Nursari Agustina
Dera kemiskinan telah membuat aku munafik. Aku lebih suka menjadi orang lain daripada diriku sendiri. Aku lebih suka berpura-pura kaya daripada orang tahu kalau ayahku hanya seorang supir dengan gaji ngepas bahkan kurang. Aku lebih suka membayangkan jika aku ke sekolah naik mercedes padahal tiap hari aku harus menempuh sekolah dengan berjalan kaki, apalagi setiap sore hingga malam tontonan yang ku lihat gemerlapnya rumah mewah dan begitu enaknya jadi orang kaya, setiap sinetron yang kulihat aku cerna, perilaku orang kaya dalam layar kaca itu aku tiru, aku bisa seperti mereka koq…!!!
Maka setiap hari aku berbohong, mulai dari ketika aku masih memakai baju putih biru kemudian rokku berubah abu-abu dan kini aku ingin menjadi anak kuliahan. Tapi apa daya ayahku hanya seorang supir, mana bisa gajinya cukup untuk menjadikan aku seorang mahasiswa. Aku mengutuk mereka. Untunglah salah seorang saudara ibuku yang kaya menyanggupi untuk menyekolahkanku hingga sarjana. Maka pindahlah aku kerumah mewah itu, di sana baju pembantu yang nyuci, bangun tidur segelas susu, roti dan jus jeruk ada di meja, anak-anak mereka pulang pergi sekolah dengan supir bahkan satu anak satu pembantu. Aku yang hanya kemenakan, tidur didekat kamar anaknya yang usianya baru 15 tahun. Bajunya mahal-mahal, sekali belanja bisa jutaan rupiah melayang, padahal setahuku gaji ayahku yang supir baru setahun ini menembus angka sejuta. Sementara anak orang kaya itu dengan mudah minta sejuta hanya untuk beli baju. Puih…….aku gemas.
Saudara ibuku itu punya anak tiga orang, satu diantaranya perempuan. Anak itu sebetulnya manis padaku, dia selalu tersenyum jika bertemu. Tapi entah mengapa aku muak padanya. Dia pasti berlaku baik hanya karena kasihan padaku, fikirku, aku disini Cuma numpang. Aku orang miskin yang untuk sekolah saja harus minta pada ayahnya yang seorang pejabat tinggi itu. Aku muak dengan senyum anak gadis itu….muak…..
Hari-hariku dikampus adalah hari-hari kebohongan, aku mengaku sebagai anak pertama dari sang pejabat. Maka saat itulah mulai aku menipu orangtuaku pula. Aku sering berkirim surat bahwa aku malu jika semua keperluan sudah tante tanggung aku masih minta. Maka entah uang dari mana orangtuaku selalu ada saat aku butuh uang. Padahal uang itu ku habiskan hanya untuk sekedar bersenang-senang mengikuti arus zaman yang kupikir akan membawaku pada seorang pangeran tampan yang kemudian menjadikan aku permaisurinya, dan saat itu aku akan meludah didepan saudaraku yang sok kaya itu…..
Tanteku marah besar aku pulang subuh. Kata-katanya tajam menyayat hatiku. Tanteku menangis didepanku. ”Nur….kau kesini untuk ku sekolahkan, orangtuamu ingin kau jadi anak berguna… bukan jadi pelacur yang pulang subuh… bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu, aku malu pada ibumu, beliau itu kakakku…” Tanteku menangis. Omku menatapku. ”Masuk… kau dihukum tak usah ke kampus satu minggu ini, dan tanpa uang jajan…” suaranya matang. Aku masuk dengan wajah tak acuh. Kemarin malam aku menghabiskan waktuku di villa Susi temanku. Yang paling gawat Reno hampir saja menyentuhku, waktu itu sepertinya dia mabuk, tapi untung aku selamat. Tapi malam itu kami bersentuhan hebat hanya saja diriku masih utuh, aku belum siap !!!
Di kamar aku langsung tidur, suara Tanteku memanggilku untuk sholat aku acuhkan, ”Aku datang bulan tante…” jawabku bohong, keluarga kaya itu sholat subuh berjamaah di mushola keluarga lengkap bersama para babu dan supir.. heh……….
