Suatu Sore di Tiro
Namaku Mutiah aku lahir sebagai anak yatim. Kata Makku Bapakku hilang waktu pulang dari ladang. Masih kata Makku, mungkin Bapakku hilang diculik GAM atau juga TNI, Makku pun tak tahu. Daerah tempatku tinggal memang daerah konflik antara GAM dan TNI. Tak susah untuk mencari anak yatim seperti aku atau janda seperti Makku, didesaku ada banyak. Rosidah temanku juga yatim bedanya Rosidah punya kakak dan adik, mereka lima bersaudara, sementara aku sendirian, hanya bersama Makku. Nenekku baru saja meninggal sebulan yang lalu. Sedang kakekku sudah meninggal ketika bapakku masih kecil. Aku tak pernah bertemu bapakku, kata Makku bapakku hilang saat aku masih dikandungannya, waktu itu usia kandungannya baru 4 bulan. Maka sejak lahir aku sudah yatim. Sering ku tanya makku seperti apa wajah bapakku, kata makku wajahnya seperti aku hanya saja bapakku laki-laki sedang aku perempuan. Nenekku pun mengiyakan bahkan kata beliau waktu lahir wajahku nyaris serupa tak sama dengan bapakku. Aku ingin sekali tahu wajah bapakku, tapi dirumahku tak ada satupun fotonya.
Seperti juga para janda di kampungku, kini yang keladang adalah makku, setiap hari di mencangkul, dulu sebelum aku sekolah aku sering ikut ke ladang, tapi sekarang makku melarang. Padahal aku ingin sekali membantu, aku kasihan padanya.
“Mak, kalau bapak diculik Bapak bisa pulang ya ?” tanyaku suatu hari. ”Berdoalah Nak..” kata Makku menjawab. Aku tak pernah tahu apakah Makku juga seperti aku ingin Bapakku pulang. Karena seperti para janda di kampungku, wajah mereka sepertinya tegar. Aku memang selalu berdo’a semoga saja suatu hari bapakku pulang. ”Mak, kenapa bapak diculik, apakah bapak melakukan sesuatu yang salah ?” tanyaku. ”Entahlah Nak yang Mak tahu bapakmu hanya seorang petani biasa, entah apa salahnya sehingga harus diculik..” kata Makku. “Tapi Bapak tidak mati kan Mak ?” tanyaku lagi, ”Itu juga Mak tak tahu Nak, kata orang kalau mati pasti jasadnya ditemukan, tapi Bapakmu tidak, makanya orang-orang sini mengatakan Bapakmu diculik, maka Mak nurut saja..“ katanya sambil berbaring.
Dulu waktu ku kecil, jika ku tanya Makku kemana Bapak. Beliau selalu menjawab, Bapakmu sedang ke kota, tapi semenjak aku sekolah dan orang-orang banyak yang bercerita padaku tentang ayahku maka kini aku tahu Bapakku tak pernah ke kota, tapi hilang, “Mungkin benar-benar di culik seperti kata mereka, persisnya Makpun tak tahu..” itu jawab Makku saat itu. ”Mak, kalau bapak diculik berarti Bapak di bawa ke kota ya Mak ?” Tanyaku lagi.Makku hanya tersenyum, setelah itu dia tertidur pulas.
Kata Maknya Rosidah musuh kita itu TNI, bapaknya Rosidah mati ditembak TNI diladang mereka, karena dituduh sudah memberi makan GAM. Tapi kata Maknya Rahman yang jahat itu GAM karena suaminya tewas dibunuh GAM. Aku bingung.Sampai sekarang Makku tak tahu Bapakku dibunuh atau diculik siapa.Mungkin karena itu Makku tak tahu siapa musuh siapa kawan.
Aku dan Rosidah sekolah di sebuah pesantren dekat desa sebelah, kata orang dulu di desaku ada sekolah tapi habis terbakar, katanya oleh GAM. Kini aku sekolah di rumah seorang Haji. Namanya Haji Umar. Orangnya baik sekali. Dia ramah begitu pula istrinya. Beliaulah yang kini mengajar anak-anak sesusia kami. Di rumah Haji Umar ada televisi, kami sering ikut menonton jika waktu belajar sudah habis. Nanti sepulangnya aku dari rumah Haji Umar ku ceritakan pada Makku tentang film yang ku tonton. Biasanya kami pulang sudah agak sore.
“Jangan pulang sore-sore Mutiah..” kata Makku ketika aku pulang sudah hampir Ashar. ”Maaf Mak..” kataku. ”Mak cemas..” kata Makku sambil memelukku. “Kau nonton televisi ya ?” tanya Makku, aku mengangguk. ”Apa yang kau tonton ?” tanya Makku sambil melepaskan pelukannya. ”Aku nonton film Mak, di film itu ku lihat anak seumurku kalau di Jakarta sekolahnya pakai seragam, baju bagus. Sekolahnya besar ada lapangannya, kalau pulang sekolah mereka pergi ke toko yang besar di sana mereka makan makanan yang enak-enak. Mak, di Jakarta itu enak ya, kemana-mana naik mobil dan rumahnya bagus-bagus Mak, tak seperti kita. Anak-anak di Jakarta punya Bapak dan Maknya selalu memakai baju bagus, mereka tidak ke ladang seperti Mak“ kataku menceritakan isi film itu. Makku terdiam. ”Mak kata haji Umar Jakarta itu ibu kota negara kita, tapi koq ibu kota tak memperhatikan kita, seperti ibu yang memperhatikan anaknya” kataku lagi. Makku diam.
