Sebuah Cerita Pendek
Begitu masuk Tram seorang lelaki mempersilahkan aku duduk di tempatnya, tak biasa memang, apalagi untuk gadis berjilbab seperti aku disebuah negara kawasan eropa ini diperlakukan sopan, biasanya setiap kali aku masuk semua mata seolah menatap curiga, jangan-jangan aku bawa bom. Perlakuan itu semakin terasa setelah kejadian yang lebih dikenal dengan peristiwa 911, aku yang berjilbab selalu jadi sasaran mata sinis di negeri ini. Pernah suatu hari aku menuju Belanda dengan kereta api yang dulunya sebelum peristiwa itu aku pulang pergi Belanda-Jerman perjalanannya biasa saja, tapi sejak peristiwa itu orang memandangku entah ketakutan atau benci, semua barangku pasti diperiksa dengan kasar, tak jarang para polisi itu mengeluarkan segala barangku kemudian memeriksanya dengan cermat satu persatu, bahkan sebuah pulpen tajampun harus disita. Nasib membuatku ingin segera mengakhiri petualanganku dinegara eropa ini. Aku ingin pulang ke Mesir atau ke Indonesia. Di sana aku tak harus masuk mall dengan pengawasan ketat.
Aku hendak berterimakasih pada lelaki itu, tapi sesaat kemudian dia mengalihkan pandangannya. Aku duduk, Alhamdulillah, masih ada orang baik juga ternyata. Seperti biasa semua orang menatapku curiga. Aku terbiasa menunduk saja. Aku sudah lelah kalau harus memikirkan setiap kejadian yang ku terima. Mereka sungguh tidak adil. Tapi siapa yang mau peduli pada keadilan seorang aku…? masih banyak ketidakadilan yang terjadi di dunia ini, contohnya saja Palestina yang jelas – jelas dijajah, koq malah Israel yang dibela… ah penderitaanku ini toh tak sebanding dengan para syuhada di jalur Gaza sana, aku yang hanya menerima tatapan sinis saja sudah mengeluh padahal para ibu di Palestina sana hampir setiap hari ada yang menangis karena anak atau suami mereka meninggal. Mereka pasti wanita yang sangat kuat. Ah… penderitaanku ini apa… kalau dibanding mereka
Tak terasa aku harus turun, ingin sekali mengucapkan terima kasih pada lelaki itu, tetapi rupanya dia sudah turun duluan. Aku pun bergegas turun. Aku tidak mau telat pulang ke rumah, Abangku bisa marah besar lagi. Aku berjalan kaki saja menuju apartemen. Sepanjang jalan menuju apartemen aku mencoba mengingat wajah lelaki itu, suatu hari jika bertemu aku ingin berterimakasih. Ah…. kapan aku bertemu lagi, lelaki itupun pasti sudah lupa, dia pasti merasa itu perbuatan yang sangat kecil, hingga mudah untuk dilupakan, tapi aku merasa itu perlakuan tersopan yang ku terima. Aku menuju pintu apartemen. Abangku terlihat didepan pintu. ”Zahwa….. kau telat lagi….?” Abangku menatapku. ”Maaf tadi ada diskusi dengan Profesor Anna…” jawabku. ”Lain kali telpon Zahwa…” Abangku menutup pintu. ”Abang selalu khawatir…” Abangku merebahkan diri dikursi. ”Aku baik-baik saja koq Bang….” Jawabku, ”Sampai berapa lama lagi kau kuliah di sini Zahwa..?” Abangku bertanya, ”Aku belum tahu, terserah Prof Anna… aku inginnya segera selesai… aku juga ingin pulang ke Mesir… setelah itu menetap di Indonesia….. seperti keinginan Kakek dulu…” jawabku, ”Ibu tadi menelpon… menanyakan kabarmu..” abangku mengabariku, ”Ibu sehat…?” tanyaku sambil mengambil segelas air putih untuk melegakkan tenggorokanku yang kering. ”Alhamdulillah semua di sana sehat, tugas Ayah di Mesir sebentar lagi selesai, diperkirakan sekitar satu tahunan, setelah itu mereka akan ke Indonesia, Ibu ingin kau menetap di sana.. ibu selalu khawatir, kasihan ibu” Abangku panjang lebar.
Ayahku orang Mesir. Namanya Muhammad Natsir Al Fath. Ibuku orang Indonesia namanya Siti Maesaroh. Mereka kabarnya bertemu ketika Ayah dan Ibu sama-sama sekolah di Al Azhar. Ibu yang anak seorang Kiyai pemilik pesantren punya kewajiban untuk sekolah di Kairo. Ibu anak satu-satunya dari Kakekku, oleh karena itu masa depan pesantren ada di tangan ibu sehingga dulu Kakek menyuruh ibu menimba ilmu hingga ke Kairo. Ibu dulu tinggal bersama seorang paman Ibu yang menjadi salah seorang diplomat di Kairo. Ibu yang dijodohkan Kakek dengan seorang kenalan baik kakek justru malah jatuh cinta pada ayah dan akhirnya menikah sebelum Ibu menamatkan kuliahnya di Al Azhar. Tapi Kakek bukan orang yang otoriter, Kakek ikut saja keputusan Ibu. Hingga akhirnya pesantren Kakek kemudian diwariskan pada salah seorang kemenakannya. Pesantren Kakek justru terlihat lebih Maju di tangan Muhammad Faqih Malik, beliau pun lulusan Al Azhar Mesir, memang di keluarga Ibuku rasanya tidak afdhol kalau belum menimba ilmu di Mesir. Kakek senang sekali ketika ibu melahirkan dua orang anak laki – laki berturut-turut. Kakakku yang pertama diberi nama oleh Kakek. Namanya Abu Bakar Abdul Hamid. Kakakku yang kedua diberi nama oleh Pamanku. Namanya Ahmad Aziz Al Qayim. Sedangkan aku anak wanita diberi nama sama dengan nama nenekku yang katanya sudah meninggal ketika ibu berumur 4 bulan. Namaku Zahwa, pendek sekali. Ketika aku lahir orangtuaku sedang di Prancis. Selepas dari Al Azhar ayahku berkarir menjadi diplomat. Ayahku bekerja untuk pemerintah mesir.
Kedua kakakku lahir di Indonesia. Cuma aku yang lahir di negara lain. Mungkin karena itu juga aku jadi punya jiwa petualang, dan itu membuat kedua kakak lelakiku kerepotan, karena mereka masing – masing punya tugas menemaniku. Wanita tidak boleh tinggal sendiri tanpa muhrim.
Aku di Jerman untuk kuliah pada salah satu universitas ternama. Aku mengambil jurusan Psikologi dan saat ini sebenarnya tinggal selangkah lagi aku selesai aku tinggal membereskan skripsiku. Aku meneliti masalah Holocaust terhadap pribadi orang Jerman. Keinginanku untuk kuliah di Jerman tujuan awalnya adalah aku ingin keliling Eropa. Aku ingin mengenang kembali masa remajaku yang memang ku habiskan di tiga negara : Prancis, Jerman dan Belanda. Sambil menyelam minum air. Aku kuliah dan juga bertamasya. Tapi kejadian 911 itu telah membuat mimpiku jadi buyar. Perlakuan mereka terhadap kami orang muslim apalagi aku yang memakai hijab, membuat aku ingin segera mengakhiri perjalanan ini, tapi penelitianku belum selesai. Aku tak bisa pulang.
Aku masuk kamar, merebahkan diri di kasur cukup membuat kepalaku ringan. Abangku Ahmad Aziz kebetulan menikah dengan orang Tunisia dan menetap di Jerman, waktu itu dia sekolah di sebuah Universitas di Heidelberg. Abangku mengambil jurusan Teknik Informatika, setelah lulus justru mendapat kerja di Jerman dan menikah dengan seorang wanita asal Tunisia. Namanya Annisa Mutmainah, tapi biasa dipanggil Erica. Kak Erica sebetulnya ada keturunan Indonesia, katanya Kakek buyutnya orang Indonesia. Mereka sudah beranak dua. Tapi sejak peristiwa 911, Kak Erica memilih tinggal di Indonesia bersama kedua anaknya. Sebetulnya Abangku pun hendak ikut, tapi waktu itu tugasku mengharuskan aku menuju Jerman. Maka Abang memilih menemaniku hingga tugasku selesai. Sesekali Kak Erica datang.
Tiba-tiba aku ingat kejadian tadi siang, setelah sekian lama diperlakukan buruk aku mendapat perlakuan yang sopan, entahlah tiba-tiba wajah lelaki itu terlintas di benakku. Rambutnya pirang, kulitnya jelas menunjukan kalau dia ras Aria, hidungnya mancung, matanya gelap, selintas itu yang ku ingat. Aku tertidur.
Seperti biasa aku menunggu Tram ditempat yang sama. Sebetulnya kejadian kemarin siang sudah hampir ku lupakan ketika kejadian itu justru berulang, lelaki itu kembali rela berdiri untuk memberiku tempat duduk. Tapi kali ini disebelahnya ada seorang wanita berambut pirang, dengan rok yang sangat mini. Mereka yang asalnya sedang berangkulan mesra tiba-tiba terputus karena aku masuk, dan lelaki itu memilih berdiri karena memberikan kursinya untukku. Sekali lagi aku ingin mengucapkan terimakasih, ketika kemudian keributan justru terjadi diantara lelaki itu dan teman wanitanya. Mereka turun di pemberhentian berikutnya. Aku merasa sangat tak enak atas kejadian itu. Malamnya mataku tak bisa terpejam, kata-kata teman wanita lelaki itu membuat aku merasa tertohok, ”Kau berikan kursimu pada teroris…. aku tak mau duduk dekat seorang teroris…” wanita itu bangkit agar tak duduk di dekatku, dia memilih berdiri. Hatiku rasanya sakit sekali. Tapi lelaki itu membuat aku merasa ada tetes embun yang mengalir di hatiku, sementara dia rela bertengkar dengan gadisnya untuk memberikan kursinya kepadaku. Ingin sekali aku mengucapkan terimakasih.
