Hari Ini Ibu Pulang

Sudah berapa lama ya… aku tak pulang kampung…? Seakan bertanya pada diriku sendiri. Aku melihat kalender meja didepanku. Tanganku menghitung bulan demi bulan bahkan kini mungkin tahun pun sudah harus ku hitung. Seingatku aku baru pulang ke kampungku, ketika lebaran 2 tahun yang lalu. Saat itu aku pulang karena rindu Bapak. Kasihan Bapak jika Lebaran aku tak datang. Aku kan anak perempuan satu-satunya. Kalau Lebaran aku tak datang Bapak pasti murung. Dua tahun yang lalu pulang menemui Bapak adalah keharusan, bahkan tak hanya lebaran, bisa saja aku pulang dalam satu bulan 2 kali. Aku selalu rindu Bapak. Dia selau memberikan kasih sayang yang aku tak sempat rasakan dari ibu. Bapak selalu ada kalau aku butuh. Aku anak perempuan satu – satunya Bapak. Masku (Kakak Laki – laki) tiga orang. Waktu kecil aku mirip lelaki, maklum permainanku sama dengan ketiga masku. Waktu aku berumur 8 tahun orangtuaku bercerai. Pengadilan memutuskan kami ikut Bapak. Mauku pun begitu, Bapak itu orangnya baik, walaupun pekerjaan Bapak banyak, beliau tak pernah lupa menyapa kami. Lain dengan ibu….

Sejak bercerai bahkan aku hanya bertemu ibu jika lebaran, ibu menikah lagi hanya selang beberapa waktu setelah bercerai dengan Bapak. Setelah itu yang ku tahu ibu ikut suaminya yang katanya diplomat keluar negeri, maka sejak itu komunikasi hanya lewat telpon. Zaman dulu belum ada internet. Telpon pun semakin jarang menginjak aku sekolah menengah. Kadang dua bulan sekali ibu baru menanyakan kabar kami. Ibu memiliki 2 orang anak dari perkawinannya dengan sang diplomat. Tapi aku tak begitu kesepian walau ibu jarang menelpon, aku merasa Bapak sudah begitu cukup memberiku segala perhatiannya, oleh karena itu walaupun Bapak bekerja dari pagi hingga sore bahkan malam, tapi cara Bapak meluangkan waktu selalu ada, aku sering dijemput Bapak dari sekolah, kemudian kami makan siang bersama, setelah itu bapak kembali bekerja, atau diakhir pekan Bapak selalu minta izin kami jika beliau ada urusan, sehingga aku merasa aku bagai keluarga utuh. Belum lagi Eyang putriku yang sejak orangtuaku bercerai memilih tinggal bersama kami, tapi menginjak sekolah menengah atas eyang putri meninggal, setelah itu benar-benar Bapak yang jadi orangtua bagi kami.

Menjelang dewasa, ketiga masku pun satu persatu meninggalkan kami. Mas Adhi Pradana menuju Bandung untuk kuliah di ITB, Mas Dwi Prawira menuju Jakarta untuk kuliah di UI, dan Mas Dirgantoro menuju magelang karena masuk AKABRI, maka sejak itu akulah yang menemani Bapak. Aku milih kuliah di UGM biar dekat Bapak, kasihan kalau Bapak harus ku tinggal.

Satu persatu kakakku berkeluarga, Mas Adhi menikah dengan orang Bandung, setahun setelah bekerja, Mas Dwi menikah dengan orang Jawa kini tinggal di Malang, Mas Dirgantoro kini tinggal di Medan, dan menikah dengan orang Aceh. Dari mereka Bapak punya 6 orang cucu, masing-masing masku memberinya 2 orang. Cuma Aku yang belum menikah, padahal masku dulu di usia seperti aku sudah punya anak. Aku begitu lulus dari fakultas hukum UGM, ternyata harus meninggalkan Bapak, aku ke Jakarta karena lamaranku pada sebuah firma hukum ternama diterima. ”Pak… Aku mau jadi pengacara di Jakarta…. do’akan aku ya….” Pamitku ketika itu, sejak itu Bapak sendirian. Bapak tak mau diajak salah satu masku untuk ikut tinggal bersama, “Bapak di Jogja saja…. supaya kalian kalau lebaran ada tempat mudik… lagi pula kalau Bapak ikut kalian disana Bapak nggak ada kesibukan, kalau disini kan Bapak ada usaha kecil-kecilan, ada teman…. nggak pa-pa… kalian sudah dewasa, Bapak bisa koq urus diri sendiri, ya… kalau Bapak kangen kalian, Bapak berkunjung…..” Bapak selalu menolak jika diajak untuk menetap ditempat lain. Masku yang tinggal di Malang yang paling sering menengok Bapak, begitu pula aku, sebulan bisa dua kali aku pulang. Kalau pulang Bapak sering ku ajak jalan – jalan, keliling Jogja, setelah itu aku pijit Bapak hingga tidur, barulah esoknya aku pulang ke Jakarta. Setiap kali akan meninggalkan Bapak aku masih seperti anak kecil, aku selalu tergugu menangis dipundak Bapak.