Suatu hari saat aku nonton televisi di rumah Haji Husein ku lihat banyak orang berpakaian hijau mereka membawa senjata, kata Rosidah temanku mereka TNI, mereka tersenyum pada kami, tapi aku tetap saja takut karena mereka membawa senjata.
Setelah kejadian itu di desaku banyak sekali orang berpakaian seperti itu, tapi sejak saat itu pula aku jadi tak takut, ternyata mereka ramah. ”Mak apa mereka itu yang menculik Bapak ?” tanyaku, ”Mak tak tahu..” jawab Makku. ”Kalau begitu biar ku tanya mereka ya, siapa tahu ada yang pernah bertemu Bapak” kataku sambil berlari.
Di rumah Haji Husein ku lihat si seragam hijau itu sedang duduk-duduk. Sementara anak yang lain nonton televisi ku hampiri mereka. ”Pak, kata orang Bapakku di culik, Bapakku namanya Imron. Apa Bapak pernah bertemu dengan Bapakku ?” tanyaku.Kedua orang itu terlihat kaget.”Siapa yang menculik Bapakmu ?” kata orang yang bernama Marjono. ”Kata Makku Bapakku di culik, tapi tak tahu oleh siapa” kataku lagi, “Bukan kami yang menculik, kami orang baik, tak mungkin menculik orang sebaik bapakmu” Kata orang di samping Marjono. Ku eja nama orang itu SOFYAN. ”Bapak orang Jakarta ya ?’ tanyaku. ”Bukan, Bapak dari Bandung” katanya lagi. ”Dekat dengan Jakarta ?” tanyaku. ”Ya, dekat kenapa ?” tanyanya. ”Aku ingin ke Jakarta, siapa tahu Bapakku ada di sana” kataku. Mereka hanya tersenyum.
Sejak hari itu aku sering bercakap-cakap dengan mereka, apalagi tak lama setelah mereka datang ada rombongan membawa banyak makanan gratis, seperti yang ku lihat di televisinya Haji Husein. Kata si seragam hijau, makanan itu dari Jakarta. Beberapa hari ini televisi lebih banyak dikuasai oleh para orangtua, kami anak kecil tak bisa lagi menonton film, karena mereka lebih sering menonton berita. Oleh karena itu kami lebih memilih bermain di lapangan dekat rumah pak Haji. Para seragam hijau itu pun tampak ikut menonton televisi.
Suatu hari ketika para dewasa itu menonton televisi tiba-tiba saja mereka bersorak. Hari itu kami tidak sekolah. Pak Haji bilang hari ini libur. Tapi aku dan teman-temanku tetap datang ke rumah pak Haji maksudnya kami mau ikut nonton televisi, tapi ternyata di sana sudah banyak orang berkumpul.
Esok harinya banyak orang sibuk memasang bendera merah dan putih, Makku pun diberi satu oleh Pak Haji. “Mak, bukankah kalau pasang bendera itu nanti kita ditembak ?” tanyaku pada Makku. ”Sekarang tidak lagi Mutiah, sekarang kita sudah damai, tidak akan ada lagi perang di sini..” jawab Makku. ”Kalau damai kita boleh pasang bendera ya ?” tanyaku lagi, Makku menangguk. “Mak, kalau damai Bapak boleh pulang ?” tanyaku. Makku tak menjawab. Dia sibuk memasang bendera. Aku baru ingat besok 17 Agustus, kata Pak Haji tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan negara kita, INDONESIA. Maka esoknya bendera sudah terpasang di semua rumah di desaku. Si seragam hijau ikut sibuk membantu warga menghias desaku, ada lampion yang dibuat mereka.Ku tanya pada si seragam hijau, “Apa orang yang diculik akan pulang jika keadaan sudah damai ?” tanyaku. Marjono menjawab, ”Ya, mereka akan pulang, karena tak akan ada lagi perang, kita akan bersahabat dan sama-sama saling menjaga buka saling membuat takut, aku harap Bapakmu juga pulang..”. Aku senang sekali dengan jawaban Marjono. Maka aku segera berlari pulang. ”Mak, sebentar lagi Bapak pulang..” kataku sambil berlari menuju Makku.

ow….ow…ow…..
pertama yang aku pengen bilanx…..duh….nggak nyangka ternyata sisterku ini punya hobby yang sama kayak aku yupz…..cuman bedanya kayaknya…..kalau novel yang ane bikin sih……kata2nya nggak seberat ini yups…..
wah yang jelas, buat my sister……kewren buanged deh……
ni cerita soalnya……ngak aku sangka nggak aku sengaja lho…kok hampir mirip yupz ama yang aku bikin…duh sumpe teh akumah kagak nyontek kok…cuma niru hehehe
moga aja karena sehati yupz…..hehehehehehehe….n_n
LUV….U Banged tQu
buat abanx ipar……makasih banged yupz……dah jadi segalanya 4my sister……sumpeh bangx ane mah nyadar bener……dah nyusahin pikiran…..njelimet ruwet…mumet…..
yah doain ajah ane cepet dapet kerjaan so nggak nyusahin lagi yupz…..hehehehe……..
pokoke moga teteh en abanx dapet surga Allah….bareng2 ame…anak2……semua yupz…..