Mataku pedih sekali, setelah seharian menghadap komputer. Ku putuskan untuk istirahat. Kepalaku berat juga, tugasku memang menjelang akhir. Tapi ada keengganan untuk meneruskan, aku mulai tak betah. Aku dan Prof Anna menghabiskan waktu seharian di perpustakaan. Hampir saja aku kehilangan sholat Ashar. Alhamdulillah, bunyi ponselku mengingatkanku. Aku memang memasang alarm sholat di ponselku. Aku biasa sholat di dekat ruang ganti wanita, disana ada ruang jeda sedikit, cukup untuk menggelar sajadah, sebelumnya terlebih dulu aku harus melapnya hingga bersih sebelum ku gunakan untuk sholat. Awalnya setiap kali aku sholat hampir setiap mata memandangku aneh, tapi sekarang sudah tidak. Awalnya banyak sekali pertanyaan untukku mengenai sholat. Termasuk Prof Anna. Kini justru Prof Annapun sering mengingatkanku. ”Zahwa sholatlah…. sudah Ashar..” katanya terbata-bata mengucapkan kata Ashar. Prof Anna adalah salah satu Professor yang tak menatapku sebagai teroris.
Sebetulnya setelah aku sedikit meneliti masalah Holocaust terhadap orang Jerman, aku menangkap ada hal yang sama pada mereka dan aku khususnya. Ada ketakutan pada mereka, peritiwa itu dianggap harus selalu dipikul oleh generasi ke generasi bahkan nasionalisme menjadi hal yang ditakuti, dan lagu kebangsaan Jerman pun harus dihapus dua bait karena masalah itu, sebetulnya mereka pun dihantui oleh sebuah dosa yang dilakukan oleh orang lain, dan merekapun harus menanggungnya hingga kini. Prof Anna bahkan sering meragukan peristiwa itu ada. ”Zahwa… terkadang aku ingin membelokkan penelitian kita ini, justru untuk meneliti kebenaran peristiwa itu…” kata Prof Anna suatu hari. ”Sayang akses menuju itu susah untuk didapat…” Prof Anna terlihat menyesal. Aku hanya diam. Masalah Holocaust itu memang sudah menjadi momok tersendiri bagi orang Jerman.
Aku pulang dengan Tram yang sama, kali ini penumpangnya lengang. Aku bisa duduk sesuka hatiku, aku memilih agak pojok. Tiba-tiba saja aku melihat wajah lelaki itu. Dia duduk tak jauh dariku. Ingin sekali mengucapkan terimakasih padanya. Tapi saat itu aku memilih diam. Tiba-tiba saja lelaki itu memilih duduk di sampingku. Aku agak kaget. ”Arnell Allbach…” katanya mengulurkan tangan. ”Zahwa..” kataku tanpa membalas uluran tangannya, aku hanya mengangguk tanda hormat. ”Boleh aku duduk disini..?” Bahasa Jermannya terdengar sopan. Aku mengangguk. Tapi hatiku sedikit gemetar oleh karena itu ku putuskan agak bergeser. ”Maaf aku mengganggumu ya…?” suaranya agak parau. ”Tidak… justru saya ingin berterima kasih karena Anda selau baik pada saya..” jawabku dengan bahasa Jermanku. Dia memberikanku sebuah kartu nama. Namanya Arnell Pieter Allbach. Dari kartu namanya kelihatannya dia seorang dokter. Dia pun turun dipemberhentian sebelum aku. Hatiku berdebar kencang saat itu, baru kali ini ada seorang lelaki duduk di dekatku yang membuat hatiku berdebar begitu kencang. Aku bergegas menuju Apartemen Abangku. Hatiku tak menentu. Aku ingin segera sholat Magrib untuk menenangkan hatiku. Waw…!!!
Esoknya di Tram yang sama aku tak melihat lelaki itu. Aku melewati hari itu dengan keingintahuan, dimana Arnell Pieter Allbach berada. Hari seperti biasa sudah hampir Maghrib akupun bergegas menuju Apartemen. Kali ini hariku benar-benar capek. Esoknya entah kenapa ada keinginan untuk bertemu dengan lelaki itu lagi. Sengaja aku pulang dari perpustakaan di jam yang ku tentukan, padahal diskusiku dengan Prof Anna belum selesai, aku beralasan agak capek hari ini. Tram terlihat lengang dari kejauhan, aku masuk mataku langsung tertuju, Arnell ada dipojok, dia tersenyum ketika melihatku masuk. Hatiku semakin kacau. Aku memilih duduk dekat pintu. Tram memang lengang sehingga Arnell bisa memilih agar duduk didekatku. Mata kami bertabrakan, dan itu membuat jantungku sangat tak tentu debarannya. “Kita ketemu lagi hari ini, kemarin… aku ada tugas di Belanda… …” katanya menerangkan. Aku sekuat mungkin menunduk, aku tak ingin mata kami saling menatap lagi. Toh selain muhrim aturannya jelas tak boleh saling berpandangan. ”Namamu Zahwa kan kalau aku tak salah aku hafal gerakanmu, walau wajahmu tak ku kenal pasti tapi aku sangat hafal bahasa tubuhmu… boleh aku tahu di mana kau tinggal….?” Suara lelaki itu terdengar tersendat-sendat saat menyebut Zahwa. Aku ragu untuk memberikan alamatku. ”Kau muslim kan…?” Arnell sepertinya sedang menatapku saat ini. Aku mengangguk. ”Kau takut padaku ya…?” dia santai sekali. Aku hanya diam. ”Aku sudah berikan kartu namaku, kini giliranmu … aku bukan orang jahat, kau bisa datang ke kantorku.. kau bisa tanya pada mereka siapa Arnell Pieter Allbach…” katanya. Aku hanya diam. ”Maaf…” jawabku dengan bahasa Inggris. Arnell pun akhirnya diam. Kami terdiam. Arnell tidak berhenti di pemberhentian biasa, dia turun di halteku. Hatiku agak kacau. ”Jangan takut aku hanya ingin berkenalan, kau orang muslim pertama yang ku kenal… aku hanya ingin tahu..” Arnell tiba-tiba ada disampingku. ”Aku hanya ingin tahu tentang mereka, siapa tahu aku bisa tahu banyak darimu… dan mungkin setelah itu pandangan negatifku tentang muslim akan berubah, seperti ketika aku melihatmu” katanya lagi. Kami berjalan beriringan. ”Ku lihat… kaupun meneliti Holocaust…” katanya sambil menunjuk buku yang ku pegang. Aku menghentikan langkahku. ”Maaf… aku tak punya waktu saat ini, aku harus sholat maghrib… temui aku di Universitas besok pagi jam 09.00, aku mahasiswa Prof Anna, cari saja jurusan Psikologi” kataku sambil memberikan kartu namaku, setelah itu aku bergegas, aku memang memburu waktu.
Hatiku benar-benar kacau. Aku tak tahu apa yang berkecamuk di hatiku saat itu. Pertemuanku dengan Arnell membuat aku merasakan hal yang begitu aneh, hatiku bergetar aneh, jantungku berdegup tak biasa, bahkan darahku rasanya mengalir hangat. Aku merasa begitu aneh…
Besoknya jam 09.00, aku melihat Arnell ada di depan kampus, dia tampak tersenyum ketika melihatku menghampirinya, “Hampir ku telpon kau…” katanya dengan senyum yang sangat manis. Aku lekas mengalihkan pandanganku. Kami berjalan menuju perpustakaan. Kami memilih duduk agak jauh dari para mahasiswa yang sedang asyik membaca. ”Apa yang ingin kau tahu tentang muslim…?” tanyaku langsung. ”Banyak hal Zahwa, tapi yang pertama ingin ku tanyakan adalah kenapa kau tak pernah menatapku dan … kau selalu menunduk ?” tanyanya dengan suara seolah – olah perlakuanku ini aneh. ”Kalau itu pertanyaanmu, maka aku akan menjawab sebagai seorang muslim, dalam aturan agamaku, lelaki dan wanita yang bukan muhrim dilarang untuk saling beradu pandang, apalagi berduaan, itu berbahaya. Ada setan diantara mereka, yang akan menggoda…” jawabku. ”Itu aturan agamamu…?” Arnell sepertinya tak percaya. Aku mengangguk, ”Termasuk memakai penutup kepala..?” Arnell mengomentari jilbabku. ”Ya… ini hijab… kami diwajibkan menutup aurat…” jawabku. ”Awalnya aku aneh melihatmu.. dengan pakaian seperti itu, tapi lama-lama, aku terbiasa..” Arnell menjawab dengan lugas. ”Jadi aurat itu rambutmu, kepala begitu…?” tanyanya. ”Perintahnya jelas, tutuplah tubuhmu dari ujung rambut hingga telapak kaki, yang bukan aurat itu hanya wajah dan telapak tangan..” jawabku. “Tapi aku terbiasa memakai cadar ini… kalau cadar ini sebetulnya hanya kebiasaan di negaraku…” jawabku. Padahal alasan sebenarnya memakai cadar adalah karena orangtuaku mensyaratkan jka aku ingin kuliah di Eropa maka aku harus bercadar. Di Mesir aku biasa hanya mengenakan jilbab. “Jadi kalau tak pakai cadar tak apa-apa..?” tanyanya. ”Sebetulnya tidak, tapi ini hanya kebiasaan, sebetulnya dulu waktu di Mesir aku tak pakai cadar, tapi ketika masuk Eropa aku memutuskan memakai cadar, apalagi setelah peristiwa 911 aku ingin lebih terjaga… dan mungkin agar orang tak terlalu menatapku bulat-bulat…” jawabku. ”Laki-laki muslim juga mempunyai pakaian khusus sepertimu..?” tanyanya lagi, ”Tidak juga, yang penting auratnya tertutup, aurat lelaki dari pusar hingga betis..” jawabku. ”Kau kesini untuk belajar mengenai Holocaust…?” Michael mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk. ”Kamu termasuk yang percaya akan Holocaust…?” tanyanya. ”Aku belum berkesimpulan… tapi kini ada dua pendapat ada yang percaya dan ada yang tidak, hanya saja akses penelitian untuk yang tidak percaya sukar didapat…” jawabku, ”Aku orang Jerman, kami terbiasa dicibir karena dosa nenek moyang…” katanya pelan. ”Ya… aku kesini untuk meneliti mengenai kepribadian orang jerman setelah peristiwa itu…” kataku sambil membenarkan letak jilbabku. Akhirnya pembicaraan kami terus berganti dari satu topik ke topik yang lain. Aku merasa nyaman berbincang dengan Arnell. Kini ada kebiasaan baru Arnell memberiku kabar dimanapun dia berada, dan kini selalu ada perbincangan tentang Muslim dan Holocaust diantara kami. Kami merasa ada kesamaan perlakuan dunia terhadap kami.