Ketika bangun matahari sudah tinggi, aku turun menuju dapur, si mbok menatapku curiga. ”Nggak usah ngeliat …” hardikku, si mbok meninggalkanku, sebuah roti ku sikat habis dengan segelas susu. Setelah itu aku tidur lagi. Malamnya tante dan omku masuk kamarku. ”Nur…. tante lihat kau semakin tak karuan… bukan sekali dua kali kamu pulang kelewat malam, dan kemarin akhirnya kau berani pulang subuh…. kau tak kasihan kami di sini yang khawatir padamu… bahkan Rianti adikmu itu tak bisa tidur sebelum kau pulang… kau dari mana…?” suara tante sebetulnya lembut tapi hatiku rasanya kesal mendengar gadis beruntung itu katanya mengkhawatirkanku, ”Aku dari rumah teman tante, ada tugas, harus selesai hari itu juga makanya aku kelupaan jadi kebablasan..” jawabku bohong. ”Kamu bisa dipercayakan Nur…. tidak bohong…” Tante menatapku. Aku diam. ”Oke tante percaya…. kalau begitu besok kau kuliah ya…. makanya kalau mau pulang telat telpon dong.. kan sudah tante belikan handphone…” Tanteku membelai rambutku. Aku diam. Sandiwara apa ini pikirku, mereka pura-pura baik.
Rianti Atmadja, itu nama sepupuku, dia menyandang nama Atmadja makanya tak heran kalau nilai sekolahnya bagus-bagus, guru-guru disekolah pasti tahu siapa ayahnya. Macem-macem bisa kena getah, fikirku, ketika tanteku memperlihatkan raport Rianti yang mayoritas sembilan kepadaku. ”Nur.. lihat Anti… raportnya bagus ya… ranking pertama…” tanteku bangga. Aku tersenyum seadanya. “Makanya karena Anti dan Dmitri nilainya bagus kita mau liburan ke Bali, Nur ikut ya……” tante mengajakku. ”Ah engga tante, aku mau pulang kerumah ibu….” Jawabku. ”Ikut saja Kak Nur… kita liburan…” Anti menatapku, Aku diam. ”Nggak pa-pa Anti… Kak Nurmu ingat ibunya… biar dia pulang, nanti juga kita ke Bali lagi, Kak Nur bisa ikut…” Tanteku menjawab Rianti. Aku langsung masuk ke kamar. Hatiku dongkol habis, enak betul jadi orang kaya liburan begini ke Bali huhhh…….
Tante memberiku uang untuk ongkos dan ada sedikit titipan untuk adik dan ibuku. “Salam untuk ibumu…. ya… lain waktu kita kesana..” Tanteku pamit, ”Tante baru pulang lagi tanggal 7, kita sepuluh hari di Bali…” Tanteku masuk ke mobil, keluarga itu pergi meninggalkanku sendiri di rumah besar ini, maka kini akulah tuan di rumah ini, entah mengapa dalam hati kecilku ada keinginan semoga saja mereka tak pulang lagi dengan demikian aku bisa tinggal di sini bersama keluargaku dan kita jadi orang kaya…!!!!
Mulai hari itu si Mbok ku suruh masak kesukaanku, dan supir harus selalu sedia mengantarku kemanapun aku mau, dengan ancaman tak boleh ada satupun yang mengadu….. karena aku yakin tanteku takkan percaya kata-kata pembantu. Uang tante untuk ibu aku habiskan hanya dalam selang waktu 4 hari setelah itu aku pinjam uang pada 4 orang pembantu itu, dengan ancaman tentunya.
