Dunia Yang Hilang

Seandainya waktu bisa diulang, mungkin aku lebih memilih untuk kembali pada saat anak-anakku masih sangat kecil, ketika mereka sangat membutuhkanku. Ketika mereka merengek minta dibelikan mainan baru, atau ketika mereka menangis manja. Aku ingin merasakan saat-saat itu. Sepertinya saat-saat itu hilang begitu saja dalam hidupku. Aku bahkan tak pernah tahu kapan anak pertamaku dapat melangkah atau mengucapkan kata yang pertamanya. Waktuku lebih banyak terbuang diluar rumah, dengan alasan turut membantu suami mencari nafkah.

Sekarang anak – anakku sudah dewasa, mereka sudah mempunyai keluarga sendiri. Dan keinginanku untuk dekat dengan mereka tentu merupakan hal yang agak mustahil. Aku baru sadar tiba-tiba saja waktu rasanya bergerak begitu lambat. Setiap hari kulihat kalender berharap besok adalah tanggal merah, dan berharap ada salah satu anakku yang menengokku. Tapi ternyata tanggal merah terus berlalu, anak-anakku rasanya jarang hadir. Shabrina anak bungsuku yang kini di Kalimantan terkadang menelponku menanyakan kabarku. Itupun sebenarnya cukup membuat aku lega. Aku kini sendiri bersama seorang pembantu setiaku yang juga sudah tua Sakinah.

Kadang aku iri pada pembantuku itu, jika anak tertuaku Handoko datang. Dia pasti menanyakan Bi Nah. Handoko pasti sangat sayang padanya, karena sejak lahir Sakinah lah yang mengurusnya. Bahkan setiap kali Handoko hadir dengan dua orang anaknya, Handoko lebih mempercayakan Marsya dan Marisa pada Bi Nah dari pada aku. “Biar Bi Nah yang jaga Marsya dan Marisa Bu, dia kan yang urus aku dan Dani semenjak aku bayi..” kata Handoko suatu hari ketika Susan istrinya sakit. “Tapi aku ini Ibumu Han, masa tak percaya pada Ibu..” Sergahku. “Bukan begitu Bu tapi ibukan belum pernah urus anak, ngurus anak itu berat Bu, perlu kesabaran..” jawab Handoko. Saat itu rasanya dadaku sakit sekali. Marsya dan Marisa memang lebih akrab dengan Bi Nah. Bahkan Bi Nah pun mereka panggil Nenek. Tapi memang harus kuakui aku tak tahu apa-apa soal bayi, ketika Handoko lahir, sepulang dari rumah sakit langsung kuserahkan Sakinah begitu pula dengan Dhanian. Hanya Shabrina yang sempat kususui selama 3 bulan, karena saat Shabrina lahir Sakinah harus pulang karena orangtuanya sakit. Maka Shabrina kuurus sendiri, tapi semenjak Sakinah kembali Shabrina pun kuserahkan.

Sebetulnya Suamiku tak setuju dengan pekerjaanku yang selalu menyita waktu seharian ini, tapi aku tak perduli. Toh, sebelum menikah pun aku telah menjadi seorang pengacara. Aku ingin mandiri, alasanku waktu itu. Aku tak ingin tergantung pada suami. Padahal penghasilan suamiku sebetulnya sudah cukup untuk kami. Suamiku adalah seorang dokter penyakit dalam. Beliau meninggal 2 tahun yang lalu. Bahkan pada saat kematiannya pun aku tak tahu, saat itu aku sedang di Belanda. Ketika aku pulang jenazah sudah terkubur. Aku hanya bisa menangis. Saat itu aku baru sadar betapa dunia ini begitu singkat. Dan saat itulah aku merasa sendirian. Dan mulai hari itu aku mengundurkan diri dari dunia kepengacaraan. Aku ingin mencari kedamaian sejati.

Semenjak itu aku sering sakit-sakitan, aku merasa aku adalah istri yang sangat tak berbakti. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku masak untuk suamiku. Aku bahkan tak ingat lagi kapan terakhir aku melayani suamiku sebagai seorang istri, aku merasa sangat menyesal waktuku lebih banyak habis diluar, walaupun dengan dalih sebagai seorang pengacara aku tidak mata duitan, aku pembela kaum papa, namun alasan itu tak membuat rasa penyesalanku hilang. Suamiku pergi dan aku tak melihatnya untuk terakhir kalinya bahkan untuk mensholatkannya saja aku tak sempat. Aku merasa saat itu waktu benar-benar berharga, aku ingin pulang dan menghabiskan waktuku bersama anak-anakku, itu janjiku saat itu, tapi aku baru sadar bahwa merekapun ternyata telah pergi meninggalkan aku. Mereka telah mempunyai keluarga sendiri. Maka sejak itu aku lewatkan hariku bersama Sakinah.

Bersama Sakinah aku melewati hari-hari tuaku, aku merasa kesepian. Mungkin begitu pula dengan Handoko, Dhanian dan Shabrina dulu, merekapun dulu pasti kesepian. Mereka saat itu pasti ingin agar aku bersama mereka disaat mereka membutuhkanku, sebagaimana kini aku ingin mereka ada. Bersama Sakinah aku melewati hari-hariku, Sakinah mengajariku membaca ayat-ayat al Qur’an untuk menenangkan jiwaku yang kering. Sakinah pula yang mengajariku bagaimana caranya sholat malam. Dan bersamanyalah kini aku sering menghadiri majelis taklim. Sakinah menuntunku menuju kedamaian sejati, disela-sela hari tuaku.

Sayup-sayup kudengar orang membaca ayat suci Al-Qur’an tak jauh dari tempatku. Ternyata anak-anakku sedang berkumpul mengelilingiku. Wajah mereka tampak sendu. Terutama Shabrina. Perlahan kucoba membuka mata. “Mami..” Shabrina memelukku. Ternyata aku sudah hampir satu hari tak sadarkan diri. “Mami, sehatkan ?” Dhanian mengusap keningku. Aku memandang sekelilingku. Aku di rumah sakit. “Mami..” Handoko mencium tanganku. Kepalaku berusaha keras mengingat mengapa aku ada di sini. Tiba-tiba aku teringat. Aku ingat saat itu sepulang pengajian aku dan Sakinah mampir kepasar karena Dhanian rencananya akan datang pada akhir pekan ini, maka kami berbelanja makanan kesukaan Dhanian. Sepulang dari pasar ketika akan masuk mobil tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang. Dan saat itu aku merasa berada dinegri angan-angan. ”Bi Nah ?”, Tanyaku. ”Shabrina memelukku dengan erat sambil menggeleng. Aku menangis. Sakinah meninggal karena menyelamatkanku.

Dua hari kemudian aku boleh pulang. Shabrina memintaku agar aku ikut dengannya ke Kalimantan, karena kini aku sendirian. Kedamaian sejati kini telah kutemukan, di balik celoteh Sharfina dan Rashad dua orang cucuku. Ketika pertama bertemu, Sharfina memamerkan kepandaiannya menghafal ayat-ayat pendek al Quran sedang Rashad diusiuanya yang baru dua tahun dia sudah hafal Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas. Aku merasa begitu hidup saat itu. Kini aku telah menemukan duniaku yang sempat hilang.

~ by husnaamin on April 18, 2007.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.