasus ini aku yang membela, tapi sebagai pengacara aku tak bisa menolak. Tapi dalam hatiku walau kasus ini tak sesuai dengan nuraniku, aku terima saja, aku hanya ingin memberitahukan bahwa di negara hukum orang yang bersalah pun masih mempunyai hak-hak sebagai manusia, apalagi jika dia belum terbukti. Dari kacamataku, kasus ini sebetulnya adalah buah dari begitu hiruk-pikuknya adegan vulgar di media, kini tak lagi seperti zamanku kecil dulu, anak kecil pun sudah dengan mudah mendapat akses untuk mengetahui perihal sex. Televisi, internet, media cetak turut andil merubah prilaku mereka, apalagi saat ini budaya yang mereka anut kebanyakan adalah budaya sebagian artis kita yang segalanya serba permisif. Aku di sini hanya sebagai pengacara yang memberitahukan hak-haknya sebagai tersangka, bahkan dalam pledoii yang baru selesai kubaca barusan itu, nyaris saja aku tak memberikan pembelaan, aku hanya menerangkan mengenai fakta hukum yang ada, yang kemudian dalam kesimpulanku, bahwa kasusnya bukan perkosaan, tapi mereka berdua tetap bersalah karena telah melanggar norma yang hidup dalam masyarakat kita. Semoga ada terobosan hukum untuk kasus seperti ini.
Tiba-tiba saja aku teringat Dhanya anak gadisku satu-satunya, sudah remaja dia sekarang, semenjak suamiku pindah ke Aceh, lima belas tahun yang lalu aku tak pernah lagi berjumpa dengannya. Dhanya adalah anak hasil perkawinanku dengan seorang Aceh, Tengku Rustam nama suamiku dulu. Kami menikah hanya tiga tahun sebelum akhirnya bercerai, saat itu usia Dhanya dua tahun. Saat itu pengadilan menyerahkan Dhanya dibawah pengasuhanku, tapi karena kesibukanku sebagai pengacara menyita banyak waktuku, mertuaku suatu hari meminta Dhanya padaku. Dengan catatan aku dapat bertemu dengannya kapanpun juga. Tapi semua itu hanya omong kosong, aku hanya menikamati waktu satu tahun untuk dapat bertemu dengan Dhanya secara bebas, setelah itu perlahan Dhanya semakin susah kutemui, hingga puncaknya 2 tahun setelah perceraianku Dhanya tak lagi bisa kutemui. Dan beberapa saat setelah itu aku mendapat kabar dari mertuaku, bahwa keluarga besar mereka memutuskan untuk kembali ke Aceh. Maka sejak saat itu Dhanya dan aku tak lagi ada komunikasi secara langsung, sesekali suamiku mengabariku tentang Dhanya, tak lupa beberapa lembar foto anakku terselip. Dan saat Dhanya mulai dapat menulis, huruf – huruf pertamanya terkirim untukku lewat suratnya. Semua foto dan surat Dhanya ku simpan rapih. Bila rindu sering kutatap wajah itu, mirip Rustam.
Sebagai pengacara yang sering membela hak orang lain, aku ternyata tak bisa membela hakku sendiri untuk bertemu anakku, padahal aku inikan ibunya kenapa tak ada perundingan denganku ketika mereka membawa anakku pergi begitu saja. Tapi saat itu aku bertanya kembali pada hatiku. Toh hak Dhanya sebagai anak harus ku pertimbangkan terlebih dulu, jika Dhanya tinggal bersamaku berarti hari-harinya adalah sepi. Sebagai seorang pengacara, waktuku bukan seperti orang kantoran yang jam kantornya terbilang, tekadang aku harus mendampingi clientku hingga larut malam, maka Dhanya pasti hanya melewatkan harinya bersama susternya. Maka aku tak ingin Dhanya begitu. Ibu Rustam sangat sayang Dhanya, karena beliau tak punya satupun anak wanita, maka saat Dhanya lahir, dia diperlakukan bak seorang putri oleh ibu mertuaku, begitu pula Rustam dia sangat sayang pada Dhanya dan bukan hanya mereka berdua, kedua Adik Rustam Rafli dan Rahman pun memperlakukan Dhanya sangat istimewa. Maka kupikir di bawah pengawasan mereka Dhanya pasti akan lebih terjaga. Ketimbang bersamaku.
