Wanita Itu Juga Istri Suamiku
Menikah dengan Trihatmanto usiaku waktu itu baru 20 tahun, kuliahku di Universitas Padjajaran sastra inggris belum kelar, sedang Mas Tri begitu aku memanggil suamiku baru lulus satu tahun. Mas Tri anak seorang Jendral waktu itu, tapi waktu aku mengenal Mas Tri aku suka karena beliau mandiri. Walau pun dari keluarga jendral tapi pola hidupnya sederhana, nggak macem – macem. Jaman itu seorang Jendral di negeri ini penguasa betul, militer rasanya jadi sosok yang menakutkan, jangankan anak Jenderal, anak kopral saja biasanya sombongnya setengah mati. Tapi Mas Triku tidak. Dia santun, bahkan kami bertemu pun di
kawasan mesjid Salman ITB, kadang bertemu pula jika ada pengajian minggu di Mesjid Istiqomah jalan Citarum Bandung. Jika ingat masa itu kami sering ketawa – ketawa sendiri, jaman itu aneh sekali, aku yang katanya aktivis tapi malu kalau pakai jilbab. Dulu orang pakai jilbab itu kelihatannya norak sekali, nggak kaya jaman sekarang, artis pun banyak yang berjilbab. Alhamdulillah.
Pernikahanku sungguh bagai pestanya raja dan ratu, karena Mas tri anak bungsu dari tiga saudara yang ketiganya laki – laki maka pernikahan itu diselenggarakan cukup meriah. Dua orang kakak mas Tri semuanya masuk AKABRI Cuma Mas Tri yang nyasar ke ITB begitu kata mertuaku. Mas Tri memilih hidup mandiri bekerja pada sebuah perusahaan minyak milik negara, maka tempat pertama kami singgah adalah sebuah tempat yang sangat jauh dari kota besar tempatnya di pulau Kalimantan, Pulau bunyu namanya. Kantor memberikan kami sebuah rumah dinas. Waktu itu suasananya cukup menyeramkan untukku yang sudah biasa tinggal di kota besar, belum lagi jarak menuju kota Balikpapan dari pulau itu harus menggunakan helikopter, awalnya aku takut, tapi lama-lama terbiasa. Awalnya jika ada monyet masuk rumah aku teriak tapi lama – lama aku biasa, bahkan jadi hiburan. Tugas Mas Tri sering berpindah oleh karena itulah dari 4 orang anakku semuanya tempat kelahirannya berbeda. Anakku yang pertama lahir di Balikpapan, anak kedua lahir di Prabumulih, anak ketiga lahir di Bandung waktu itu suamiku sedang tugas belajar di ITB untuk S2 nya sementara anak keempatku lahir di Cirebon. Anakku semuanya laki – laki masing-masing ku beri nama, Syahreza, Faatir, Fahrulsyah dan Hanif.
Waktu berlalu begitu cepat, seringnnya berpindah tempat membuat pergaulanku cukup luas, di samping jadi ibu rumah tangga aku ada bisnis kecil – kecilan. Biasanya di manapun suamiku di tempatkan, aku jadi penyelenggara catering. Maklum biasanya istri – istri rekan suamiku biasanya sibuk juga dengan kegiatan organisasi tempat suaminya bekerja, makanya bisnis cateringku lumayan ada hasilnya juga. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat suamiku pun akhirnya menetap di Jakarta, usianya sudah tak memungkinkan lagi kerja lapangan, dan sekarang pun jabatannya sudah lumayan. Maka anak – anak tumbuh besar di Jakarta, hidup ku mengalir seperti ibu rumah tangga kebanyakan, urus anak dan suami sambil mengontrol bisnis cateringku. Terkadang ada keributan kecil tapi tak berlangsung lama, kami sepakat sejak menikah dulu semua masalah harus dikembalikan pada sebabnya. Melanggar Qur’an atau hadist ? jika tidak itu bukan masalah serius, jadi harus segera padam sebelum berkobar.
Syahreza memilih kuliah di ITB, kehilangan satu anak untuk kuliah, rasanya ada yang kurang, biasanya tiap sarapan aku siapkan lima piring, kini cuma empat. Ada kesepian dalam hatiku, padahal sebentar lagi Faatir pasti menyusul untuk meninggalkanku, dia pun katanya ingin menuju ITB seperti Reza. Enggan rasanya melarang. Mereka kan sudah tumbuh dewasa, mereka sudah berhak menentukan jalur hidup masing-masing, tak pantas aku egois pada diriku sendiri, sebagai ibu aku hanya bertugas merawat, mendidik agar mereka menjadi orang yang berguna bagi agama dan bangsanya . Aku tak pernah memiliki mereka, anak – anak hanya titipan yang suatu hari nanti pemberi titipan itu akan menanyakan bagaimana caraku merawat titipannya. Semuanya hanya sementara.