Hari itu sudah dua minggu Arnell berada di Prancis. Ketika telpon dari Mesir menyuruhku agar segera menuju Indonesia, Kakekku Abdul Hadi Al Mansyur meninggal dunia. Dengan penerbangan pertama dari Frankfurt , aku dan abangku menuju Indonesia. Charger Handphoneku ketinggalan karena aku terburu-buru sekali tadi. Aku hanya membawa barang yang sempat ku bawa. Karena aku dari Universitas langsung menuju Airport. Abangku menunggu disana. Aku tak sempat memberitahu Arnell, padahal besok kami ada janji di Universitas. Dan memang tepat di Bandara batre Handphoneku habis. Sesampai di Jakarta kami langsung menuju Pesantren Kakek. Letaknya tak jauh dari Bandara. Kakek sudah dimakamkan, sejak kemarin. Ibuku terlihat sedih sekali. Ibupun sama denganku baru datang. Hingga ibu tak sempat bertemu kakek untuk yang terakhir kalinya. Kakek meninggal mendadak, habis sholat subuh katanya. Aku langsung sholat ghaib bersama Abangku. Kak Hamid, Abangku yang pertama menghampiri kami berdua setelah kami selesai melakukan shalat ghaib. Rupanya Kak Azizlah yang mengetahui pertama kali bahwa Kakek sudah meninggal. Menurut Kak Aziz, saat itu setelah subuh Kakek masuk kamar, tapi ternyata setelah waku dzuhur tiba kakek tidak juga datang ke Masjid hingga Iqomah berkumandang, itu bukan kebiasaan Kakek. Makanya setelah sholat Dzuhur selesai Kak Aziz langsung menuju kamar Kakek, tapi begitu kamar Kakek dibuka. Kakek seperti orang tidur lelap. Tapi sudah terbujur kaku. Setelah dokter pesantren memastikan kakek telah wafat, saat itu juga proses penguburan dilakukan, menjelang Ashar Kakek sudah dimakamkan. Orang meninggal harus segera dimakamkan.
Ibu tampak sedih sekali sambil membacakan ayat suci Al Qur’an air mata ibu terus mengalir, aku memeluknya dari belakang. Kami berpelukan. Selama tujuh hari tujuh malam suasana pesantren ramai sekali, orang-orang silih berganti berdatangan untuk bertakziah. Sebetulnya wafatnya kakekpun menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga besar Al Mansyur, ibu yang jarang pulang, aku, Kak Aziz, Ayah sangat jarang pulang ke Indonesia, kesempatan ini kami berkumpul, sanak saudara dari yang terdekat sampai yang terjauh hadir. ”Wah… ini Zahwa ya…?” salah seorang kerabatku menyapaku, ”Sudah gadis…..” katanya lagi. Aku hanya mengangguk hormat. Sanak saudara silih berganti menyapa kami. “Kau tak usah pulang dulu ke Jerman Zahwa…” pinta ibuku setelah sepuluh hari kami di Indonesia. ”Ayahmu tidak bisa menemani ibu di sini, pekerjaan menanti banyak, Kakak – kakakmu pun sama… jadi ibu minta kau temani dulu ibu ya…” kata ibuku, aku mengangguk tanda setuju. Malam itu aku dan ibu sudah tak ikut lagi pengajian di pesantren, setelah sholat isya kami kembali ke rumah. Aku masuk kamarku. Membereskan barang – barang ke dalam lemari beberapa hari ini aku tak sempat bebenah. Tiba-tiba kartu nama Arnell jatuh dari lemaran buku – bukuku. Aku teringat Arnell.
Bagaimana cara mengubungi Arnell, memberitahunya bahwa aku berada di Indonesia. Aku disini karena ada musibah, entahlah ada rasa takut jika aku tak bisa bertemu Arnell kembali. Ah perasaan ini bodoh sekali, fikirku. Aku segera memasukan kartu nama itu. Dan segera menuju kamar ibu, tadi aku janji akan memijit kepala ibu yang sakit. Aku ketuk kamar ibu pelan sekali, ”Masuk..” ibu menjawab. Aku tersenyum pada ibu ketika pintu ku buka, ibu melambaikan tangannya menyuruhku masuk. ”Sudahlah bu… nggak usah sedih lagi, Kakek sudah tenang di sana, kalau ibu sedih terus… kasihan kakek…” kataku sambil mulai memijit kepala ibu. Ibu tersenyum, matanya terlihat lelah sekali. Air matanya keluar lagi, tapi segera ibu seka, ibu membaringkan badannya kemudian terlelap, aku terus memijit ibu hingga ku pastikan beliau benar-benar pulas.
Aku kembali ke kamar. Setelah sholat isya dan membaca beberapa ayat Al Qur’an fikiranku kembali menerawang pada Arnell, apa yang sebenarnya terjadi diantara kami memang belum pasti, hanya sekedar kawan bertukar fikiran atau lebih, aku tak tahu terlebih aku dan Arnell jelas berbeda keyakinan, Tapi sejauh ini hanya Arnell yang mengerti dan dapat ku ajak berdiskusi. Aku tak tahu perasaan apa yang berada di benak lelaki itu padaku. Tapi segera ku singkirkan fikiran aneh itu, mana mau Arnell memikirkanku, di sisinya banyak wanita cantik dengan rok mini dan parfum yang menyengat, yang sering bergelayut di pundaknya, sementara aku selama di Jerman hanya terlihat bagian mata. Apa yang akan Arnell ihat dari aku……
Malam itu aku tak bisa terpejam, aku megambil air wudhu dan sholat, sesungguhnya aku benci pada perassaan yang kini bergelayut di hatiku, kenapa harus pada Arnell yang berbeda keyakinan aku punya perasaan seperti ini………………
Ibu membangunkanku ketika adzan subuh berkumandang, kami sama-sama menuju masjid Pesantren letaknya tak jauh hanya 200 meter dari rumah kakek. Mataku masih perih rasanya baru saja aku baru terpejam. Dengan langkah gontai aku menuju Masjid, suara orang membacakan ayat demi ayat dalam sholat itu membuat hatiku nyaman.
Selesai sholat shubuh ibu mengajakku menuju rumah saudara sepupunya yang selama ini membantu kakek mengelola pesantren Al Mansyur, letak rumahnya tak ada 100 meter dari rumah kakek, suara orang mengaji terdengar jelas begitu aku memasuki gerbang rumahnya, ”Itu pasti suara Faturahman, tadi dia tidak ke Masjid karena sedang demam, tapi dia tetap mengaji, suaranya tetap indah…” ibu menatapku, aku tak mengerti maksud tatapan ibu, ibu tersenyum sambil menuntunku menuju rumah sepupunya. Begitu dibukakan pintu, seorang wanita menyambut kami dengan ramah, ”Ayo Zahwa masuk… di sini tidak seperti di Jerman kan..?” katanya sambil menuntunku. Wanita itu menggiringku hingga ke ruang tengah, ”Pak… ini Zahwa calon mantu kita…..” suara wanita itu membuat hatiku tertohok dalam, aku jadi salah tingkah, aku menatap ibu, beliau hanya tersenyum. Om Faqih keluar dari kamarnya, dia masih memakai baju koko putih, wajahnya sungguh bersinar. “Eh Zahwa… baru dibicarakan… ayo masuk…” Om Faqih mempersilakanku masuk ke ruang tengah, setelah mencium tangan Om dan Bibi aku duduk dekat ibu. ”Fatur….” Om Faqih memanggil anaknya, sejenak suara orang mengaji itu berhenti, kemudian dari salah satu kamar muncul seorang lelaki berkulit gelap dengan mantel tebal, wajahnya terlihat lusuh. ”Fatur… lagi sakit….” Bibiku memandangku, ”Gimana ini… calon istri datang koq malah sakit…?” Bibiku menggoda Fatur, lelaki itu tersenyum ke arahku, aku hanya menunduk. Hatiku sibuk mengutuk kejadian ini. ”Kemarin aku janji datang ke sini, aku sudah tepati ya…. besok aku mau pulang ke Kairo kasihan jika Papanya Zahwa harus lama-lama sendiri, makannya nggak ada yang ngurus, kata ibuku. ”Ah… kemaren kita cuma bercanda koq Dik… rumah kita kan hanya beda jarak berapa sih… aku kemarin cuma ingin lihat Zahwa dalam keadaan tidak menangis, siapa tahu kalau di bawa kesini sedihnya hilang….” Bibiku menatapku. ”Zahwa… kau ikut pulang besok…?” tanya bibiku, tiba-tiba ibuku memotong. ”Justru itu Dik Laila aku datang ke sini mau titip Zahwa, besok aku pulang ke Kairo bersama Aziz, Hamid masih disini, tapi kan sibuk urusannya banyak, aku titip Zahwa, ……Zahwa tetap tinggal di rumah ayahku, hanya saja tolong dilihat-lihat, biar sudah besar Zahwa masih manja….” Ibuku tersenyum. ”Beres… aku pasti sering nengokin Zahwa….” Bibi menyanggupi. ”Maaf bukan tidak ingin lama-lama, tapi aku harus bebenah besok aku harus kembali ke Kairo…” ibu memeluk bibi lama sekali, terdengar sedikit bisikan mereka. ”Mengenai perjodohan Fatur dan Zahwa kita bicarakan nanti siang…” suara ibu berbisik pelan tapi dapat kudengar samar. Bibi mengangguk setuju.