Sekali waktu di sela hari-hariku yang padat aku sempat menengok Dhanya, terutama jika hari ulang tahunnya tiba, aku pasti menyempatkan diri untuk terbang ke Aceh menikmati waktuku sebagai seorang ibu. Maka ulang tahun Dhanya yang ke 17 kemarin yang membuatku agak was-was akan perkembangannya. Saat itu Dhanya memperkenalkan padaku seorang anak lelaki yang usianya terpaut 2 tahun dari anakku, lelaki itu bernama Raddin, anaknya tinggi besar, kulitnya sawo matang, tapi sekilas saja kulihat dari cara mereka bertatapan, aku merasa antara Dhanya dan Raddin pasti ada sesuatu yang istimewa. ”Bunda, koq natap Kak Raddin begitu ?” Dhanya bertanya. Aku terdiam. Segera ku tinggalkan mereka berdua, aku menuju Rustam. “Kak Rustam, siapa Raddin ?” tanyaku. ”Oh, Raddin.. dia anaknya Haji Zaenal kawanku kenapa ?” Rustam seolah tenang. ”Kak Rustam tahu jika antara Raddin dan Dhanya ada hubungan ?” tanyaku. ”Fira sudahlah, kamu koq kaya nggak pernah muda” jawab Rustam enteng. ”Kak, justru itu aku ingin Kak Rustam lebih menjaga Dhanya” jawabku. Ibu Mertuaku menghampiri kami, ”Fira, sudahlah.. Ibu tahu yang kamu takutkan, percayalah, kami menjaganya” Ibu mertuaku menenangkanku. Tapi entahlah mungkin nurani sebagai seorang ibu bicara lain saat itu. Aku merasa hubungan yang mereka jalin sudah diambang batas kewajaran.
Suara handphone membuyarkan lamunanku. Riani Bellasinta, artis yang juga clientku memanggilku lewat handphoneku. Setelah menutup telpon dari Riani maka akupun segera menuju tempat tidur untuk terpulas.
Aku terkejut, dari kejauhan firmaku seolah penuh sesak oleh sekerumunan orang, wartawan infotainment memang tak pernah tahu waktu, sepagi ini mereka sudah nongkrong di depan firmaku, pasti mereka ingin tahu tentang kisah perceraian Riani Bellasinta. Aku memarkir mobilku agak jauh. Dan segara bergegas, tak satupun pertanyaan mereka kujawab.
Persidangan pertama ditunda, dikarenakan clientku tiba-tiba sakit, sedangkan kasus Riani yang hari ini adalah putusan, memang memutuskan untuk bercerai. Satu lagi perkawinan kubantu untuk bubar. Sesalku.
Tadinya selepas kedua sidang yang membuat otakku hampir beku itu, ingin rasanya aku menikmati udara sore sebentar di seputar kota jakarta ini. Mampir ke café menikmati musik untuk sekedar melemaskan urat-uratku yang tegang. Tapi sebuah telpon dari Aceh membuyarkan semua keinginanku.