“Fatir ikut kak Reza di Bandung ya Bu… Fatir mau ngambil jurusan Informatika seperti Kak Reza, jadikan buku – buku Kak Reza ya ke pake juga sama Fatir…” Fatir menyampaikan keinginannya. ”Terserah Kau… ibu dukung, asal kamu serius dan tidak kecewakan ibu ya…..” kataku sambil membelai rambutnya. ”Fatir pasti rindu masakan ibu, jika nanti di Bandung, wah, jadi anak kos nih kita…”, suara fatir diikuti gelak tawa adik – adiknya. Maka sesuai keinginannya Fatir di terima di ITB tapi jurusannya Arsitektur dia tidak lulus di Informatika. ”Gimana Fatir, masih mau ke Bandung…?”, tanyaku. ”Iya Bu, Arsitek juga Fatir suka koq… nggak papa kan bu…?”, Fatir meminta pendapatku. ”Ya, terserah kamu, Arsitek juga bagus ya, mungkin jangan semuanya Informatika Tir, beda – beda…”, kataku. Maka sejak itu Fatir kos berdua dengan Reza di Bandung, mereka pulang kadang sebulan sekali atau bahkan kadang dua bulan baru pulang. Aku mulai terbiasa dengan hanya dua anak di dekatku.
“Mas… nggak kerasa ya… sebentar lagi giliran Fahrul yang tinggalin kita…” kataku pada suamiku suatu hari. ”Ya, itu sudah harus terjadi Bu, mereka itukan cuma titipan, sebentar lagi lulus kuliah paling kawin…” suamiku menjawab sambil membaca koran. ”Rasanya baru kemarin ya Mas, aku melahirkan Reza di pulau Bunyu dan harus ke Balikpapan dengan Helikopter “ aku mengenang masa lalu. ”Iya, paling enak ya, waktu Fahrul lahir ya bu… kita di Bandung, Fahrul lahir di rumah sakit bagus, dokternya aja yang berpengalaman, kalau si Reza kan lahir sama bidan yang tangannya masih gemetar….” Suamiku ikut bernostalgia, kamipun bergantian bercerita tentang kenangan masing-masing anak satu persatu. “Ini baru ditinggal kuliah kita udah kesepian ya Pak, nanti kalau sudah pada menikah bagaimana..?” tanyaku. ”Nanti justru senang bu, kita punya cucu jadi rumah kita kembali ramai seperti dulu, wah kamu jadi eyang putri bu…” goda suamiku, aku tersenyum saja.
Usaha cateringku berkembang pesat.Kini aku ekspansi pada kue – kue basah. Sekarang aku punya sebuah toko di sebuah Mall, mungkin karena itu pula aku tidak begitu kesepian ketika anakku sudah mulai beranjak dewasa dan suamiku yang memang masih sering meninggalkanku untuk tugas di luar negeri. Aku punya kesibukan juga, jadi tak begitu membosankan jika hanya harus menunggu waktu mereka semua berkumpul. Kadang jika sedang berkumpul kami masih suka check-in di hotel untuk sekedar melepas penat, atau pergi ke puncak, atau kadang jauh sedikit menuju negara – negara tetangga. Hidup ini memang indah jika kita nikmati.
Fahrul memutuskan untuk kuliah di Bandung juga tapi dia memilih UNPAD katanya mau jadi pengacara makanya ambil fakultas hukum. ”Kak Reza dan Kak Fatir kan ambil tekhnik, Arul ambil hukum aja ya bu…” Fahrul meminta pertimbanganku. ”Mana yang baik menurutmu ibu setuju, ibu nggak maksa kalau kau tak suka…” kataku menjawabnya. ”Tapi Bapak bu, dia bilang Arul disuruh ambil Informatika juga kaya ka Reza atau elektro, Arul nggak mau..” Arul manja. Memang diantara ketiga anakku Arul atau Fahrul inilah yang paling manja. ”Ibu yakin Bapak nggak maksa, Bapak Cuma kasih pertimbangan, boleh kan..?” aku menjelaskan. ”Ibu bicara sama bapak ya, besokkan sudah harus Arul putuskan bu, 2 hari lagi testnya…”, Arul duduk merenggut. ”Sekarang belajar yang baik, berdo’a, nanti Allah kasih petunjuk…” aku menatapnya. Arul mengangguk.
“Pak… kau suruh Arul masuk ITB juga…?” tanyaku setelah Mas Tri selesai makan malam. ”Bukan nyuruh Bu, tapi kasih masukan, setahuku anak laki kan sukanya tekhnik” jawab Mas Tri sambil duduk di sofa. ”Nggak semua dong Pa, lho adikku si Rahmadi kan kuliah di ekonomi…” jawabku. ”Maksudku sih supaya kita ITB semua Bu…” Mas Tri tersenyum. ”Bapak… jangan maksa – maksa dong, nanti malah sekolahnya nggak beres bagaimana, terserah Arul aja, dia mau ngambil hukum, nggak papa kan..? kataku sambil duduk disampingnya. ”Ya, kalau itu keputusan dia ya sudah, ini kan cuma sebaiknya, wong kakaknya semua ITB koq…” Mas Tri membela diri. ”Jangan menyamakan Pak, Arul kan beda…” kataku. ”Entahlah Bu… aku sih koq pengennya semuanya masuk ITB…. aku salah ya…?” Mas Tri memandangku. Aku hanya mengeryit, biasanya jika pandangan itu sudah keluar Mas Tri nggak mau di bantah. Aku menyerah dulu.