Waktu itu dua hari setelah lebaran, Masku masih ada semua, keluarga kami sedang berkumpul, sehabis sholat subuh, aku ingat betul saat itu, Bapak baru saja minum the manis kesukaannya dan beberapa potong pisang goreng. Tiba-tiba saja Bapak Masuk kamar untuk tidur, sebetulnya waktu itu kami semua agak aneh, tak biasanya sehabis sholat subuh Bapak tidur lagi. Tapi kami fikir Bapak capek. Beduk dzuhur sudah berkumandang, Bapak tak juga bangun, akhirnya kuputuskan untuk membangunkan bapak, ku ketuk sekali dua kali Bapak tak menyahut, aku khawatir sekali, Mas Adhi mendobrak pintu, dan disitu terlihat Bapak seperti orang sedang tertidur pulas sekali, waktu itu aku menyangka Bapak masih tidur, tapi ketika kupegang kakinya begitu dingin saat itu tubuhku lemas…. aku tak sadarkan diri.

Suara orang ramai membaca ayat suci menyadarkan ku, saudara-saudaraku mengelilingiku, mata mereka basah. Aku bangkit dan menatap Bapak yang sudah siap untuk dimandikan. ”Ikhlas Nduk…..” suara Mbo Nah pembantu kami yang juga turut merawat Bapak selama ini terdengar lemah ditelingaku. Aku bangkit kemudian duduk sambil membaca segala do’a untuk Bapak. Hari itu juga Bapak dimakamkan. Hari itu juga aku tak lagi punya Bapak. Rasanya baru beberapa jam yang lalu kami masih bercengkrama dengan Bapak. Kini aku merasa begitu sendirian, tapi air mata tak bisa sedikitpun keluar.

Sejak itu aku tak pernah pulang, rumah di Jogja sudah kami jual, Mbo Nah ikut aku ke Jakarta. Maka rutin sebulan dua kali menuju Jogja pun kini tak ada, jika akhir pekan tiba, aku memilih di rumah bersama Mbok Nah belajar bikin kue, atau mengikuti pengajian mingguan di dekat rumah. Atau kadang ke rumah salah satu Masku. Waktu rasanya berjalan lambat.

Suara ketukan pintu terdengar. ”Ada apa Mbok……….?’ Tanyaku, Mbok Nah masuk. ”Ada gempa Non…..” suara Mbok Nah parau. ”Dimana…” tanyaku, ”Di Jogja…” Mbok Nah menjawab. Aku bangkit dan segera menyalakan televisi. Saat itu juga aku terhenyak. Aku segera menelpon semua abangku. Mas Dwi di Malang ternyata merasakan gempa hebat itu juga, tapi tak ada yang terluka. Mendadak aku ingat ibu, waktu Bapak meninggal Ibu pun tak hadir, tapi setahuku sejak aku kuliah ibu telah kembali menetap di Jogja atau di Klaten tempat nenek dulu. ”Mbok Nah…. kalau ibu sekarang dimana ya….?” Tanyaku lemas. Mbok Nah duduk disampingku sambil menijat pundakku, “Sebetulnya itu lah yang Mbok khawatirkan Non…. Juragan istri….” Si Mbok menatapku, ”Memang Ibu sekarang di Jogja ya Mbok…?” tanyaku, ”Setahu Mbok begitu, Non… katanya selepas bercerai dengan Pak Joyo yang diplomat itu ibumu kembali ke Jogja, kemudian tinggal di Klaten, bekas rumah Eyang putri dulu…” Si Mbok menatapku, ”Kenapa ibu tak pernah menghubungi kami lagi … setelah ibu bercerai hingga pindah lagi ke Klaten…?” tanyaku,”Si Mbok..ya baru tahu ketika kemaren ada anak si Mbok dari kampung datang….” Jawab Mbok Nah, ”Jadi waktu Bapak meninggal, Ibu sudah di Klaten…?” tanyaku, ”Ya… belum masih di Jogja, waktu itu masih sama Pak Joyo, eh kemudian Pak Joyo punya istri muda, ibumu minta diceraikan, setelah itu ibumu pulang ke Klaten, kedua anaknya ikut kesana… tapi ibumu minta agar kalian tak diberi tahu, biar nanti juragan istri bilang sendiri….” Si Mbok cerita panjang lebar. Aku termangu. Sejak SMP ibu seolah menghilang. Telpon, surat, bahkan saat lebaran ibu jarang berkunjung. Bahkan menurut Eyang Putri di klaten, jangankan pada kami, pada Eyang putri pun ibu tak ada kabar. Aku bangkit dan segera menelpon kerabatku di Jogja. Tapi tak ada satupun yang berhasil ku hubungi.