Aku pulang, Bibi, Om dan Fatur mengantarku sampai ke gerbang. Sepanjang perjalanan menuju rumah kakek, aku diam begitu pula ibu, sepertinya ibu maupun aku ingin menyimpan masalah ini sampai di rumah. Aku langsung menuju kamar begitu sampai, ibu mengikutiku.”Ibu mau bicara bolehkan…?” suara ibu lembut. Aku menangguk. ”Jangan di masukan hati ya.. masalah yang tadi, ini kan cuma rencana, kalau kalian setuju kita sebagai orang tua senang, kalau kalian tidak, kita ya nggak apa-apa….” Kata ibu sambil membelai rambutku. ”Bu… dulu ibu juga disuruh kakek menikah dengan Om Ismail sepulangnya dari Kairo tapi ibu justru memilih Bapak…” runutku. ”Iya… ibu tahu, tapi dulu waktu kakek bilang mengenai perjodohan kami, ibu sudah ketemu Bapak, jadi Kakek telat kasih tahu ibu…” kata ibu sambil terus membelai rambutku. ”Jadi kalau ibu nggak ketemu Bapak, ibu mau menikah dengan Om Ismail…?” tanyaku. Ibu hanya tersenyum,”Wa… ibu juga nggak tahu… tapi yang jelas ibu menikah dengan Bapakmu… dan ibu bahagia…. ibu juga ingin kau bahagia….” Ibu menatapku. ”Kau belum ada pasangankan…?” ibu menatapku lebih dalam. Aku menunduk, aku bingung. ”Tapi jika tingkahmu begini, berarti ada seseorang….” Ibu mengangkat kepalaku, aku kembali menunduk. ”Ah ibu.. siapa coba, aku selama ini kuliah di Jerman dengan cadar, dan ibu tahu kan kita di sana dianggap teroris, mana ada lelaki Jerman mau tertarik dengan wanita yang disangka teroris…?” jawabku. Ibu tersenyum padaku, ”Wa… kau bohong pada ibu, dari sinar matamu… ibu merasa ada seseorang….” Ibu menggodaku. ”Ah ibu……” aku tersenyum, kami tertawa bersama. Kak Aziz mengetuk pintu, ”Masuk…” ibu menjawab ketukan itu. ”Bu… ada telpon dari Bapak, ibu nggak usah pulang besok, lusa Bapak ada urusan di Indonesia, jadi sekalian aja nanti Ibu dan Bapak pulang bersama,” Kak Aziz memberikan Handphone ibu. ”Hp nya dibawa Bu.. kalau pergi…” Kak Aziz menasehati ibu. ”Tadi ibu lupa… lagian kan cuma sholat subuh terus ke rumah om Faqih…” jawab ibu. “Wah.. tadi Zahwa ketemu Fatur dong…” goda Kak Aziz. ”Apa sih Kak…?” sergahku, ”Wa… Fatur itu suka sama kamu, waktu kemaren Kak Aziz bilang kau mau datang eh dia semangat sekali, saking semangatnya dia jadi sakit ha..ha…” Kak Aziz kembali menggodaku. Aku diam. ”Wah.. ngambek nih…. berarti Zahwa sudah punya seseorang ya…. koq kita nggak tahu…?” Kak Aziz duduk di sampingku. ”Ah… Kakak… nggak ,nggak ada..” jawabku manja. ”Kalau gitu jadi deh ibu punya mantu Faturahman yang dokter…” Kak Aziz menatap ibu. ”Sudah Aziz jangan ganggu Zahwa…” ibu menetralkan keadaan. ”Ok… bu…, Aziz pamit bu…. ada urusan lagi di Pesantren… ketemu lagi sholat dzuhur ya…” Kak Aziz mencium tangan ibu. Kak Aziz menikah dengan orang Syria, sebelum sekolahnya di sebuah Universitas di Amerika beres. Kemudian setelah beres Kak Aziz memutuskan membantu Kakek di Pesantren. Mungkin ilmu manegement yang dipelajarinya mau diterapkan di pesantren ini.
“Eh kita koq belum sarapan ya… ini sudah jam sembilan…” ibu melihat jam di Hp nya. ”Pantes koq Zahwa laper banget bu…” kataku sambil menunjuk perutku. Kami menuju ruang makan, ternyata Kak Maryam istri Kak Aziz sudah memasak untuk kami. Kami biasa makan kebab untuk sarapan. Karena lapar porsi makanku cukup banyak, ibu sampai terheran-heran menatapku.
Bapak datang sehari setelah kejadian itu. Fatur sering datang ke rumah Kakek, ada saja alasannya untuk ke rumah itu, hari ini dia datang, katanya ingin silaturahmi dengan Bapak. Fatur rupanya kuliah di Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Dia mengambil fakultas kedokteran, makanya di Pesantren sekarang ada klinik. Faturahman yang jadi kepala kliniknya. “Kalau de Zahwa sakit, saya ada di Klinik…” pamitnya. Aku hanya mengangguk. Kedua kakakku mengeryit kepadaku, selepas Fatur menjauh, keduanya saling berkomentar, ”Tuh… Pak.. sudah langsung akad saja, keduanya sudah ok…” Kak Aziz sambil tertawa kecil. ”Aziz… ini bukan untuk main-main…. sudahlah biar Zahwa yang memutuskan…” Bapakku sigap. Aku tertolong.
Hatiku agak sedikit kesal dengan keadaan ini, tapi aku berusaha berfikir jernih, aku mencoba menimbang Faturahman Al Hanif, dia seorang dokter, kariernya murni untuk berbakti, toh dia rela tinggal di pesantren dengan upah yang paling tidak seberapa daripada menjadi dokter di rumah sakit swasta, yang pasti gajinya jauh lebih besar, dari sisi agama Fatur pasti tak di ragukan, Fatur langsung berguru pada kakek. Sejak kecil Fatur terkenal anak sholeh.Maka soal agama jelas Fatur tak ada cacat. Apa aku harus memilih Fatur…? hatiku berontak. Saatnya Istikharah.
Sudah hampir satu bulan aku di Indonesia, ibu tak jadi pulang ke Mesir, Bapak mengambil cuti panjang, hanya Kak Hamid yang kembali ke Jerman, dia tak bisa lama – lama, pekerjaannya menumpuk di sana. Aku pun sebenarnya saat ingin segera kembali ke Jerman, ketika aku pergi aku sempat minta Izin Prof Anna, tapi tidak pada Arnell, padahal esok harinya kami ada janji ketemu di Perpustakaan. Apa ya… fikiran Arnell kalau aku tidak menepati janji, fikiranku semakin gundah. Tiba-tiba saja fikiranku terbuka, kenapa tidak ku kabari dia lewat e-mail. “Kak Aziz, apa ada komputer yang bisa ku gunakan untuk kirim e-mail di pesantren ini…?” tanyaku. ”Wah ada dong, tepatnya di laboraturium komputer…” jawab Kak Aziz. “Laboratorium di mana..?” tanyaku. “Disamping klinik Fatur…” Kak Aziz tersenyum, aku segera menuju Laboratorium komputer. Ada juga cara menghubungi Arnell. Ternyata Arnell mengirimiku e-mail banyak sekali, dia bertanya mengapa aku tak datang hari itu dan di mana kini aku berada. Aku jelaskan padanya bahwa sekarang aku di Indonesia, karena kakekku meninggal. Mungkin baru bulan depan aku kembali ke Jerman. Ternyata Arnell sedang online, kami pun berhubungan, di akhir percakapan kami ada yang membuat aku terhenyak, Arnell menuliskan, ”Zahwa… cepat pulang ke Jerman, aku rindu……” tulisan itu membuat aku mengurungkan niat ku untuk meneruskan percakapan ini, aku memilih pulang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah hatiku kacau sekali. Aku segera mengambi air wudhu. Entahlah saat tulisan itu muncul didepanku, aku ingin sekali menjawabnya, bahwa akupun begitu, tapi semua ini terlalu cepat. Ah tapi rindu itu bukan harus selalu pada kekasih, pada temanpun kita bisa merindu… sergahku pada hatiku… tak mungkin seorang Arnell tertarik padaku. Aku segera menuju tempat tidur aku ingin tidur untuk menetralkan semua fikiran anehku.
Akhirnya aku berhasil membujuk ibu untuk dapat segera menuju Jerman. ”Bu… aku ingin kuliahku cepat selesai, kalau disini skripsiku mana kelar….?” Rajukku. ”Kamu bisa teruskan kuliahmu di sini saja Wa…” ibuku seperti memohon. ”Atau di Kairo…” Bapak ikut menimpali. ”Ibu… aku kan tinggal skripsi… mana bisa ku tinggal…” aku kaget dengan keinginan orangtuaku. ”Bu…. kenapa sih…?” tanyaku. ”Perasaan ibu aneh..” jawab ibu. ”Bu… aku disana pakai cadar seperti kemauan ibu dan Bapak, Kak Hamid tak pernah melek mengawasiku… ibu tak usah khawatir ada apa-apa…” jawabku dengan tangis. ”Wa…. bukan itu yang ibu khawatirkan, ibu hanya ingin dekat denganmu…” ibu memberi alasan. ”Ibu…. gimana dong… Zahwa jadi bingung..” aku merenggut, ”Ok… tapi Bapak kasih syarat paling lama dua bulan kamu di Jerman, selesai atau tidak pulang………” Bapak tegas dan singkat. Aku mengangguk setuju. Maka esoknya akupun menuju Frankfurt. Di pesawat aku mulai merasakan sesak di dadaku agak berkurang, mungkinkah karena aku akan bertemu Arnell…? Ya Allah… aku sebetulnya sangat takut sekali pada perasaan ini, aku merasa begitu saja membiarkan perasaan ini tumbuh dan berkembang, tapi aku tak bisa menghentikannya begitu saja, karena semuanya terasa begitu nyaman.
Aku menuju apartemen dengan Tram, ini adalah jam-jam dimana kami biasa bertemu, aku sangat berharap sekali bertemu Arnell. Tram terlihat penuh, aku masuk. Hari ini kejadian itu berulang, Arnell berdiri untuk memberikan kursinya untukku. Melihat Arnell kembali, hatiku rasanya disiram hujan yang begitu nyaman, sehingga semuanya terasa sangat sejuk, untunglah aku memakai cadar, kalau tidak, raut wajahku yang berubah bahagia pasti terlihat jelas olehnya.