Ternyata Fahrul sama sekali tidak diterima diperguruan tinggi negeri, Mas Tri marah besar. Fahrul jadi bulan – bulanan. Aku ingin menangis melihatnya, Fahrul hanya diam, down kelihatannya anak itu, apalagi Mas Tri selalu membandingkannya dengan Reza dan Fatir. Membuat Fahrul semakin tak percaya diri. Mas Tri enggan menyuruh Fahrul masuk universitas swasta, tahun depan Fahrul harus masuk, sekarang Fahrul ikut bimbingan belajar intensif, dan harus masuk ITB.
“Pak… bapak keterlaluan… Fahrul kan anak kita, koq Bapak begitu. Bapak inget nggak dulu Eyang Kakung nyuruh bapak masuk AKABRI bapak malah masuk ITB, Eyang Kakung marah tapi setelah itukan tidak, bapak koq jadi lebih otoriter, coba kalau kemarin Fahrul milih UNPAD dia kan sudah kuliah Pak…” aku marah besar. Mas Tri diam. Dia memilih pergi. Entahlah tidak diterimanya Fahrul di ITB sepertinya membuat Mas Tri malu pada rekan – rekannya yang katanya semua anaknya keterima. “Aku ngalah…..” Mas Tri tersekat, ”Maksud bapak…?’ aku memandang, ”Aku ingat kesepakatan kita waktu kawin dulu, kalau masalah itu tidak bertentangan dengan Qur’an dan Hadits jangan jadi masalah besar, kemarin aku khilaf, suruh Fahrul pilih universitas swasta yang bagus… aku terima…. maafkan aku bu…” Mas Tri terduduk dalam sajadahnya. Aku mencium tangannya, kejadian itu tepatnya habis sholat isya. Aku segera menuju kamar Fahrul dan menceritakan semuanya, Fahrul bahagia sekali, dia memutuskan masuk Universitas Pancasila. Dengan begitu dia tak jauh dariku. Aku setuju saja.
Hari itu aku sedang sibuk di salah satu toko ku di sebuah Mall, ketika telpon tak kukenal masuk ke Handphoneku. ”Halo… darimana..” tanyaku, ”Ini RSPP bu, baru saja Pak Trihatmanto masuk UGD diantar supirnya setelah bermain golf, ibu bisa langsung kemari…” jawaban itu membuat handphone ku jatuh. Salah seorang pegawaiku mengambilnya, dan kembali menanyakan apa yang terjadi. Diantar beberapa orang pegawai dan supir aku menuju rumah sakit, seorang pegawaiku mengabari semua anak-aanakku. Aku diam. Aku tak bisa berfikir hanya berdo’a. Aku masuk rumah sakit dengan guntai aku merasa sesuatu yang buruk terjadi. Ternyata benar disitu sudah ada Fahrul dia memelukku, dan mengabarkan hal yang tak pernah ku duga. “Bapak… sudah meninggal bu… sabar ya…”, Fahrul memelukku erat sekali. Air mataku tak sanggup keluar, aku duduk terhempas di kursi tamu rumah sakit, rasanya tadi malam kami masih bermesraan, tertawa…. kini… semuanya sudah berlalu. Dipapah Fahrul aku masuk menemui suamiku yang sudah terbujur kaku. Aku menatapnya dan kemudian merangkulnya… untuk terakhir kalinya. ”Bapak…”, aku akhirnya menangis. Suasana duka semakin terasa ketika Hanif datang dengan pakaian putih abu – abu, dia dipapah Rahmadi adikku, kemudian satu persatu anakku datang, kemudian siang itu juga kami membawa jenazah suamiku menuju rumah untuk segera dishalatkan dan dimandikan, karena selesai belum terlalu sore kami memutuskan untuk segera menguburkannya. Mas Tri dikubur di pemakaman keluarganya, di daerah depok, disitu keluarga Subrata, ayah mas Tri punya sebidang tanah yang memang diperuntukkan untuk pemakaman.
Aku masih merenung malam itu, ketika seorang pembantuku mengetuk pintu,”Maaf bu… ada tamu…” Inah suaranya lembut sekali, ”siapa…?” tanyaku. ”Kalau mau pengajian langsung aja ke ruang tamu seperti yang lain, ibu masih mau sendiri..” jawabku, ”Ini penting katanya bu… dia mau bertemu ibu langsung…” Inah menjawabku. ”Tolong ketemu Reza dulu Nah… ibu nggak bisa terima tamu..” jawabku, Inah menutup pintu lalu pergi. Suara orang ta’ziah di luar ramai sekali mereka bergantian membaca ayat suci al Qur’an. Sesekali ada tamu yang masuk untuk bersalaman, aku dikamar ini ditemani Hanif anak bungsu ku yang juga sedang membaca alqur’an tapi suaranya dipelankan, kelihatannya dia menahan tangis.