Aku hubungi Masku, dan kuterangkan keadaan sebenarnya tentang Ibu. Sejak saat itupun pencarian ibuku dimulai. Klaten rupanya merupakan daerah yang mengalami kerusakan cukup parah. Esoknya ketiga Masku menuju Jogja, untuk mengetahui kabar ibu kami. Aku menunggu dengan cemas di Jakarta, satu persatu kerabat dapat dihubungi, syukurlah semua selamat, hanya ada seorang Pak Le ku yang tangannya patah kini dirawat di rumah sakit, beberapa sepupuku memilih menuju Jakarta untuk tinggal bersamaku untuk sementara.

Mas Dirgantoro menelponku tengah malam sekali, ”Kirana….. kita bingung mau cari ibu dimana, ternyata rumah Eyang yang dulu sudah dijual, kata para tetangganya ibu baru pindah dua bulan yang lalu, tapi entah kemana, tapi diperkirakan sekitar Klaten juga… soalnya Dewantoro anaknya masih sekolah disini…. coba kau tanya Mbok Nah… informasi lebih lanjut…” Mas Dirgantoro mengakhiri telponnya. Mbok Nah cukup beruntung menurut kabar dari kampung, hanya rumah milik keluarga saja yang hancur, tapi tak ada satupun sanak saudaranya yang jadi korban.

Esok paginya ku tanya Mbok Nah tentang ibu. Tapi Mbok Nah hanya tahu sampai disitu, sejak rumah Eyang dijual Mbok Nah tak tahu ibu kemana. Fikiranku kalut saat itu, aku memutuskan untuk tak masuk kerja. Maka setiap saat aku dan para kerabat yang ada di rumahku senantiasa memohon akan keselamatan ibu.

“Ki.. ki….. sini….” suara seorang sepupuku memanggilku. ”Ada apa…?” aku bergegas menuju televisi. Aku nyaris tak percaya dengan apa yang ku lihat, seorang wanita tua berbalut perban di kepalanya, sedang diwawancara seorang reporter. Dalam wawancara itu jelas terdengar kalau wanita itu bernama Kiraniah, nama yang sama dengan ibu. Dan wanita itu menyebut nama Adhi, Dwi Prawira, Dirgantoro dan Kirana sebagai anaknya. Diakhir wawancara itu wanita tua itu meminta agar dapat bertemu dengan kami. Aku terhenyak. Duduk. Menangis sejadi-jadinya. Pratiwi sepupuku memelukku erat. Segera kukabarkan ketiga masku tentang tayangan itu. Kami memutuskan untuk segera menuju Klaten. Ibu ada disalah satu barak pengungsi di situ.

Suasana Klaten tak seperti yang kubayangkan. Aku lebih sering menutup mataku dengan kedua telapak tanganku, aku tak sanggup melihat keadaan seperti itu. Menjelang Maghrib kami sampai di tempat ibu. Menjelang menemui ibu hatiku rasanya tak karuan, Mas Dirgantoro memeluk pundakku erat. Kedua Masku mendahului kami di depan. Seorang kru televisi yang mewawancarai ibu kemarin jadi penujuk jalan. Semakin mendekat keringatku makin deras. Aku tak tahu perasaan seperti apa yang ada dalam hatiku saat itu. Seorang wanita tua, berpakaian lusuh dengan luka di sana – sini, perban membalut kepalanya, tangannya ada jarum infus, tertidur pulas. Kedua Masku duduk disampingnya. Aku duduk dibelakang mereka, mataku basah. Entah apa yang dirasakan ketiga Masku. Mata wanita tua itu perlahan terbuka, Mas Adhi bangkit, diikuti kami bertiga. Wanita itu menatap ke arah kami, dia memandang ke sekeliling. ”Bu…..” Mas Adhi memeluk Ibu, diikuti oleh kami. Wajah itu sudah lagi tak seperti dulu, entah kemana kecantikan ibu yang dulu, entah kemana, yang ada sekarang hanya wanita tua yang lusuh.

Ibu duduk dibantu seorang perawat. Wajah itu tak lagi seperti yang kuingat. Sekarang sudah banyak garis-garis beban hidup di wajahnya. Namun sisa – sisa kecantikannya masih ada. Kami terus berpelukkan. Ibu membelai kami satu persatu, hal yang tak pernah dilakukan ibu ketika kami kecil dulu. Masku memutuskan membawa ibu kerumah sakit di Malang. Sepanjang perjalanan, kami hanya membisu. Entah apa yang bergejolak di hati kami saat itu. Ibu tertidur sepanjang perjalanan. Dari orang-orang di sekitar ibu diketahui kalau kedua anak ibu meninggal tertimpa reruntuhan rumah mereka, hanya saja ibu belum tahu, kami pun sempat menengok makam keduanya, sebelum memutuskan menuju Malang. Sesampai di Malang, ibu segera diperiksa lebih lanjut, untunglah kondisi ibu tak begitu parah. Menurut dokter sehari dua hari lagi ibu boleh pulang.