Aku dan Arnell turun di halte yang sama, kami berbincang sebentar sebelum aku segera menuju apartemen, aku kembali diburu waktu Maghrib. Kami berjanji akan berbincang lewat internet nanti malam.Hu…… lega sekali begitu aku melihat Arnell masih seperti dulu. Perbincangan kami awali dengan mengapa aku pulang begitu lama, entahlah berbincang dengan Arnell sangat ringan dan nyaman, kami sering tertawa bersama, aku merasa Arnell adalah orang yang tepat untuk diajak berdiskusi bahkan untuk masalah yang sensitif sekalipun, masalah agama kami dan Holocaust, Arnell berfikiran terbuka dan menerima setiap pendapat. Aku merasa begitu nyaman bertukar fikiran dengannya. Seperti yang dijadwalkan oleh ibuku, selesai atau tidak aku harus pulang sebelum dua bulan. Yang menjadi masalah adalah tiba-tiba Prof Anna menuju Afrika selatan karena sebuah konferensi di sana dan itu memakan waktu yang cukup lama, maka waktuku terbuang percuma hingga aku harus pulang menuju Mesir.
Aku memutuskan untuk memberitahu Arnell rencana kepulanganku yang tak lama lagi. Aku tak tahu apakah raut wajahnya berubah atau tidak saat kutuliskan salam perpisahan itu, tapi yang jelas percakapan kami di internet berhenti. Dan sejak saat itu aku tak lagi pernah bertemu Arnell. Lelaki itu bagai di telan bumi. Ingin sekali menuju kantornya untuk bertemu tapi entah mengapa hatiku mengatakan jangan.
Tanggal 17 Juli aku menuju Kairo, diantar Kak Hamid aku pulang menuju rumah Ibu, kuliahku terputus begitu saja, aku harus menepati janji. Bagaimanapun keadaannya aku harus pulang. Dan aku tahu ibu dan Bapak tak bisa ku beri alasan, karena memang dari asalnya mereka tak pernah setuju akan keputusanku untuk jauh dari rumah. Ibu dan Bapak berjanji akan mengurus semua kepindahanku untuk kuliah di Universitas Kairo, sehingga aku tak perlu mengulang pelajaran yang sudah ku ambil, walaupun pasti waktu kelulusanku akan melebihi target, tapi aku sudah pasrah. Mengenai Arnell aku mengubur lelaki itu dalam-dalam. Aku tak ingin menggadaikan hidupku untuk sebuah pertunjukan yang akhirnya pasti tak ingin ku ketahui, karena jika hubungan kami berlanjut entah bagaimana kata ibu dan Bapak, aku berhubungan dengan orang yang jelas – jelas berbeda aqidah. Aku pasti akan menjadi anak durhaka, dan aku tak pernah mau melihat ibu menangis hanya karena aku mengambil keputusan bodoh, yang aku tahu akibatnya jika aku mengambil keputusan itu.
Aku mengganti alamat e-mailku, aku memutuskan hubunganku dengan Arnell benar – benar harus ku akhiri. Aku sudah mulai kuliah lagi. Waktu berjalan lambat sekali, kini di kota kairo jika aku naik tram, atau bis, ada harapan jika Arnell ada dan memberikan tempat duduknya kepadaku. Setahun sudah aku kini tinggal di Kairo, kuliahku hampir beres, skripsiku ku ganti judul justru kini aku mengambil judul masalah anak Autis, aku merasa harus melupakan semua yang pernah ku alami jika aku kembali membahas mengenai Holocaust maka aku akan teringat Arnell, dan aku merasa itu sangat mengganggu.
Hari itu selesai bertemu Prof Burhanudin, cuaca di kota Kairo ini cukup menyengat, sekali. Aku seperti biasa menunggu bis yang akan membawaku menuju rumah. Dari kejauhan ku lihat Bis itu terlihat sudah agak penuh. Tadinya kuputuskan untuk menunggu bis selanjutnya tapi entah mengapa aku merasa sebaiknya segera pulang, maka aku pun masuk bis itu, tiba-tiba saja mataku menatap seraut wajah yang tidak asing, lelaki itu berdiri dan mempersilahkan aku duduk dikursinya, wajah itu adalah Arnell!!!!!! Kali ini aku tak bisa menyembunyikan perubahan ekspresi wajahku karena aku tak lagi memakai cadar, aku hanya menggunakan jilbab, tapi apakah Arnell tahu bahwa aku adalah Zahwa…?!!!, Ku pikir tidak. Aku menundukkan wajahku dalam – dalam, aku takut jika dari sorot mataku saja Arnell dapat mengenaliku. Tiba saatnya aku turun, Arnell pun ternyata ikut turun, tapi seperti dugaanku dia tak mengenaliku, dia terus berlalu dari hadapanku seolah kami tak pernah bertemu. Hatiku kembali kacau. Pertemuanku dengan Arnell hari itu telah merubah segala keputusan yang sebenarnya telah ku fikirkan tadi malam sehabis istikharahku, tadinya hari ini aku akan memberitahu ibu bahwa aku akan terima saja pinangan Faturahman Al Hanif, tapi pertemuan itu membuat semuanya kembali berubah, hatiku kembali bergejolak, ada perasaan yang mengatakan inilah jawaban istikharahku, tapi bagaimana mungkin Arnell berbeda aqidah denganku sehingga tak mungkin jika hubungan kami akan berlanjut lebih jauh dari hanya sekedar teman. Tak terasa karena dari tadi fikiranku melayang, aku menuju jalan yang salah, aku bergegas kembali.
Suasana rumah seperti yang ku duga memang agak sedikit ramai, hari ini keluarga Faturahman Al Hanif dijadwalkan akan datang. Dari kejauhan ku lihat rumahku begitu ramai, aku memperlambat jalanku, jangan – jangan keluarga Fatur sudah datang, bukankah kemarin dijadwalkan mereka akan datang pukul 4 sore. Aku melirik jam di tanganku, rupanya ini sudah jam 5 sore. Aku masuk melalui pintu belakang. Aku tak ingin mereka tahu aku sudah datang, aku mengendap lewat dapur, tapi keputusanku itu salah, justru aku bertemu Fatur disitu, dia sedang berbincang dengan ibu. ”Nah…. ini yang ditunggu sudah datang…” ibu tersenyum, Fatur menganggguk padaku, aku hanya menunduk, ”Maaf bu…. aku naik dulu ya…” aku segera menuju kamar. Mandi. Aku bingung sekali.
Ibu menghampiriku, ”Wa… ayo turun apa kau tidak ingin bersilaturahmi dengan paman dan bibimu…” ibu mengetuk pintu sebelum masuk, aku masih memakai baju mandi dengan rambut yang kuyup, ibu heran melihat keadaanku. ”Lho… koq belum siap – siap …?” Ibu heran,”Bu… ini cuma silaturahmi biasa kan, tidak ada maksud lain…?” tanyaku, ”Wa… menurutmu ada masalah tidak penting bagaimana, jika mereka datang jauh – jauh dari Indonesia kemari…?” ibu menatapku. ”Tapi aku belum bilang pada ibu bahwa aku menerima Fatur, aku bilang aku mau istikharah dulu…” jawabku, ”Setahu ibu kemarin kau tak menjawab saat Bapak tanya rencana kedatangan mereka….” Ibu mengambilkan baju dari lemari untuk ku kenakan. ”Bu….. aku belum siap, kuliahku belum beres…” kataku mencari alasan. ”Kuliah bisa kau selesaikan setelah menikah, Fatur lelaki bijak, ibu fikir dia akan mengijinkan kau meneruskan kuliah…” kata ibu dengan wajah optimis. ”Wa… apa yang kau fikirkan lagi Nak… Fatur anak soleh, ibu tak habis fikir ada apa denganmu…” wajah ibu kelihatan kesal, karena tak sedikitpun aku bergerak untuk segera bersiap-siap. ”Ini acara makan malam biasa sebetulnya, tapi kita semua tahu maksud kedatangan Fatur dan orangtuanya kemari, turun saja untuk menghormati mereka, jika ada rencana pinangan dari keluarga Fatur mungkin bukan malam ini…. sehabis Magrib ibu tunggu di bawah…. jangan membuat malu ibu dan bapak…..” ibu langsung keluar dari kamarku, aku hanya memandang pintu itu dengan fikiran bingung.
Aku hanya memakai gaun yang biasa saja. Makan malam berlangsung singkat. Mereka memutuskan untuk tidak menginap di rumah kami, tapi menginap di hotel. “Besok.. kami datang lagi, kali ini untuk acara pinangan…” suara paman terdengar jelas di telingaku. Bapak dan Om Faqih saling berjabat tangan. Kami mengantar keluarga Faturahman Al Hanif hingga ke pintu gerbang, wajah ibu dan bapak terlihat gembira sekali. Aku segera bergegas menuju kamar. Rupanya ibu mengikuti langkahku. Ibu duduk tepat di depanku, matanya terlihat cukup serius kali ini. ”Wa… ada siapa…. Di antara kau dan Fatur… ibu tak ingin memaksakan kehendak…. jika kau tak terima pinangan Fatur besok katakan sekarang, agar besok mereka tak datang kemari dan harus menanggung malu…” suara ibu lembut tapi tegas. Aku menangis sejadi – jadinya. Ibu memelukku erat. ”Wa…. ibu merasa Fatur anak yang sangat baik, dia cerdas dan juga sholeh.. apa yang membuatmu tak merasa Fatur tak cocok jadi pendamping hidupmu… Nak..” ibu mengangkat wajahku, dia menatapku dalam-dalam. Aku menggeleng lembut. Wajah Arnell menari – nari di kepalaku, aku terus menangis. Bapak masuk. “Zahwa….. ada apa ini Nak….?” Bapak duduk disampingku. ”Kau tahu betapa malunya Bapak, jika harus menolak pinangan Fatur besok…” suara Bapak sangat terdengar menyesal. ”Zahwa… jika tak ada seseorang selain Fatur… apa yang membuatmu begitu bingung….?” Suara ibu seperti menahan tangis. Aku hanya diam. ”Jujur Zahwa, ada seseorang selain Fatur kan sehingga kau menolaknya…?” Bapak bicara tepat di depanku, wajahnya terlihat gusar. Aku menggeleng lemah, ”Lalu kenapa Wa….. ibu bingung…. coba kau fikir lagi, Fatur itu kurang apa…..” ibu menangis di pundakku, aku merasa sangat bersalah. ”Istikharah lagi malam ini Nak…. bertanya pada Yang Maha Tahu…… fikirkan… jernihkan semua fikiranmu… ibu yaqin Fatur akan membahagiakanmu……” suara ibu terisak. Bapak dan Ibu akhirnya meninggalkanku. Ibu mencium keningku dengan hangat. Aku menangis sejadi-jadinya.