Seminggu sudah suamiku dimakamkan, sedikit demi sedikit tamu mulai berkurang, aku pun mulai berani keluar kamar dan berpapasan dengan orang, ketika suatu saat aku sedang duduk di taman belakang rumahku, inah memberitahuku, ”Bu… tamu yang waktu itu datang lagi… penting katanya…” Inah membisik. ”Ibu… sehatkan…?” Inah menatapku. ”Suruh masuk aja, temui aku disini…” suaraku agak pelan. Inah pun beranjak. Tak lama kemudian seorang wanita kira-kira berumur 35 tahunan masuk. Ada seorang anak di sampingnya, kira – kira umur anak itu 7 tahunan. Wanita itu menyembunyikan wajahnya. Dia tertunduk. ”Siapa ya…?” tanyaku, aku setengah kaget ketika wajahnya diangkat, setahuku ketika di rumah sakit, wanita itu sudah ada, sepertinya dia bukan wanita asia. Matanya biru namun rambutnya tak terlihat karena tertutup jilbab, kulitnya pun terlihat berbeda dan kemudian ketika suamiku dimakamkan dia pun turut serta bahkan dia sempat memelukku kemudian mengucapkan belasungkawa. ”Maaf… siapa ..?” aku mengulang kali ini dalam bahasa inggris. Wanita itu tersenyum, dia membenarkan letak jilbabnya. ”Silahkan duduk…” kataku, wanita itupun duduk tepat didepanku. ”Maaf jika ini tak seperti yang ibu bayangkan, Pierre tolong main diluar dulu ya…” wanita itu menyuruh anaknya pergi, rupanya dia mahir berbahasa indonesia, anak itu mencium tanganku lalu pergi, di depan rumahku memang ada semacam taman bermain kecil, sepertinya dia menuju kesana. ”Inah, tolong temani ya..” kataku, mereka berdua menuju ke sana.Wanita itu tiba – tiba menangis, kemudian dia mengambil sesuatu dari tasnya, sepertinya sebuah foto, kkemudian dia menyerahkan kepadaku. Aku kaget setengah mati, ”Astagfirullah…” aku melihat foto itu dan di situ ada foto Mas tri dan wanita itu sepertinya dalam suasana pernikahan, kemudian surat yang ditandatangani oleh mas Tri, sebagai mempelai laki – laki, Aurora mempelai wanita dan dua orang saksi masing-masing Permana dan Dinar. ”Maaf, sekali lagi maaf… saya tidak bermaksud membuka luka ibu, saya tahu ibu sedang berduka, tapi saya juga butuh agar ibu tahu, saya bingung kapan memberitahukan ibu, tapi… mungkin sekarang waktunya…” suaranya rendah sekali. Aku diam. Ada ketidakpercayaanku padanya. ”Anak itu namanya Pierre Muhammad Syahreza Trihatmanto, sama kan dengan nama anak ibu yang pertama, Mas Tri yang memberikan nama itu“, suara wanita itu agak menguat. ”Saya tak minta apa-apa bu… saya hanya ingin ibu tahu… kalau ibu tak percaya, tanya Pak Sumardi anak buah bapak, waktu kami menikah dia ada…” suaranya kini datar. Aku menatapnya dalam – dalam, ”Kau tahu waktu menikah dengan suamiku bahwa dia beristri…?”, akhirnya suaraku keluar. ”Mas Tri cerita semua pada saya bu…” suara itu lemah sekali, ”Lalu kenapa kamu mau menikah dengan lelaki yang sudah beristri….?” Tanyaku dengan tangis tertahan. ”Maafkan saya bu, saat itu semuanya tak seperti yang ibu bayangkan… kami menikah bukan karena bapak tak setia pada ibu, tapi karena keadaan…” suaranya tersekat. ”Kalian menikah dimana…?” tanyaku. ”Seperti tercantum di surat itu bu, kami menikah di Washington DC. Saat itu Bapak ada tugas belajar selama 3 tahun disana…” suaranya tersekat. Aku ingat sekarang, 7 atau 8 tahun yang lalu mas Tri pernah tinggal di Washington kurang lebih 3 tahunan, waktu itu aku tidak bisa menemani, karena waktu itu ibuku sakit keras, karena ibu hanya mempunyai dua anak Rahmadi adikku dan aku, maka aku sebagai kakak tertua harus lebih memperhatikannya, ibu meninggal setahun setelah sekolah Mas Tri selesai. Aku diam. ”Maaf bu…” suara wanita itu membuyarkanku. ”Kau juga di sana waktu itu… kau..” suaraku dipotongnya. ”Saya pun sama dengan bapak berada di sana dalam tugas belajar, kami ketemu saat ada jamuan di kedutaan pada waktu 17 agustus, lalu hubungan kami berlanjut, karena bapak takut jika hubungan kami yang semakin akrab itu justru jadi tak terkendali, kami sepakat menikah… kemudian disaksikan oleh para relasi kami menikah di apartemen milik saya, maafkan saya bu, saya yang salah…” wanita itu terdiam. ”Setelah