Tanteku pulang, oleh-olehnya banyak sekali, foto mereka ketika berlibur tak ingin ku lihat. Ya… seandainya saja aku adalah Rianti mungkin aku akan melihat foto itu tapi aku adalah Nursari Agustina anak sopir yang numpang di rumah Pranowo Atmadja. Aku bukan Rianti Mahadewi, anak mereka. “Ibumu sehat Nur………..?” Tante menanyakan kabar kakaknya, ”Sehat Tante, salam dari ibu untuk Tante…” aku berbohong, ”Tante ada maksud minggu depan ke rumahmu, sekalian kasih oleh-oleh…” Tanteku tersenyum, ”Wah… nggak usah tante, biar Nur aja yang kasih…” kataku kalut, ”Kau kan baru pulang, capek Nur, tante juga rindu pada ibumu…” Tanteku tersenyum manis, ”Tante juga capek, biar nanti Nur telpon suruh Ibu yang kesini…” cegahku, ”Oh..iya betul juga Nur…suruh dia main ke Jakarta, sudah lama juga tidak main kesini, biar nanti ongkosnya tante ganti, bilang pada ibumu ya… oh iya… tante ada handphone punya om yang nggak ke pake biar untuk ibumu ya… supaya kita bisa komunikasi, biar nggak malu kalau nelpon harus numpang ke rumah tetangga terus…” Tanteku melangkah menuju kamarnya, dan kemudian memberikan pada ku sebuah kotak berisi Handphone, ”Kau kirim untuk ibumu ya…. ini ongkos kirim nya… ini kartu perdananya… sekalian..” tanteku memberikan semuanya, ”Jangan lupa suruh SMS tante kalau telponnya sudah keterima…” Tanteku kemudian berlalu. Aku menatap bingkisan itu dengan kesal, dasar orang kaya, masa ibuku dikasih bekas, lihat nanti kalau aku jadi orang kaya… ibuku pasti ku belikan handphone yang lebih bagus dari punya mereka.
Ku banting Handphone itu sekenanya, entah rusak atau tidak aku tidak peduli, aku nggak suka kalau ibuku selama ini cuma dapet barang bekas. Aku yakin suatu hari nanti aku akan dapat lelaki kaya yang kemudian menjadikan aku istrinya. Aku nggak perduli dia tua atau muda yang pasti harus Kaya !!!!
“Nur…sudah di kirim Handphone nya…?” Tanteku bertanya setelah sebulan berlalu dari kejadian itu. ”Sudah …” aku menjawab halus. ”Koq belum ada sms ya…. kau kasih pesan tante kan…?” tanya tanteku, ”Iya tante… sudah..” jawabku. ”Kalau gitu biar tante telpon lewat rumah tetanggamu ya… koq nggak ada kabar.. dari seminggu yang lalu tante coba hubungi nomor ibumu koq nggak aktif terus ya…?” Tanteku heran. ”Mungkin sibuk tante, lagi pula jangan telpon lewat orang kaya itu tante, dia suka menghina kita kalau numpang, biar nanti Nur kirim surat lagi… atau mungkin juga ibu nggak tahu cara memakai handphone itu” kataku bohong. ”Nur… minggu depan Ommu ada dinas ke Bandung, kita mau ikut, kau ikut ya… kita tengok Ibumu…” suara Tante membuat jantungku berhenti, aku segera berlalu…..waduh..!!!!
Hari yang ditakutkan datang. Kami, Om, tante, Dmitri, Rianti, Kamil, anak tanteku yang baru berumur 2 tahun itu menuju Bandung, seorang suster penjaga Kamil ikut. Kami langsung menuju rumahku yang ada diujung gang, di sebuah daerah yang sangat kumuh, letaknya sih di pusat kota Bandung, tapi berada dipinggir kali yang cukup jorok, sehingga pemandangan dari jendela kamarku adalah air kali yang kotor dan bau, masuk ke gang rumahku orang-orang berkerumun, mereka seperti menyambut raja yang datang, silih berganti memeluk tanteku, dan anak-anaknya. Aku sibuk berfikir dan takut jika kebohonganku terbongkar.Tapi rupanya tanteku lupa tentang segalanya, begitu bertemu ibu, mereka sibuk bercengkrama. Agak siang mereka pulang ke hotel berbintang lima sementara aku diam di rumah penyot yang jika hujan semuanya bocor.