Istikaharahku malam ini terasa begitu hening. Hingga subuh hampir tiba aku belum beranjak dari sajadahku. Aku ingin menetralkan hatiku baik dari Fatur ataupun Arnell. Setelah subuh rasanya dadaku sedikit lega. Aku turun menemui ibu. ”Aku tidak bisa menikah dengan Fatur…” Aku singkat namun suaraku jelas tersekat. Ibu langsung berdiri dari duduknya. ”Itu keputusanmu… ibu tak memaksa…….. baik…. semoga kau bahagia dengan keputusanmu ini nak…” ibu memelukku dia menangis. Hatiku sakit sekali melihat ibu kecewa. Ibu memberitahukan Bapak mengenai keputusanku. Alhamdulillah Bapak menerima keputusanku dengan lapang, walau aku tahu kedua orangtuaku pasti menyimpan malu dan marah. Tapi mereka tahu jika hubungan ini dipaksakan maka akibatnya akan buruk. Bapak dan Ibu memutuskan untuk menemui Keluarga Faturahman AL Hanif di hotel tempat mereka tinggal untuk menjelaskan semuanya. Aku mengurung diriku dikamar, entahlah setelah aku mengatakan langsung masalah ini secara tegas pada ibu dan bapak, dadakku rasanya ringan sekali.
Ibu pulang dengan wajah lelah, aseolah tak ingin menceritakan apa yang terjadi disana, tapi kedatangan Bapak membuat aku merasa sangat takut. Wajah Bapak terlihat begitu lelah tak jauh berbeda dengan ibu. Tapi tak ada satupun kata yang keluar dari mereka berdua keduanya langsung masuk kamar, rumah sangat hening. Makan malam kali ini rasanya bagai makan duri, kedua orangtuaku diam seribu bahasa, sebelum akhirnya ibu membuka pembicaraan. ”Alhamdulillah keputusanmu benar sekali Zahwa…..” suara ibu begitu terdengar lemah. ”Sebelum menuju hotel tempat Om Faqih menginap, ibu mampir dulu di Hypermarket, maksudnya ingin membeli sesuatu untuk Keluarga Fatur, disana ibu bertemu Ibu Riani, ibu fikir kebetulan kemarin ibu sempat mengundangnya untuk datang hari ini dalam acara lamaranmu, “ suara ibu terhenti. ”Ibu ceritakan bahwa acara lamaran tidak mungkin terjadi karena kau menolak… di luar dugaan dia punya cerita yang sama, beberapa bulan yang lalu Ibu Riani sengaja pulang ke Indonesia, karena anak semata wayangnya memberi kabar bahwa hubungannya dengan seorang lelaki teman kuliahnya mulai serius dan lelaki itu bermaksud meminangnya, maka tanggal pun di tentukan, tapi keluarga lelaki itu tiba – tiba memberi kabar yang membuat Keluarga ibu Riani terhenyak, acara lamaran di batalkan…. dan lelaki itu tak pernah datang lagi menemui putrinya, kejadian itu membuat putri ibu riani sakit keras, hingga akhirnya dia memutuskan untuk ikut orangtuanya ke Kairo untuk menenangkan diri, kuliahnya terbengkalai………” ibu terlihat mengambil nafas dan memandangku. ”Kau mau tahu siapa teman lelaki putrinya ibu Riani……..?” mata ibu tiba-tiba mengecil. ”Faturahman Al Hanif………..” suara ibu datar. Aku sedikit kaget/ ”Putri ibu Riani dan Fatur teman satu kuliah, mereka sepakat untuk tidak pacaran tapi langsung menikah, tapi rupanya Om Faqih menolak keinginan Fatur menikahi wanita selain kamu, karena kami dulu pernah sepakat untuk menikahkan kalian, Om Faqih malu mengingkari kesepakatan yang kami buat…” ibu memandang Bapak. ”Ah sudahlah… semua sudah berlalu, Om Faqih dan keluarga kini sepakat untuk menikahkan Faturahman dengan anak ibu Riani….. dan tak ada yang melanggar janji, karena semua itu harusnya bukan kita yang memutuskan, tapi anak-anak kita……….. maafkan kami Zahwa…” Bapak memandangku tulus. Aku hanya menunduk, hatiku begitu terasa lapang, Allah memang Maha Tahu, dan semua kejadian ini diluar keinginanku ternyata di balik semua kegalauanku selama ini, memang ada sesuatu yang terjadi, dan aku tak berjodoh dengan Fatur.
Bapak memasuki usia pensiun sebagai diplomat, sesuai keinginan ibu jika Bapak sudah tak lagi bekerja pada pemerintah Mesir, kami sepakat tinggal di Indonesia. Tapi berhubung kuliahku tinggal menunggu sidang skripsi, ibu memutuskan menunggu hingga semuanya kelar.
Dua hari sebelum sidang skripsiku, ada tamu yang membuat Ibu terlihat begitu kaget, Syech Muhamad Hassan Al Jabeer tiba-tiba datang ke rumah kami. Syech Muhammad Hassan adalah guru besar Fakultas Syariah di Universitas Al Azhar, tempat ibu dulu kuliah, hubungan antara ibu dan guru – gurunya masih berlanjut hingga kini, namun jika Syech Muhammad Hassan datang kemari secara tiba – tiba pasti ada masalah serius yang tidak bisa ditunda untuk dibicarakan. Bapak dan ibu terlihat begitu kaget. Awalnya aku tak bermaksud menguping pembicaraan mereka, tapi suara itu terdengar olehku dari balik tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga. ”Saya datang sebagai wakil dari seorang anak saya, yang bermaksud untuk meminang Zahwa…” suara Syech Hassan terdengar jelas tapi setahuku Syech Hassan tak punya anak lelaki. ”Maaf Syech…. tapi setahu saya, Syech tak ada anak lelaki………..” Bapak bingung seperti aku. ”Sekarang ada………….. saya punya seorang santri yang sudah belajar kurang lebih dua tahun dengan saya, dia anak yang cukup soleh, namun semuanya tergantung pada Nak Zahwa, jika diperbolehkan izinkan anak saya untuk datang esok hari….. ini belum pinangan hanya pembuka jalan, jika Nak Zahwa setuju akan kami lanjutkan pada tahapan berikutnya……..” bahasa Arab syech Hassan sedikit – sedikit dapat kuartikan begitu, maklum bahasa arabku kurang lancar, karena sejak kecil aku terbiasa berbahasa inggris atau jerman. Aku langsung menuju kamar, aku tak ingin mendengarkan percakapan mereka selanjutnya. Entahlah tapi percakapan itu tak membuat hatiku galau sedikitpun, justru ada tetesan embun yang mengalir, sangat dingin dan nyaman.
Ibu mengetuk pintu kamarku, aku membukanya, aku tahu ibu pasti akan membicarakan tentang kedatangan Syeh Hassan tadi. Ibu menatapku, kali ini terlihat sekali jika ibu hati-hati untuk bicara. ”Kau tahu tadi Syech Hassaan datang kemari kan…?’ ibu seperti menerawang mataku, aku mengangguk. ”Besok akan datang anak lelakinya kemari, kau tak perlu bertemu dengannya…. kau melihatnya dari celah di ruang tamu saja, mengenai siapa lelaki itu, kau tak usah ragu, Syeh Hassan telah menganggap lelaki itu anaknya sendiri….. kami tak memaksa, tapi coba kau lihat dulu………. besok jam 7 malam, dia akan datang……….” Suara ibu terdengar begitu halus dan tenang, aku hanya mengangguk. ”Bu…………….” aku memanggil ibu yang sudah akan menuju pintu. ”Apa lelaki itu sudah tahu aku………….?” Aku menatap ibu dengan tanya, ”Ibu belum tahu, mungkin saja Syech Hasan sudah memberikan ciri – cirimu pada lelaki itu, oleh karena itu kalian akan dipertemukan besok…. menikahkan tidak boleh seperti membeli kucing dalam karung, makanya besok kaupun akan ketemu dia…..” ibu memegang pundakku, lalu memelukku erat sekali. ”Beristikharahlah… Zahwa…. Mohon petunjuk…” ibu menangis.
Aku merasa hatiku berbeda ketika keluarga Faturahman Al Hanif akan datang, saat ini hatiku terasa sangat nyaman, istikharahku pun rasanya begitu ringan, entahlah aku hanya merasa hatiku begitu tenang, dan aku merasa mungkin inilah jodohku….!!!!!.
Rombongan Syech Hassan pun tiba, aku duduk di ruang tengah bersama dua kakak iparku, kali ini jantungku mulai berdebar, bagaimanapun malam ini aku akan bertemu dengan seseorang yang aku tak pernah kenal, dan maksud kedatangan lelaki itu adalah sebagai perkenalan menuju Khitbah. Kedua kakak iparku mengapitku, aku takut jika mereka tahu jantungku berdebar begitu keras. Suara dari ruang tamu terdengar samar. Kata-kata pendahuluan terdengar diucapkan oleh seorang laki – laki, logatnya bukan logat mesir, walaupun dia berbahasa Arab, kemudian Syech Hassan mengambil alih. ”Kehadiran kami kali ini mudah – mudahan menjadi awal dari sebuah hubungan yang insya Allah jika setelah pertemuan ini kedua belah pihak menyetujui, akan ada pertemuan lebih lanjut untuk membahas ke arah hubungan yang lebih serius…. perkenalkan ini anak saya Ahmad Fauzan, pendidikannya dokter. Sebetulnya dia memang bukan anak kandung saya, tapi sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu, dia menjadi murid saya di Mesir. Hubungan kami sudah seperti anak dan bapak, Fauzan sudah saya anggap anak saya sendiri, sejak dia menjadi seorang muslim……” Syech Hassan terdengar lancar, aku agak sedikit kaget, dia adalah seorang mualaf !!!