di Indonesia hubungan kalian berlanjut…?” tanyaku. ”Sebetulnya tidak juga, karena waktu itu sebetulnya saya minta mas Tri memilih antara saya atau ibu, tapi mas Tri rupanya lebih memilih ibu, saya mundur…”wanita itu tertunduk. ”Tapi sebulan yang lalu Pierre sakit, dia ingin ketemu bapaknya, makanya saya datang kemari lalu saya menemui bapak di kantor, Pierre senang sekali, tapi sejak itu Pierre semakin manja dan dia ingin terus ketemu bapaknya, hingga kemarin sebelum bapak meninggal kami sedang main golf bersama, tiba – tiba bapak pingsan setelah itu…” dia menangis. Hatiku semakin tertohok, ternyata sesaat sebelum meninggalnya Mas Tri ada bersama wanita selain aku. ”Bu, maaf tapi yang membuat saya datang kesini adalah satu hal, Pierre akan sekolah dia butuh akte kelahiran, saya mohon ibu ikhlas nama Trihatmanto ada dibelakang nama Pierre anak saya…” suaranya matang. Aku tak menjawab. Aku bangkit dan masuk kamar.
Aku tak tahu apa sikap yang harus kuambil, hatiku sakit rasanya ternyata selama ini Mas Tri punya rahasia besar yang disembunyikannya rapat-rapat. Dan aku sama sekali tak mencium sedikitpun kejadian itu. Ingatanku menerawang pada peristiwa saat Mas Tri baru pulang dari Amerika. ”Bu, setelah beranak empat kamu tetap sayangkan sama aku..?” Mas Tri memandangku. ”Ah bapak, kaya anak muda aja pertanyaannya..?” sergahku, ”Aku tanya boleh dong…” Mas Tri tersenyum, ”Pak, hati seorang ibu itu elastis, ada empat anak yang pada keempatnya pun cintanya seratus persen, pada suami juga seratus persen jadi hati ibu itu isinya mungkin bisa seribu persen…” jawabku. ”Kalau bapak bagaimana..?” aku balik bertanya, ”Ya sama, aku cuma ingin kau yakin jika suatu hari kau ragu kalau aku tak lagi peduli padamu, maka tanyakan pada hatimu sendiri, karena hati itu punya 1000 persen rasa sayang, hadirnya anak – anak tak membuatmu menjadikan tak lagi sayang aku, aku juga sebaliknya…” mas Tri tersenyum. Waktu itu aku tak mengerti maksudnya, mungkin hari inilah aku tahu mengapa saat itu mas Tri menanyakan hal itu padaku. Aku ambil air wudhu lalu sholat. Aku belum mengambil keputusan, apakah masalah ini akan ku ceritakan pada anak – anak atau tidak, masih ku fikirkan dalam-dalam. Esoknya aku menghubungi Sumardi. Bagaimana pun aku harus me-ricek berita ini. Sumardi datang agak sore, sengaja ku suruh Hanif tak mendengarkan pembicaraan kami. ”Sehat bu…”, Sumardi memberikan salam hormat padaku, dia duduk agak jauh dariku. ”Maaf bu, agak kaget juga, ibu menyuruh saya datang kemari…”, Sumardi menunduk. ”Saya pikir Pak Mardi sudah tahu apa yang akan saya tanyakan…”, aku menyerahkan sebuah foto dan surat kepadanya. Raut wajah Sumardi berubah. Dia menarik nafas dalam – dalam. ”Mohon maaf bu, tapi sebaiknya tidak saya ungkit lagi, toh Pak Tri sudah Almarhum…”, Sumardi terkesiap. ”Tak apa pak Mardi saya hanya ingin tahu kejelasannya, siapa wanita ini dan bagaimana keadaannya, justru karena Bapak sudah Almarhum maka saya tanya Pak Mardi” sergahku. Pak Mardi menghirup nafas lagi. ”Kejadiannya sudah lama bu, waktu itu kita lagi tugas belajar di Amerika, waktu itu istri saya ikut, tapi ibu tidak, mungkin Bapak kesepian, kemudian beliau berkenalan dengan seorang mahasiswi asal Prancis yang sedang belajar di Amerika. Tapi dia sekolah di sana atas bea siswa sebuah perusahaan penerbangan Indonesia waktu itu, namanya Aurora. Gadis itu baik, dia mualaf. Awalnya bapak hanya sebagai salah seorang narasumbernya mengenai islam, tapi lama – lama kemudian Bapak meminta pertimbangan saya untuk menikahinya, waktu itu saya bingung, akhirnya kejadian itu berlangsung. Bapak menikahi Aurora.” Sumardi tertunduk. ”Bapak mendukungnya waktu itu..?” tanyaku. ”Bu, tolonglah Pak Tri itu atasan saya, saya sungkan bu…” Pak Mardi diam. ”Bu, ini mungkin khilafnya Almarhum tolong dimaafkan…” kata Pak Mardi lemah. ”Sudahlah Pak Mardi, saya cuma mau tanya, apa ini benar atau tidak, saya kan tidak bisa menerima sebuah berita mentah – mentah, saya harus me-riceknya terlebih dahulu…” jawabanku matang.