“Kau baik-baik saja di sana kan Nur..” ibuku menatapku. Aku cemberut, ”Jangan macem -macem ya… bikin malu om mu nanti… dia itu pejabat…” suara ibuku terdengar nyaring, ”Mereka itu banyak membantu kita… jangan bikin onar di Jakarta…?” ibuku mengulang, ”Bu… ya… mereka itukan saudara kita, kalau kita susah ya wajib dong di bantu, tapi aku nggak mau kalau harus menyembah…” jawabku ketus, ”Ya… nggak dong Nur… yang disembah itu cuma gusti Allah, ibu cuma ingin kamu sopan, jaga pergaulan jangan bikin ribut…. mereka itu keluarga terpandang…” ibu masuk ke dapur. Aku kesal setengah mati. Esoknya aku dijemput supir untuk menuju hotel. Aku dan ibu dijamu makanan hotel. Pulangnya ibu diberikan makanan enak dan sedikit uang untuk adik-adikku dan bapak. Kami pulang malam itu juga ke Jakarta, Omku di nanti banyak pekerjaan di sana. Sepanjang perjalanan kakak beradik Dmitri dan Rianti sibuk bercengkrama, sementara Kamil pulas di pangkuan suster.
Sudah dua bulan ini aku kenal seorang lelaki Yudhi namanya, perawakannya guanteng !!! Aku kenal dia ketika sedang nongkrong di Kafe. Waktu itu aku bersama empat orang temanku sedang bercengkrama, ketika dia masuk, waktu itu aku langsung terpesona. Kayanya sih dia orang kaya, dari merek baju, dan sepatunya sekali lirik aku tahu kalau harga baju itu bisa jutaan. Waw……..
Rupanya pertemuan kami saat itu tidak sekali dua kali, karena aku memang sering nongkrong di sana, maka karena seringnya ketemu akhirnya kami kenalan, waktu itu aku sedang sendirian menunggu teman – teman geng ku datang, tiba-tiba dia menghampiriku, ”Sendirian…. mana teman-temanmu yang lain….?” Tanyanya sambil mengulurkan tangan, ”Yudhi… lengkapnya Yudhistira… Pratama…” dia tersenyum manis sekali, “Boleh aku menemani sebelum mereka datang…?”. Yudhi menatapku, aku mengangguk setuju, sejak saat itu kami sering bertemu, aku semakin yakin dia anak orang kaya atau paling tidak dia eksekutif muda sukses, mobilnya saja mercedes keluaran anyar, sekalinya nraktir aku dan geng ku bisa habis hampir sejuta… waw…. ini dia pangeranku….!!!!
Yudhi bercerita padaku, ayahnya adalah seorang pemilik perusahaan rekanan pembuat jalan tol, katanya sih jalan tol padaleunyi itu perusahaan ayahnya turut ambil bagian, sementara itu dia sendiri diserahi bisnis hotel di Bandung. Dia anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya sudah menikah dengan seorang bule dan sekarang tinggal di Jerman, sementara adiknya katanya seorang pilot disebuah penerbangan BUMN. Wah keluarga bonafit nih……. Aku memperkenalkan diriku sebagai Nursari Agustina Atmadja, ayahku Pranowo Atmadja. Yudhi terbelalak waktu kusebut nama omku itu, ”Waw… tak sangka kau anak… seorang pejabat penting negri ini..” Yudhi menatapku, aku tersenyum. Pertemuanku dengan Yudhi kadang kala menghabiskan seluruh waktuku hingga aku sering bolos kuliah. Aku jatuh cinta…!!!!
“Aku ingin ketemu ayahmu… Nur..” suatu hari Yudhi memintaku, aku kaget. ”Waw… nggak bisa begitu dong Yud… beliau kan sibuk… mau ketemu ya.. mesti janjian…” jawabku. ”Aku ingin bilang pada beliau bahwa kita serius…” katanya. ”Yud… kamu yaqin…. kamu serius sama aku…?” tanyaku dengan pandangan penuh. ”Lho.. iya dong sayang… aku serius…” selepas percakapan itu disebuah hotel di kawasan puncak, aku serahkan semuanya pada Yudhi. Aku tak menyesal toh ku anggap itu sebagai pengikat agar dia tak menjauh dariku.
“Nur… kamu semakin tak bisa diatur… jika begini terus sebaiknya kau pulang ke Bandung, dua hari kamu tidak pulang… dari mana Nur…. Tante sampai tanya sama dosenmu, dan ternyata sudah hampir dua bulan ini kamu tidak kuliah…. kamu keterlaluan Nur…” tanteku menangis. ”Pulang Nur.. pulang saja ke Bandung… tante bisa mati… jika kamu begini, tante tadi sudah telfon ibumu, dia dalam perjalanan kemari, berbenahlah…” tanteku meninggalkanku sambil menangis. Aku hanya diam.