“Tapi mohon jangan dilihat bahwa Fauzan baru menganut islam 5 tahun, tapi lihatlah dia sebagai seorang muslim sejati, saya merasa Fauzan sudah kokoh sebagai muslim, oleh karena itu saya fikir ada baiknya jika diapun segera menikah…” suara Syech Hassan datar. ”Maaf Syech…. saya tak bisa memutuskan apapun, semuanya terserah anak saya…” suara Bapak matang. Ibu terlihat muncul dari ruang tamu, wajahnya terlihat gembira sekali. ”Zahwa… dia ingin melihat fotomu, bolehkan….?” suara ibu berbisik. ”Kau boleh lihat dari celah itu, dia berada tepat disamping Syech Hassan dia memakai baju gamis biru…..” mata ibu berbinar, ibu membimbingku untuk melihat lelaki itu, dari sebuah celah kecil aku mencari lelaki yang dimaksud ibu, mataku menangkap seraut wajah yang tentu saja ku kenal jelas, wajah Arnell Pieter Allbach !!!!
“Bu….yang disebelah Syech Hassan itu..?” tanyaku memastikan. ”Iya….” Ibu mengangguk, tiba-tiba saja aku kehabisan kata-kata. Aku duduk. “Bagaimana Zahwa boleh ibu bawa foto ini untuk diperlihatkan…?” suara ibu terdengar membuyarkan kekagetanku. Aku mengangguk, ibu tersenyum. Aku masih melihat dari balik tirai, wajah Arnell tampak sedikit berubah saat fotoku ditunjukan. ”Sepertinya saya pernah bertemu dengannya…” Arnell menatap ibuku. “Matanya mengingatkan saya pada seorang teman“ Arnell terlihat begitu yakin , suasana semakin hening, tiba-tiba saja Bapak membuyarkan keheningan itu. ”Mungkin saja selama tiga tahun anak itu berada di Jermaan, kemungkinan kalian pernah bertemu ada“ Bapak menatap Arnell. “Namanya Zahwa kan……..?” Arnell menyebut namaku dengan jelas. Seisi ruangan tiba – tiba menjadi hening. Syech Hassan mencairkan suasana, ”Syukurlah jika kalian pernah bertemu…. jadi acara perkenalannya tak usah lama-lama..” suasana menjadi cair. Ibu kembali menghampiriku. ”Nakal ya… anak ibu…. ada teman koq nggak bilang-bilang…” ibu menggodaku, aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. ”Tanggal pernikahan sedang dibicarakan, besok mereka datang lagi untuk acara Khitbah…” ibu membelaiku. Aku masih tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi, Arnell yang ku kenal tiba – tiba datang dengan nama Ahmad Fauzan Al Hilal, dan dia datang sebagai seorang anak dari Syech Muhammad Hassan, dan maksud kedatangannya kemari adalah untuk melamarku. Aku mereka – reka setiap kejadian yang ku alami, dari mulai aku bertemu Arnell di Tram untuk pertama kalinya, hingga aku kembali ke Kairo dan bertemu dengannya kembali di sebuah bis, itu ternyata rangkaian pertemuan yang memang telah dirangkai, hingga akhirnya malam ini kami bertemu kembali dalam suasana yang tak pernah ku duga.
“Pernikahanmu ditetapkan tanggal 5 bulan depan, Fauzan terlihat begitu berbinar ketika melihat fotomu tadi, sepertinya dia enggan mengembalikan foto itu pada ibu…” kata ibu sambil membelai rambutku, aku tersenyum malu. ”Kau kenal dia Zahwa…?” ibu bertanya, aku mengangguk. ”Bu… aku tidak pernah tahu keadaannya menjadi begini, tapi aku mengenalnya sebagai Arnell ….” Belum selesai ibu memotongku, ”Pieter Allbach…” ibu tersenyum, ”Dia baru masuk islam 5 tahun yang lalu, tapi perkenalannya dengan Syech Hassan sebetulnya sudah lama, hanya saja dia benar – benar berada dalam bimbingan Syech Hassan sekitar dua tahunan, dia rela meninggalkan kariernya di Jerman, demi menuntut ilmu agama bersama Syech Hassan, tapi kini dia sudah kembali bekerja sebagai seorang dokter bedah di Rumah Sakit di Prancis……….” Ibu panjang lebar, ”Dia terlihat sangat santun Zahwa, semoga kau bahagia…” ibu memelukku erat sekali, hatiku begitu tentram dan nyaman.
Besoknya upacara khitbah dilangsungkan, Arnell datang dengan rombongan keluarga Syeh Hassan. Inilah untuk pertama kalinya Arnell melihatku tanpa cadar, sebelum menikah memang diperbolehkan untuk saling bertatap muka, tapi itupun hanya sebentar, sebelum aku kembali di bawa menuju ruang belakang. Aku menatap wajah itu sekilas, Arnell nampak tersenyum, senyum yang damai, seperti saat pertama kali aku melihat senyum itu. Hatiku begitu damai saat itu. Upacara Khitbah hanya berlangsung tak begitu lama rombongan itu kembali pergi. Aku merasa sangat bahagia.
Pernikahan disepakati dilangsungkan dirumah Syech Hassan, sebuah acara cukup meriah namun sederhana di gelar, tamu yang hadir cukup banyak dari pejabat hingga buruh hadir, maklumlah Syech Hasan adalah tokoh terpandang di Kairo, karena Arnell yang adalah Fauzan sudah dianggap sebagai anaknya menikah, maka sepertinya seluruh kota Kairo tumpah ruah di rumah Syech Hassan. Pernikahan sendiri dibagi dua, tamu lelaki dan wanita terpisah. Aku memakai pakaian pengantin ala mesir. Suasana cukup meriah. Ketika akad nikah tadi Arnell hanya satu tarikan nafas untuk kemudian menjadikan aku syah sebagai istrinya, tapi hingga acara ini dimulai, aku belum bertemu lagi dengannya. Kami memutuskan melewati malam pertama di sebuah hotel yang berada di dekat sungai nil, Arnell sebetulnya yang memutuskan itu, aku turut saja, selesai acara walimah, aku menuju hotel bersama Arnell. Hatiku begitu damai saat itu, dan malam itu untuk yang pertama kalinya aku dapat memandang wajah lelaki itu dengan jelas. Wajah Arnell Pieter Allbach kini syah sebagai suamiku. Aku tak perlu lagi menundukan pandanganku saat menatapnya, aku tak perlu malu lagi jika ingin melihat mata coklatnya, bahkan saat Arnell mendekatkan duduknya ke arahku aku tak ingin bergeser sesentipun. Arnell Pieter Allbach lelaki Jerman bermata coklat, berkulit aria dengan rambut pirang itu telah resmi menjadi suamiku.
Bulan madu tak berlangsung lama, kami harus kembali menuju Prancis. Pekerjaan menunggu suamiku di sana. Sekarang Arnell atau Fauzan yang kini biasa ku panggil dengan nama sayang, adalah seorang dokter bedah disebuah rumah sakit di kota Paris, Prancis. Kami tinggal disebuah apartemen dekat rumah sakit suamiku bekerja, kebetulan komunitas di apartemenku lumayan banyak pendatang dari Turki dan Maroko. Sehingga aku tak terlalu kaku di lingkungan yang baru itu, mungkin suamiku memang sengaja memilih daerah itu sebagai tempat tinggal kami. Awal pernikahan cukup menyenangkan untukku, kami yang tak pacaran dulu sebelum menikah, merasakan awal pernikahan ini sebagai masa yang cukup romantis, dan masa itu kami lakukan atas ridho Allah, semuanya sudah halal untuk kami, suamiku ternyata orangnya cukup romantis, setiap hari ada saja kejutan kecil untukku, dia tak pernah lupa menelponku kala waktu makan siang tiba, atau bahkan dia sempatkan diri untuk pulang walau sebentar, rasanya kami begitu menikmati masa-masa perkenalan kami.
Setelah 7 bulan menikah aku merasakan hal yang aneh terjadi dalam tubuhku, waktu itu aku bangun pagi, tiba-tiba saja kepalaku rasanya berat sekali, punggungku rasanya mau patah, aku tak sanggup bangun. Hingga sholat subuh aku tak menyentuh air, badanku menggigil. Tapi suamiku terlihat tenang, ”Coba ku periksa detak nadimu…” suamiku memegang tanganku, wajahnya tersenyum, ”Sepertinya kau hamil…” katanya dengan mata berbinar, ”Detak nadi ibu yang sedang hamil lebih cepat dari wanita normal, maka kalau aku tidak salah, kita akan jadi ibu dan bapak….” Dia terlihat gembira, Suamiku mencium perutku, ”Sebaiknya kau ikut aku ke rumah sakit pagi ini, temui kawanku Maria dia seorang ginekolog…” Arnell tersenyum, ”Ibu tidur saja biar ayah yang bikin sarapan…” Arnell meninggalkanku menuju dapur. Aku merasa begitu bahagia. Maria memeriksa hasil urineku dan aku memang positif hamil, aku segera memberitahu ibu. Ibu dan Bapak kini tinggal di Indonesia, kabar itu rupanya membuat kedua orangtuaku pun bahagia, mereka berjanji jika aku melahirkan nanti, ibu dan bapak akan datang ke Prancis.
Kehamilanku yang pertama cukup membuat aku kerepotan, dari bangun pagi hingga tidur aku merasa lidahku pahit. Makanan yang asalnya jadi favoritku, kini tak berasa dilidahku. Untungnya keadaan itu hanya berlangsung dibulan-bulan awal kehamilan, setelah menginjak kandungan ke empat, aku mulai berselera makan. Makanya tubuhku semakin hari semakin subur. Usia kandunganku terus beranjak, tubuhku semakin gemuk. Kalau melihat ke cermin tak percaya rasanya, tubuhku yang dulu kurus, kini bengkak. Aku suka tertawa sendiri jika melihat wajahku dicermin, tapi suamiku bilang, setelah hamil aku bertambah cantik.