“Magfira, cepat datang.. anakmu butuh bantuanmu” suara mertuaku tersekat. Telepon putus. Kucoba menghubungi telpon mantan suamiku nadanya selalu sibuk Semalaman tak ada satu keluarga pun yang bisa kuhubungi, maka esok paginya akub berangkat dengan penerbangan pertama menuju Aceh. Aku menuju Aceh dengan perasaan galau. Suasana rumah mertuaku tampak sepi, ketika kutekan belnya berulang kali maka tak satupun yang keluar. Maka aku semakin panik. Aku hanya berdiri mematung. Mengharap ada yang memberi kabar, ada apa dengan anakku. Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan rumah ini, ketika suara mobil mengagetkanku. Mertuaku tampak dengan matanya yang basah.”Fira, bagus kau datang.. selamatkan Danin Fira.. tolong Fira..” ibu mertuaku memelukku erat sekali. Rustam keluar dari mobil dengan wajah kusut. Kamipun bergegas ke dalam rumah. “Dhanya akan dihukum” Rustam langsung pada pokok pembicaraan. Aku menatap mantan suamiku bingung. ”Dhanya tertangkap melakukan perbuatan aib” Suara Rustam tercekat dia menangis. Aku merasa saat itu jantungku lepas. Aku tak mampu merangkum pembicaraan orang-orang disekitarku. ”Maksudmu aib bagaimana ?” tanyaku”. Dia berzinah..” Rustam pelan dan tercekat. Saat itu rasanya aku ingin menghilang dari manapun, aku tak ingin berita itu ada di telingaku.”Fira, kau pengacara ternama..bantu Dhanin.. jangan sampai dia dihukum seperti itu, bawalah dia ke Jakarta, di sana tak berlaku hukum Islam seperti disini” Ibu mertuaku tiba-tiba menyentuh kakiku. Aku tersentak. ”Di mana anakku sekarang ?” Aku bangkit dari dudukku. ”Aku harus bertemu dengannya, tolong antar aku..” kataku lagi. ”Dhanin ada di kamarnya sekarang”. Jawaban Rustam mengagetkanku, maka saat itu tanpa berfikir panjang lagi, aku menuju kamar Dhanin. Gadis itu sedang menangis di kamarnya saat kubuka pintu kamarnya, tanpa ku sadari sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadisku. Dhanin menatapku. ”Dhanin fikir Bunda akan tolong Dhanin..”. Wajahnya memelas. ”Dengar Dhanin, Bunda sayang Dhanin.. maka Bunda takkan bela Dhanin.. jalani hukuman itu.. Bunda ingin Dhanin bertanggung jawab atas apa yang Dhanin buat.. bukan meminta bantuan Bunda, Dhanin tahukan bahwa Dhanin salah.. apa yang harus bunda bela, saksi sudah ada bukan ?” Entahlah saat itu rasanya aku justru ingin memeluknya walau amarahku pun rasanya sudah memuncak. Aku memeluknya erat sekali.
“Dhanin, mengapa Dhanin lakukan itu Nak.. Dhanin tahu itu salahkan, itu dosa besar Nak” kataku sambil menangis. Dhanya terdiam.”Maafkan Dhanin Bunda.. Dhanin khilaf” katanya sambil memeluk kakiku. “Tapi Bunda mau bantu Dhanin kan ?” tanyanya penuh harap. ”Dhanin, bukan bunda tak mau tolong Dhanin, percayalah.. hukuman seperti itu akan tak ada artinya jika dibandingkan Dhanin harus menangung azab di akherat kelak.. dan Bundapun akan berdosa jika harus menolong Dhanin mengelak dari suatu fakta yang sudah terbukti.. Dhanin, tolonglah Nak.. terimalah hukuman ini sebagai pengampunan dosa, Bunda yakin Dhanin pasti lebih tahu tentang ini daripada Bunda.. camkan itu Dhanin.. Bunda rasanya tak usah lagi marah pada Dhanin sekarang, tapi tugas Bunda saat ini adalah mengantar Dhanin untuk menghadiri sidang, kemudian menjalankan hukuman, setelah itu Bunda akan merawatmu anakku..” aku memeluk Dhanin erat.