Habis Magrib ibu datang, matanya basah. ”Nur….. kamu kelewatan…” sebuah tamparan mendarat dipipiku. ”Kita pulang sekarang, bikin malu…” Ibu menyeretku pulang. Diantar supir Tante kami menuju Bandung. Tante memohon maaf pada ibuku ketika kami pulang mereka berangkulan, ibukupun sebaliknya.
Ibu dan Bapak mengomeliku bergantian, aku hanya diam. Aku muak…. bosan….!!!. Aku menelpon Yudhi mengatakan kini aku di Bandung, kos di sebuah gang kecil, karena aku harus bikin makalah tentang kawasan kumuh di Bandung. Yudhi percaya, hubungan kami berlanjut. Ibuku ku beritahu bahwa aku ada hubungan khusus dengan seorang lelaki kaya yang siap menikahiku. Ibu terlihat gembira. ”Bu… tenang saja… sebentar lagi kita nggak tinggal di rumah ini, rumah kita nanti jauh lebih bagus dari rumah tante di Jakarta, ibu mau nginep di hotel gampang… orang Nur koq yang punya hotelnya…” kataku pada ibu, ibu mengangguk-ngangguk tak percaya. ”Besok Nur bawa dia kesini ya… ibu pasti nggak percaya, orang-orang di depan gang kita ini Bu.. akan heran… ada mobil mercy parkir didepan gang… dan dia itu calon suami Nur…” aku bangga. Ibuku hanya mengangguk. Besoknya Yudi datang menjemputku, dia sama sekali tak tahu kalau ibuku itu adalah ibu asliku, hanya basa-basi sebentar lalu kami pun pergi. Tetanggaku ternganga aku menggaet lelaki kaya dan tampan. Aku mencibir pergi.
Kami menuju puncak bermalam tiga malam di sana, Yudhi melayaniku dengan cinta, kami bagai raja dan ratu saat itu. Kejadian itu semakin sering terjadi hingga akhirnya aku hamil. “Yud… aku telat nih… dua minggu…” kataku padanya. ”Yudhi menatapku. ”Ngga pa-pa… aku bertanggung jawab koq…” katanya yaqin. ”Tapi kita harus menikah secepatnya…” jawabku, aku merasa umpanku di makannya bulat-bulat. ”Baik…” kata Yudi tenang. ”Orangtuamu setuju kan kamu menikah denganku…?” tanyaku. ”Nggak usah kasih tahu dulu mereka, sebetulnya mereka ada calon anak orang kaya yang jauh lebih kaya dari orangtuamu, oleh karena itu kita menikah di depan orangtuamu dulu aja, dan jangan besar-besar dulu ya… biar nanti kalau kita sudah menikah secara agama kita pulang ke rumah orangtuaku… setelah itu baru pesta besar-besaran…” Yudi memandangku. Aku setuju saja, maksudku juga demikian. Aku justru takut jika mereka tak setuju duluan. ”Kita kawin agama dulu aja, kawin siri biar nggak usah repot-repot ngurus surat-surat kan lama, sementara perutmu itu nggak bisa disembunyikan…” Yudi memberi saran. Aku tersenyum saja. ”Ayahmu tahu kamu hamil…?” Yudhi menatapku. ”Ah engga…. orang-orang di rumah kan sibuk… mana tahu aku begini,… yang penting kita segera kawin ya…” kataku manja. Yudhi tersenyum pasti.
Kami memutuskan menikah minggu depan. ”Yud..kita menikah di tempat kos aja ya… soalnya jika menikah di Bambu apus berabe nanti bisa jadi gosip… bisa ketahuan kolega ayahku.. berabe, masa anak Pranowo Atmadja menikahnya kelewat sederhana” kataku memberi alasan. ”Aku setuju aja….” Yudhi tersenyum. ”Ayahmu nggak ingin ketemu aku dulu Nur…?” Yudhi menatapku, ”Ah..nggak usah…aku udah meyakinkan ayahku koq… pokoknya tetap pada rencana kita menikah siri di tempatku tiga hari lagi jam 7 malam, jangan mencolok ya… waktu masuk gang itu…. kalau bisa sendirian aja, jangan bawa teman, urusan saksi aku semua yang urus… kamu tinggal datang..” kataku menerangkan. ”Tapi selepas akad nikah kita langsung ke rumahmu ya…” kataku, ”Kenapa tidak ke Jakarta…?” Yudhi mengeryit. ”Waduh.. kamu gimana sih… kita kan kawin sembunyi-sembunyi.. koq pulang ke sana sih, ya… nanti ketahuan dong, ini juga buat sementara, kalau orangtuamu sudah setuju, mereka kan bisa ketemu papaku setelah itu kita baru kawin resmi.. dan besar – besaran, lagi pula setelah menikah nanti kita bisa tinggal di rumah papaku yang di Bintaro koq disana kosong..” jawabku bohong. Yudhi mengangguk setuju.