Perasaanku agak kurang enak belakangan ini, apalagi usia kehamilanku sudah menginjak bulan ke 9 dimana aku akan melahirkan, sementara suamiku lebih sering tak bersamaku akhir-akhir ini. Pekerjaan menuntutnya untuk membagi waktunya lebih banyak di rumah sakit. Aku pahami itu sejak awal karena aku menikah dengan seorang dokter, maka waktu pribadi kami harus rela diganggu deringan telpon yang mengharuskan Arnell kembali ke rumah sakit. Tapi aku selalu berdo’a semoga saja saat aku hendak melahirkan, Arnell ada bersamaku, bukan di ruang operasi.
Hari itu, Senin suamiku tak ada tugas di rumah sakit, kami sengaja memutuskan untuk berjalan – jalan di sebuah mall di dekat apartemen, ketika tiba – tiba saja perutku terasa begitu sakit. Suamiku segera membawaku ke rumah sakit, 12 jam dari saat itu, lahirlah seorang anak lelaki dari rahimku, anak kami diberi nama, Muhammad Khalid Al Malik Allbach. Setelah ada Khalid hariku tidak begitu sepi, apalagi kini ada orangtuaku. Hari – hariku terasa begitu lengkap.
Dua bulan saja Khaka begitu kami biasa memanggil Muhammad Khalid Al Malik, putera pertama kami. Arnell terlihat begitu sayang padanya, ada kebiasaan barunya sekarang, sebelum berangkat ke rumah sakit Arnell membawa jalan-jalan Khaka di taman apartemen, sepulangnya dari rumahsakit dia akan membacakan beberapaya ayat suci di telinga Khaka sebelum matanya terpejam. Khaka terlihat begitu senang jika ayahnya di rumah, kakinya menerjang tanda bahagia jika suara ayahnya terdengar dari jauh memanggil namanya. Kehidupanku rasanya mengalir seperti mimpi. Kehadiran Khaka telah menjadikan cinta antara aku dan Arnell semakin rekat.
Hari itu Khaka menangis tak henti-henti aku khawatir sekali, apalagi kedua orangtuaku sudah kembali ke Indonesia sejak seminggu yang lalu, aku menelpon suamiku, aku kabarkan Khaka demam tinggi, Arnell pulang, Alhamdulillah baru saja suara Arnelll terdengar dari balik pintu mengatakan salam, Khaka terdiam dari tangisnya. Arnell memeriksa Khaka dengan seksama, “Panasnya tidak begitu tinggi…. ini sakit biasa, tak usah diberi obat, susui saja…” Arnell melepaskan stetoskopnya, ”Anakku rindu ayahnya…” katanya sambil menggendong Khaka, kaki bocah lelaki itu menerjang kuat, tiba-tiba saja tangisan Khaka berhenti.
Malamnya setelah Khaka terpulas, Arnell mengajakku menuju taman apartemen, ”Biar Constanti yang menjaga Khaka… kita ketaman sebentar” ajak Arnell, Aku mengiyakan. Memang sejak Khaka lahir waktu kami untuk berduaan tak lagi sebanyak dulu. Constanti adalah perawat Khaka yang dibawa Ibu dari Indonesia untuk membantuku karena sejak kehadiran Khaka tugasku semakin banyak. Udara agak dingin, Arnell memeluk pundakku, ”Kita sudah hampir dua tahun menikah ya…” suara Arnell datar, aku mengangguk, Arnell membawaku menuju kursi taman, dulu ditempat ini kami sering menghabiskan waktu berdua, membaca buku, atau sekedar untuk bercengkarama…..” Ada yang ingin ku bicarakan Zahwa…” tiba-tiba suara itu berubah serius. Aku menatapnya. Mata coklat itu seperti berusaha menghindari tatapanku, ”Ayah… ada apa…?” tanyaku. Mata itu seperti menyimpan kesedihan, ”Jaga Khaka untukku Zahwa, didik dia untuk menjadi anak yang sholeh….” Mata coktat itu berair, aku tak mengerti maksud suamiku. ”Ayah…. ada apa…?” aku bingung. ”Aku akan menuju Palestina dua hari lagi, di sana banyak yang harus ku lakukan, keahlianku sebagai seorang dokter lebih banyak dibutuhkan disana, aku dan beberapa rekanku memutuskan jadi sukarelawan disana…” suara Arnell tersendat. ”Maksud ayah..?” pertanyaanku membuat mata suamiku micing. ”Jika aku tak kembali insya Allah do’akan aku sahid… jika aku kembali berarti Allah masih menginginkan kita bersama melewati waktu…. mendidik Khaka…” suaranya benar-benar parau. Aku tertegun. ”Aku minta izin padamu Zahwa… aku menuju jihad yang sesungguhnya…” suara itu agak menguat. Aku tak menjawab. ”Di sini dokter bedah sudah tak terhitung jumlahnya, gaji kita disini lebih dari cukup, tapi di jalur Gaza sana dokter sangat sedikit tapi korban bergelimpangan tiap hari aku terpanggil Zahwa… izinkan aku………..” tiba-tiba Arnell bersujud di kakiku dia menangis di pangkuanku, aku menangis. “Apa yang harus ku katakan ayah……….. jika itu maksudmu aku hanya bisa berdo’a….” aku tersendat-sendat, ”Tapi bagaimana dengan Khaka..?’ kataku lagi. ”Dia ada ibunya….” Arnell kembali ke kursinya. ”Tapi dia juga butuh ayahnya..” timpalku. ”Di sini seolah kita mencari kesempurnaan Zahwa, di Gaza sana entah berapa orang anak yang lahir tanpa pernah melihat wajah ayahnya…” suara itu tegas. Aku tak berkata apa-apa lagi, keputusan Arnell pasti sudah teguh. Kami kembali menuju apartemen, mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Arnell memeluk pundakku erat sekali.
Kau pulang saja ke Indonesia besok, aku antar kau… ini ada tabungan sedikit, kau jadikan modal usaha disana…. hanya sedikit memang… aku tak bisa memberimu harta yang lebih… maaf… semoga saja kita bertemu lagi Zahwa…” Arnell memelukku erat sekali, aku menangis sejadi-jadinya.
Besoknya aku, Arnell, Khaka dan Constantine menuju Indonesia, wajah Arnell seolah tak menujukan bahwa dia akan berpisah dengan anaknya. Sepanjang perjalanan dia asyik bermain dengan Khaka. Bocah itu terlihat begitu bahagia…. Orangtuaku kaget menyambut kedatanganku. “Ada apa Zahwa…?” ibu berbisik, apalagi ibu melihat dengan jelas, mataku yang sembab, aku hanya menggeleng. Arnell hanya semalam bersama kami. Suamiku langsung menuju Kairo, di sana bersama dengan beberapa temannya dia bersiap menuju Palestina. Wajah itu menjauh dariku sejengkal demi sejengkal, langkahnya semakin jauh meninggalkan aku dan Khaka, “Aku mencintaimu Zahwa, juga Khaka, tapi cintaku pada Allah harus melebihi cintaku pada kalian, aku berangkat… assalamualaikum…” itulah kata-kata terakhir Arnell di telingaku. Surat Al Ikhlas, Al Falaq dan Annas menjadi surat terakhir yang dibacakannya di telinga Khaka. Suamiku pergi mungkin menuju… Syahid.
Setelah Arnell pergi aku ceritakan semua pada ibu, wajah ibu tiba – tiba berubah, matanya menangis. ”Sebetulnya ada yang belum ibu ceritakan padamu…” suara ibu tersekat. ”Ada apa bu…?” tanyaku. ”Faturahman Al Hanif… telah lebih dulu menuju Palestine, sudah dua bulan tak ada kabar “ ibu menangis. Entah mengapa hatiku kini seolah sekuat baja, aku tak mungkin menangisi seorang yang pergi menuju syahid.
Sebulan pertama, kabar Arnell masih dapat ku terima, kami masih berkomunikasi lewat internet, kadang Arnell menelpon. Suara Khaka membuatnya terbahak… Dua bulan berlalu pun Arnell masih terdengar kabar, Aku sempat menyuruhnya mencari informasi mengenai Faturahman AL Hanif. Hari itu rupanya telpon terakhir yang ku dapat, selang dua bulan dari itu Arnell tak pernah lagi menelponku. Ku baca dari koran suasana di Gaza memang semakin meningkat, apalagi pasca penculikan seorang tentara Israel oleh pihak Palestina. Bom banyak berguguran disana. Aku menatap berita ditelevisi dengan ketakutan. Hingga satu tahun berlalu Arnell tak pernah memberi kami kabar lagi… apakah dia telah syahid….?!!! aku tak pernah tahu.
Kehidupan bagai sebuah cerita pendek, rasanya baru kemarin aku bertemu Arnell di sebuah Tram, kemudian cerita berlanjut hingga akhirnya kami menikah, memiliki hidup yang waktu itu kami pikir nyaris sempurna, dan akhirnya aku kini ditemani Khalid anak semata wayangku menjalani sebuah cerita kembali yang aku sendiri tak pernah tahu akan berakhir seperti apa dan bagaimana…….. Ya Allah lindungilah kami…!!!!!
(Untukmu para syuhada… kecil kami dihadapanmu….)Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (Qur’an, 4:75)
(Untuk kedua anak dan suamiku do’a mami selalu berserta mu…)

Masha Allah………………………….bagus banget yah
Asl. ikutan kasih respon yach… Idem, subhanalloh……… baguuus banget…. wah jd ingin s/ Zahwa… bisa tolabul ‘ilm sampe ke beberapa negara di luar negeri…. eh waktu Arnell/Fauzal mo berangkat jihad ke Palestina, wah kebayang kita ada diposisi Zahwa, pengen ikutan nangis dech…. sip dech buat cerpennya.
cerpen yang gak terlalu pendek, tapi cerita yang bagus sekali, tentang suatu aliran kehidupan yang sudah ditentukan sebelumnya