Sebagai ibu kini aku merasa benar-benar gagal. Sebagai Ibu hanya dari seorang anak aku tak mampu membimbingnya menuju jalan yang diridhoi. Mertuaku menentang keras keputusanku untuk tidak membela Dhanya. ”Fira, ibu macam apa kau ini.. kau rela anakmu dihukum seperti itu, bagaimana kalau dia mati ?”. Mertuaku menatapku dengan marah. ”Dia mati dalam keadaan bersih dari dosa bu..” jawabku. ”Kau memang tak pernah sayang pada Dhanin , kau tak pernah menggendongnya saat dia menangis, kau tak merawatnya saat dia sakit, jika Dhanin mati pun, kau tak perduli, karena bagimu Dhanin tak pernah ada”. Wanita tua itu menangis sejadi – jadinya. Aku menghampirinya, memeluknya. ”Bu.. saya memang ibu yang paling gagal di dunia ini, anak satu pun tak mampu saya urus, tapi saya tak ingin Dhanin malah harus menimpa balas dosanya di alam yang tak ada akhirnya Bu.. saya sayang Dhanin Bu.. oleh karena itu sayalah yang harus menyelamatkannya dari siksa yang tak bertepi itu” jawabku. ”Sok suci kamu Fira, apa kamu tak pernah buat dosa ?” sergah mertuaku. ”Saya berlumur dosa bu, tapi saya tak pernah berzinah, tolonglah Bu.. semua ini aturannya sudah jelas, ibu tahu di Aceh hukum Islam yang berlaku, dan saya fikir hukuman itu pantas untuk seorang yang melakukan perbuatan sekeji itu, siapapun dia hukumannya tetap sama, hukum tak memandang orang Bu.. semua sama, hanya saja dalam hukum Islam orang yang berzinah hukumnya rajam.. ikhlaslah Bu.. agar Dhanin pun lapang, kita doakan saja semoga semuanya berjalan lancar..” kataku sambil nanar. Ku dengar ibu mertuaku menangis sejadi-jadinya.
Dhanya tertangkap basah oleh polisi di sebuah hotel berbintang sedang melakukan perbuatan amoral itu, dan bukan hanya Dhanya yang tertangkap tapi juga ada tiga pasang teman yang lain yang ikut tertangkap. Aku tak pernah habis fikir bagaimana fikiran ke enam remaja itu yang salah satunya adalah anakku sampai tega berbuat hal yang sangat berdosa. Raddin yang juga pacar Dhanya pun ikut terancam hukuman yang sama.
Hari itu hari Jum’at. Dhanya kuantar ke mesjid Baiturahman tempat hukuman itu dilaksanakan. Para warga sepertinya haus berita, mereka ingin tahu, karena baru saja diumumkan akan dilakukan hukuman rajam bagi yang telah melakukan zinah, setelah sebelumnya baru saja dilakukan hukuman potong tangan bagi yang terbukti mencuri.
Sebagai seorang ibu aku merasa sakit hati, malu dan entah apalagi yang berkecamuk di dadaku saat ini, tapi ada perasaan bangga dihatiku. Dhanya akhirnya menerima hukuman itu dengan hati yang ikhlas, dan mengerti sepenuhnya maksud adanya Allah memberikan hukuman itu, sedangkan teman-teman Dhanya lainnya berbondong-bondong mencari perlindungan di balik para pengacara mereka.
Aku tak ikut menyaksikan hukuman itu, Kak Rustam yang mendampinginya. Setelah selesai kudengar Dhanya segera dibawa menuju Rumah Sakit. Aku menyusul ditemani Rahman. Ketika itu kulihat Dhanya sedikit lemas, wajahnya terlihat dia menahan kesakitan. ”Bunda.. terimakasih..” katanya lirih, aku tersenyum sambil menangis. ”Maafkan Dhanin Bunda, semoga dengan dilakukannya hukuman ini Allah yang Maha Pengampun menghapus dosa nista Dhanin..” katanya sambil menangis. Tubuh Dhanya terus beranjak pergi menuju ruang perawatan dibantu paramedis. Aku dan Kak Rustam menunggu dari luar.
Dua Minggu setelah proses hukuman tersebut. Dhanya dan Raddin sepakat kami nikahkan. Tak ada pesta untuk perkawinan anak gadisku itu, hanya sebuah upacara ijab kabul yang sangat sederhana. Aku berharap rumah tangga mereka tak seperti rumah tangga kami.
(salam hangat untuk para pejuang tegaknya hukum Allah di Indonesia, semoga perjuangan kalian segera mendapatkan hasil sebagaiman janji Allah)

BAGUS ……………………Keep the spirit ya!