Sulit sekali rasanya hati ini menerima kenyataan yang sedang berlaku. Aku ingin marah tapi untuk apa, aku mulai mereka mengapa hingga Mas Tri bisa membohongi aku hingga bertahun – tahun lamanya, hingga dia menemui ajalnya. Aku menangis. Aku mulai mereka – reka hatiku kembali. Serpihan yang hancur mulai ku tata. Aku ingin kelihatan tegar di mata anak – anak bagaimana pun juga masalah ini harus ku bicarakan bersama keempat anakku. Tapi aku tak ingin menjadikan masalah ini membuat mereka menyalahkan almarhum. Aku ingin mereka mengerti perbuatan ayahnya. Ini lebih baik dari pada berzina di luar sana, jika ini menyakiti hati kami karena berbohong, mungkin karena Almarhum memilih jika memberitahu justru hati kami lebih terkoyak. Bagaimanapun caranya, aku nanti menjelaskan masalah ini pada anakku, aku ingin agar mereka tak memandang masalah ini sebagai hal yang tabu. Setelah berkali – kali aku tahajud, hatiku mulai luluh dan mengerti keputusan Mas Tri, dan yang terpenting kini aku harus menceritakan pada anakku bahwa ada wanita lain yang menjadi istri ayahnya dan ada adik mereka yang lahir dari wanita yang berbeda.
Selepas sholat Isya kami berkumpul di mushola keluarga, ”Ada hal penting yang ibu fikir kalian harus tahu, tapi ingat kata – kata ibu ini sebelumnya, pandang ini dari kacamata agama yang selama ini diajarkan. Jangan pandang dari sisi perasaan atau kebanyakan orang, tapi fikir dengan hati jernih dan hati yang penuh asma Allah…” aku bercerita dengan tangis tertahan. Wajah – wajah anakku terlihat serius. ”Reza, Fathir, Arul dan Hanif, ini adalah masalah keluarga yang mungkin bagi sebagian orang adalah aib tapi bagi ibu ini adalah pilihan hidup. Ayahmu telah memilih melakukan hal itu dan ibu yakin sebelum ayahmu melakukannya pasti sudah difikir matang. Dan itu tak menjadikannya almarhum ketika melakukan itu lupa pada kita” suaraku tersendat. Aku menyerahkan foto itu dan surat kawin suamiku. Keempat anakku bergerombol menatapnya. Airmuka mereka berubah drastis. ”Ingat fikir itu dengan jernih…” aku mengingatkan. Reza memisahkan diri dari ketiga adiknya. Dia memilih pojok. Reza menangis. ”Reza… kenapa..?” aku menghampirinya. ”Ibu…” Reza memelukku erat sekali, diikuti oleh ketiga adiknya, kami saling berpelukkan. Setelah mereda aku kembali bicara, ”Ibu tahu kalian kaget, sedih atau mungkin juga marah, ibu tak akan minta kalian langsung dapat menerimanya, karena ibu pun perlu beberapa waktu untuk merenungkan kejadian ini sebelum akhirnya ibu mengambil keputusan untuk memberitahu kalian, karena ibu ingin saat kalian tahu hati ibu sudah mulai mengerti alasan apa yang menjadikan ayahmu mengambil keputusan itu” Tak satupun anakku bersuara. Mereka diam, ”Satu hal ibu ingin kalian camkan… Bapak tidak melakukan dosa, mereka menikah syah… secara agama… itu yang harus kalian camkan” aku kembali mengambil foto dan surat itu, ”Tapi kenapa Bapak tidak bilang… sama kita ibu terutama ibu..?” Reza mengawali perkataanya. ”Mungkin Bapakmu fikir jika ibu tahu, hati ibu akan sakit, sehingga lebih baik merahasiakannya…” jawabku. ”Tapi Bapak bohong bu…” Arul menimpali. ”Ibu takkan membela bapakmu, dalam hal kebohongan bapakmu memang salah, tapi hal lainnya, menikah lagi itu bukan dosa…” jawabku dengan keyakinan hati. ”Bu… apa ibu tidak sakit..?” Hanif menatapku. ”Ibu tadi bilang, ibu ingin mendudukan masalah ini pada tempatnya, bukan bertanya pada perasaan…” jawabku, ”Tapi ibu sakit hatikan…” giliran Fathir yang bertanya, aku mengangguk. Mereka kelihatan begitu kesal. ”Tapi ibu tak ingin melihat anak ibu begini…”. Aku menatap mereka satu-persatu. ”Kejadian ini memang berat, tapi ibu yakin kalian renungkan fikirkan dengan jernih. Bapakmu salah karena bohong, tapi mungkin di balik itu kita bisa ambil pelajaran, bahwa seberat apapun masalah itu kembalikan pada hal yang dasar, ayahmu tidak berzinah dan itu ibu salut. Mungkin dia lebih berfikir, lebih baik kalian membencinya begitu pula ibu daripada Allah yang membencinya jika Bapak harus berzinah, kalian laki – laki seperti Bapak, ibu yakin kalian mengerti…”, kataku panjang lebar. Mereka saling bertatapan. “Sholatlah nanti malam agar hati kalian lebih terbuka…” kataku sambil bangkit dan menuju ruang tidur. Langkahku gemetar.