Di rumah mas Dwi kami bermalam, tak satupun dari kami yang menyinggung tentang ibu sesampainya di rumah, kami semua sepertinya mempunyai fikiran sendiri – sendiri tentang masalah ini. Ketiga Masku langsung menuju peraduan. Aku diam menatap foto keluarga yang terpajang di dinding rumah mas Dwi, ada aku, Bapak, Mas Dwi waktu diwisuda sarjana, Mas toro dan Mas Adhi. Semuanya tersenyum bahagia, tanpa ibu !! Aku tak bisa tidur, fikiranku kalut. Apa ketiga Maskupun sudah tidur….? Aku bangkit mengambil air wudhu dan sholat. Menangis aku dalam sajadah hijau itu, aku tergugu sendirian.

Hingga menjelang adzan subuh aku belum terpejam. Aku ingin ketemu ibu, aku ingin tahu apa saja yang terjadi pada diri ibu selama ini Aku segera menuju kamar mandi. Ketika kubuka pintu kamar suasana rumah tampak berbeda, banyak orang disana.”Sudah bangun Ki….” Mas Dwi tersenyum, “Ayo sini…. aku perkenalkan pada tetanggaku” Mas Dwi membimbingku. Rupanya para tetangga tahu kejadian yang menimpa ibu kami, mereka datang untuk mengucapkan simpati.

Setelah bersilaturahmi sebentar aku dan Mbak Roro istri Mas Dwi menuju rumah sakit, untuk menjemput ibu. Menurut Mas Adhi yang katanya semalam kembali ke rumah sakit, dokter mengijinkan ibu pulang hari ini juga. Maka kerumunan orang di rumah Mas Dwi itu akan menyambut kepulangan ibu yang memang benar-benar tak pernah pulang. Kaku rasanya melayani ibu ketika itu, maklum aku tak terbiasa, bahkan aku tak tahu harus bagaimana, maka dari itu aku diam saja dari jauh, Mbak yu Roro dan Mas Toro yang membereskan semua. Ibu Pulang, wajahnya terlihat rapi dengan baju pemberian Mbak Yu Roro.

Orang-orang di rumah menyambut ibu, bahkan ada salah satu stasiun televisi yang dulu mewawancarai ibu turut merekam acara itu, bos mas Dwi pun hadir saat itu, kepulangan ibu sangat meriah sekali, tapi entah mengapa hatiku begitu dingin. Menjelang sore tamu – tamu pun pulang, rumah pun sepi kembali. Aku tak berani masuk kamar untuk berbaring, di sana ada ibu. Aku tak tahu harus bagaimana, karena aku tak terbiasa berdekatan dengannya, beliau terlalu asing bagiku. Suara ibu memanggil namaku terdengar lirih. ”Ki.. ki…” suara itu parau. Aku beringsut masuk. ”Kamu nggak tidur Nduk….?” Suara itu seolah menusuk dadaku begitu sakit. Aku berjalan gontai, dan memilih duduk di kursi yang menghadap jendela. ”Belum mengantuk Bu…” jawabku seadanya. ”Maafkan ibu ya Ki….” suara itu lemah sekali kemudian diikuti oleh tangisan. Ingin sekali aku memeluk ibu saat itu, tapi kakiku berat sekali. Akupun menangis tersedu. Aku ingin bertanya pada ibu, kemana saja ibu saat ini… tapi bibirku terkunci rapat. “Ibu salah….. makanya ibu takut bertemu kalian… ibu takut kalian membenci ibu…. ibu takut….” Suara itu lirih sekali. Aku bangkit dari dudukku dan menuju ibu. “Kami tak pernah benci ibu…. kami sayang….” Aku memeluk ibu.

Hari itu untuk pertama kalinya aku merasa punya ibu, kami tidur satu kasur berpelukan, ibu membelai rambutku hingga tidur, entah mengapa aku merasa begitu nyaman. Seminggu sudah aku bersama ibu di rumah Mas Dwi, kedua Masku sudah pulang kembali ke kota mereka dua hari yang lalu. Menurut keputusan ibu, beliau akan tinggal bersama Mas Dwi sementara ini, dan selanjutnya akan menyusul ku ke Jakarta jika luka dikepalanya sudah mulai pulih. Hari itu aku pulang ke Jakarta dan kembali menangis, kali ini aku menangis dipundak ibu.

~ by husnaamin on May 15, 2007.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.