Ibuku membelikanku sebuah kebaya putih dengan bahan lumayan, ibu menjahitkannya sendiri khusus untukku. ”Koq cepat begini urusannya Nur….” Ibuku memandangku. ”Nggak pa pa Bu nanti juga Nur pestakan perkawinannya, sekarang ini Yudi belum bisa…. yang penting selamet Bu… do’ain Nur ya…” kataku sambil mencoba kebaya pengantinku. ”Kamu gemuk Nur..” ibuku menatapku. Aku segera berlalu. ”Apa nggak difikirkan lagi Nur…. koq kawin nggak ada KUA nya…?” tanya ayahku. ”Ah… Bapak… Nur bilang juga ini cuma buat sementara, nanti kalau semuanya udah siap kita kawin pake KUA, sekarang pake penghulu aja, kita kawin siri, karena niat baek koq Pak….” kataku kesal. Bapak diam sejenak, ”Bapak koq nggak enak hati Nur… Bapak belum kenal calonmu itu, mana minta kawinnya koq dadak…” suara Bapak pelan. ”Pak.. percaya Nur dong… Nur kenal baik siapa Yudhi.. pokoknya Nur minta restunya aja…. ya… pak… tolong jangan dipersulit… ini juga buat kebaikan semuanya koq…” kataku panjang lebar. Bapak diam, beliau menatapku dalam – dalam. ”Sing slamet Ndok…” katanya sambil memelukku. Aku menangis.
“Bu… jadikan Om Pran kesini jadi saksi perkawinanku…?” tanyaku pada ibu. ”Ya… jadi tapi Om Pran bilang apa tidak sebaiknya menikah resmi saja….” ibuku menatapku. ”Bu… bilang sama Om pran jangan ikut campur urusan orang…. sirik aja…” aku ketus. ”Yudhi udah pernah ketemu Ommu kan…?” ibuku bertanya. ”Ya.. udah bu… orang dia sering jemput Nur koq, Om Pran itu sirik Nur kawin sama orang kaya, padahal si Anti itu belum tentu dapet orang kaya…” jawabku. Ibuku diam.
Sehari sebelum menikah aku menelpon Yudhi. ”Yud.. jika aku bukan anak Pranowo Atmadja kamu cinta aku kan…?” tanyaku serius. ”Aku cinta kamu seutuhnya…” Yudhi terbahak. “Syukurlah kalau begitu, kamu jangan matre ya….” jawabku. ”Nur… gimana aku matre, selama ini yang bayar kalau kita jalan kan aku, pernah nggak aku minta kamu, lagi pula Nur sudah kubilang ibuku punya calon yang lebih kaya dari orangtuamu, tapi ku tolak, aku cinta mati sama kamu…” Yudhi meyakinkanku. Ada tetes embun yang dingin di hatiku aku lega. Omku datang beserta tante tanpa anak-anak, yang jadi saksi dari pihakku adalah Om Pranowo, sedangkan Om Fadil yang juga kakak ibuku jadi saksi dari pihak Yudhi. Yudhi datang berdua bersama seorang temannya bernama Agung. Bajunya rapi sekali. Dia membawa bungkusan kecil. Itu pasti mas kawin untukku.