Besoknya Reza menghampirku, ”Maafkan Reza bu…” Reza memelukku. ”Tak ada yang perlu dimaafkan nak… berat memang, tapi ibu yakin kalian anak – anak sholeh pasti mengerti mengapa Almarhum bapak mengambil keputusan itu..” jawabku. Satu persatu anakku berdatangan. ”Bu, siapa perempuan itu…?” Hanif bertanya. ”Ibu belum begitu kenal. Kemarin dia kesini, dengan seorang anak kecil, dia adikmu…” jawabku. ”Jadi mereka punya anak…?” Fahrul lemah. ”Namanya Pierre Muhammad Syahreza… sudahlah nanti ibu cari tahu lagi keberadaan mereka, sekarang kembalilah beraktivitas… sudah terlalu lama kalian tidak sekolah…” aku menatap mereka satu persatu, mereka pun mohon pamit dan pergi. ”Bu jika ada kabar baru hubungi kami ya…” Fathir menciumku. ”Ya…” jawabku, ”Assalamualaikum…” merekapun pergi. Dalam hati aku bersyukur mereka mengerti sepenuhnya yang ku maksud. Allhamdulilah.
Aku menghubungi Pak Sumardi dan menanyakan keberadaan wanita itu, ternyata Sugeng supir pribadi suamiku pun tahu di mana wanita itu tinggal. Menurut Sugeng sejak sebulan yang lalu wanita itu tinggal disebuah Apartemen di kawasan senayan. Kamipun menuju kesana. Wanita itu agak sedikit terkejut ketika menyambut kedatanganku, kelihatan sekali dia salah tingkah. Ada foto suamiku di ruang tamunya. Apartemennya cukup asri. ”Maaf… silahkan…” suaranya tersekat. Aku duduk. ”Nama saya Liana… panggil saja Lili… orang – orang biasa memanggil saya seperti itu“ kataku sambil mengulurkan tangan. ”Oh ya… maaf kemarin kita belum berkenalan, nama saya Aurora Clijster, orang memanggil saya Aimee” jawabnya. ”Saya tahu banyak tentang ibu dari bapak, almarhum banyak cerita”, Aimee membuka perbincangan. Aku hanya tersenyum, ”Pierre mana…?” tanyaku, ”Dia sedang di bawah bersama susternya…” Aimee menjawabnya. ”Aimee… anak – anak sudah saya beritahu, mereka menerima kejadian ini dan saya fikir kalian harus bertemu…” aku langsung pada duduk permasalahannya. Aimee sedikit terperanjat. ”Sebetulnya ada yang belum saya ceritakan kemarin, masa kontrak saya di Indonesia habis dua bulan lagi, sementara sebelum meninggal Mas Tri bilang Pierre harus sekolah disini, karena jika saya pulang ke Prancis, Mas Tri takut Pierre mendapat pelajaran agama yang kurang… makanya saya menghubungi ibu…” katanya panjang lebar, ”Jadi kau akan pulang ke Prancis..?” tanyaku Aimee mengangguk lemah. Ada kelelahan di matanya, mungkin dia juga sama denganku tak bisa tidur memikirkan semua kejadian ini.