Ijab kabul berjalan lancar, hanya saja Yudhi sempat bingung ketika disebutkan namaku Nursari Agustina binti Sumiran. Tapi ijab kabul tetap berlangsung. Setelah acara sungkeman. Yudhi menarikku. ”Siapa kau ini Nur….?” suara Yudhi tercekat. Aku hanya tersenyum, sesuai rencana setelah akad nikah kami langsung menuju Sukabumi yang katanya villa keluarga Yudhi berada. Kamipun berpamitan. Dalam mobil Yudhi diam seribu bahasa. Wajahnya tampak berkeringat. ”Kau bohong padaku Nur…” akhirnya suaranya keluar. ”Lho bohong bagaimana Yud… kemarinkan aku tanya sama kamu, bagaimana jika aku bukan anak Pranowo Atmadja, kamu masih cinta sama aku, kamu jawab, cinta mati… koq jadi bohong…” kata sambil tersenyum. Yudhi diam. Laju mobilnya semakin kencang. Mendadak berbelok cepat. Kemudian berhenti mendadak. ”Turun…” katanya. Aku ikuti katanya. Kami berhenti disebuah gedung yang bertuliskan ”Rental Mobil : Be The Best”. Aku bingung. Yudhi menyerahkan kunci mobil, kemudian dia mengambil koperku di bagasi. ”Kita naik angkot sekarang…” suaranya datar. Aku kaget setengah mati. ”Yud… gimana ini…?” tanyaku, kufikir dia bercanda. ”Itu mobil sewaan…” Yudhi datar. ”Dan cincin berlian itu aku pinjam dari temanku, sebaiknya kau kembalikan..” Yudhi merampas cincin itu dari jariku. Aku bingung. Kami naik bis menuju Sukabumi. Di sebuah jalan besar persimpangan kami turun. Dari sana kami berjalan kaki. Kemudian tiba disebuah rumah mungil yang tampak asri. Sepanjang jalan itu kami diam. Yudhi mengetuk pagar tumah itu, seorang perempuan tua keluar wajahnya pucat. Kamipun masuk.
“Ini rumahku Nur…” Yudhi mempersilakanku masuk. Rumah itu mirip rumah ibu, di ujung gang dan kumuh. Aku duduk sambil bingung. ”Ini ibuku… ayahku sudah meninggal 7 tahun yang lalu… kita sama Nur orang miskin…” suara Yudhi datar. Aku semakin bingung. Wanita tua itu duduk di sampingku. ”Apa maksudmu Yud… dia sama-sama miskin…?” suaranya parau sekali. ”Dia bukan anak Pranowo, dia anak sumiran, anak supir…” Yudhi berat. ”Maksudmu dia menipumu…?” wanita itu bangkit. Yudhi tersenyum kecut. Aku duduk ketakutan. ”Jadi kau bawa wanita ini untuk apa…?” suara wanita itu meninggi. ”Tenang Bu… dia itu masih ada hubungan dengan Pranowo Atmadja, dia itu keponakannya, kita bisa peras Pranowo lewat dia… aku sudah fikirkan itu di jalan..” Yudhi menatapku. ”Besok rencanaku akan ku ceritakan pada ibu, sekarang aku istirahat dulu. Nur.. kamu tidur di sofa dulu ya……….” Yudhi tersenyum sinis.
Aku ingin menangis sekuat-kuatnya, aku ingin kabur tapi ke mana, ke rumah ibu, itu namanya bikin malu, lalu kemana…..? Malam itu aku tidak bisa tidur sedikitpun, berkali – kali ingin ku hubungi ibu lewat handphone, tapi malam-malam begini masa mau bangunin tetangga. Aku hanya diam, sedih, bingung. Paginya wanita itu menyuruhku mencuci baju setumpukan, setelah itu mengepel lantai, aku belum sarapan sedikitpun. Tiba-tiba perutku rasanya mulas sekali, dan ternyata bajuku penuh darah, tak lama kemudian aku pingsan. Aku keguguran.
Yudhi membawaku ke rumah sakit, aku tak tahu kejadiannya bagaimana, tapi saat aku siuman ibu, bapak, tante Farida ada di situ. ”Nur…..” ibuku memelukku, aku menangis sejadi-jadinya. Ibu tak bertanya ada apa dan mengapa. Ongkos rumah sakit di tanggung Tante Farida. Setelah seminggu di rumah sakit aku diperbolehkan pulang. Yudhi tak pernah lagi menemuiku, dia pergi….. aku menangis sendiri……. ”ibu… aku mau pulang……” aku memeluk ibuku dengan erat.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.