“Sebetulnya tak ada niat sedikit pun dari saya untuk menyusahkan ibu, tapi jika mendengar dari cerita almarhum tentang ibu, saya jadi berfikir keras sebaiknya saya minta pertolongan ibu untuk Pierre…” katanya setengah memohon. “Maaf… saya kurang mengerti…” jawabku. ”Pierre sudah daftar sekolah di sini untuk tahun ajaran ini dia masuk Primary. Almarhum yang mendaftar dan memilih sekolah untuk Pierre waktu itu kita tidak tahu keadaannya bakal seperti ini…”, katanya dengan lemah. Aku hanya diam tak mengerti, ”Bagaimanapun saya harus pulang dulu ke Prancis, kini saya di sini bukan kontrak kerja dengan perusahaan Indonesia lagi, tapi dengan sebuah perusahaan penerbangan Prancis…. jadi Pierre mulai sekolah bulan depan sementara bulan depan saya harus pulang…. insya Allah tidak lama…” katanya menatapku. ”Maksud Aimee… bagaimana..?” tanyaku lagi. ”Maaf bu… saya mau titip Pierre… sebentar saja, mungkin sekitar tiga bulanan, insya Allah saya pulang…” katanya memohon. Aku terkesima, tak kusangka hal ini terjadi. ”Pierre ada suster jadi ibu tak perlu khawatir, mengenai uang sekolah dan biaya hidup saya akan bekali, saya hanya butuh orang yang dapat dipercaya yang mengawasi Pierre ketika saya pergi… sekali lagi maaf…” tiba – tiba dia tersungkur di kakiku, aku mengangkatnya. ”Sudah Aimee, mungkin Pierre memang harus kenal dengan kakak – kakaknya juga…” jawabku tanda persetujuan. “Terima kasih…” Aimee merangkulku erat sekali, dia menangis. “Jadi kapan kau akan pulang ke Prancis ?” tanyaku. “Sekitar dua minggu lagi..” katanya sambil melepaskan pelukannya. ”Kalau begitu sebaiknya kami harus berkenalan dulu dengan Pierre, bawalah besok ke rumahku. Kaupun mulailah tinggal di sana, agar Pierre tak terlalu kaget jika kau pergi nanti…” jawabku. ”Baiklah Aimee besok kau ku tunggu di rumah ya…” akupun bangkit dari dudukku. Aimee mengantarku hingga ke pintu. Pikiranku menerawang jauh, ketika seorang bocah kecil menabrakku, ”maaf…” katanya dalam bahasa Prancis. Bocah itu Pierre.” Aku hanya tersenyum membalas permintaan maafnya, dia pun terus berlari bersama susternya.
Sesampainya dirumah ku ceritakan semua pada Fahrul dan Hanif yang kebetulan sedang berada di rumah. Mereka mengabari kedua kakaknya di Bandung. Fatir dan Reza baru bisa datang tiga hari yang akan datang. Esoknya aku suruh Inah masak, makanan Prancis. Aku ingin menjamu Aimee dan Pierre. Sebuah paviliun yang terletak di dekat kolam renang yang biasa di peruntukkan untuk tamu menginap, sudah disiapkan untuk tempat tinggal mereka. Mereka datang sebelum Dzuhur. Setelah bersantap siang bersama dan kedua anakku berkenalan dengan Aimee dan Pierre kami menuju mushola untuk sholat. Ada tetes embun yang mengalir di hatiku, sejuk sekali, anak – anakku memperlakukan Aimee hormat sekali, begitu pula pada Pierre mereka ramah. Tiga hari kemudian Fathir dan Reza datang, merekapun sama tak ada masalah dengan keadaan ini. “Bu, nanti pierre panggil ibu apa..?” Hanif bertanya, “biar seperti sekarang saja, panggil ibu Granny… nggak apa-apa koq” jawabku. ”Aku juga panggil Tante Aimee tante nggak apa-apa kan…?” tanya Hanif. ”Terserah saja, Aimee dan ibu tak terlalu mempersoalkan panggilan yang penting kalian mengerti keadaan kami…” jawabku, Hanif tersenyum. Aku toh tak bisa langsung memaksakan semuanya. Hari yang direncanakan pun datang, Aimee pergi menuju Prancis dan Pierre tinggal bersama kami. Kehadiran Pierre cukup membuat suasana di rumah semarak, kini ada anak kecil. Hanif pun sering pulang cepat untuk mengajak Pierre bermain, Reza dan Fathir pulang lebih sering, mereka senang mengajak Pierre berjalan – jalan. Arul sering membantu Pierre mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pierre sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Kami tak peduli dengan perkataan orang di sekeliling. Toh ini adalah hidup kami, dan kami menjalaninya dengan ikhlas. Toh hidup ini adalah rangkaian dari ibadah.

Subhanallah, bagus banget. Ini beneran apa bohongan?
subhanallah…hati ibu begitu iklas, bgitu juga dengan almarhum dan anak2 kalian….
tergetar hati ini membaca kisah anda…..
hanya bisa mengucapkan SUBHANALLAH
kisah yang bagus
Thema cerita ini, bagus sekali, seperti juga (kalau saja)dituang dalam karya novel yang ditulis oleh Habiburahman el Siradji, spt “Ayat-ayat Cinta” , atau “ketika cinta bertasbih” …. bisa menambah karya sastra islami yang bermanfaat dalam dakwah lewat novel … kalau ini kisah nyata, sepertinya profil Ibu Husna, memang ibu teladan dalam mendidik anak dan keluarganya …
salam,
bs 08151811335