cinta untuk amira
Memandang Amira saat terlelap adalah kegemaranku belakangan ini, menatapnya mulai dari ujung rambut hingga kakinya ,seakan tak pernah percaya jika semakin hari tubuhnya semakin besar……Amira bukan lagi bayi mungil yang bisa ku gendong, tapi sudah tumbuh…..dia sudah berumur 5 tahun, tak terasa…waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru saja kemarin Amira masih sangat kecil, bayi berkulit merah yang hanya bisa menangis jika popoknya basah, kini Amira hampir menginjak usia sekolah dasar…..kulitnya putih..berhidung mancung….Amira tumbuh mirip seperti ibunya….Kak Imelda……….aku lantah jika menyadari siapa sebenarnya Amira untukku, Amira memang bukan anak yang lahir dari rahimku sendiri. Galau setiap kali menyadari bahwa Amira setiap hari tumbuh besar, akankah Amira kembali ke pangkuan Kak Imel, karena bagaimanapun Kak Imel adalah ibu kandungnya, akankah Amira marah padaku karena telah memisahkannya dengan ibunya, akankan Amira menatapku seperti tatapannya hari ini, tatapan anak kepada ibunya….ataukah Amira akan menjauh dariku dan mengganti panggilan Mama menjadi Tante jika saat itu tiba, galau hatiku rasanya sudah semakin tak terbendung, apalagi pertanyaan Amira sebelum tidur tadi, menohok bathinku yang terdalam, ‘Ma….betul kata Kak Sari….Amira bukan Anak Mama….. ?’ pertanyaan itu sontak membuatku limbung, ingin sekali aku marah pada Sarita kakak kandung Amira yang berbeda 4 tahun darinya, ‘ Kak Sari iri…mungkin karena Mira..punya Mama yang sangat sayang pada Mira ya..Ma…. ?’Amira memelukku, aku masih terdiam, pertanyaan seperti itu memang sudah ku duga akan dipertanyakan kepadaku suatu saat, tapi kapanpun pertanyaan itu datang, aku tahu, aku takkan pernah siap untuk menjawabnya…………ya..Allah………….aku menatap Amira dengan air mata, aku semakin takut akan kehilangan Amira, karena bagiku Amira….adalah…harapan………indahnya menikmati hidup sempurna layaknya wanita yang lain yang mampu hadir kedunia ini sebagai seorang ibu…yang melahirkan banyak keturunan….sebagai penerus…namaku dan nama suamiku…dan aku bukanlah wanita sempurna itu………………..aku memeluk Amira erat sekali……suara bel pintu berbunyi aku segera bangkit, pasti Mas Gunawan, suamiku, aku segera menyeka air mataku.Aku berusaha menyembunyikan kegalauanku. Tapi itu tak berhasil.‘Kau menangis…Winda…. ?’suamiku menatapku heran, aku segera memalingkan wajah, ‘Ah Papa…nggak…aku kelilipan..’ kataku berbohong, Mas Gunawan baru sampai, wajahnya masih terlihat capek,’Ayo..makan…aku sudah masak..pepes ikan mas kesukaan Papa…’ kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.Mas Gunawan memegang bahuku, ‘Win ada apa…. ?’ Mas Gunawan mematapku, kali ini pertahananku ambruk aku menangis dipundaknya, berat sekali rasanya menahan galau ini, ‘Win….ada apa… ?’ Mas Gunawan membelai punggungku,,aku menggeleng. Dan mencoba menenangkan hatiku yang sudah sangat lantah. Kehadiran Mas Gunawan justru membuat hatiku semakin beriak, Ya Allah……kenapa ketenangan yang sudah bertahun kami lewati harus sirna begitu saja’Kak Imel pulang….’ Bisikku. Aku merasakan ada aliran darah lain yang mengalir ditubuh Mas Gunawan, tubuhnya pasti sama lunglainya dengan aku saat itu. Mas Gunawan menatapku, seperti mencoba mencari cara agar dirinya tak seriak aku. ‘Sudah ketemu Amira…. ?’ suaranya tersekat,’Sudah….baru saja Kak Imel dan Sarita pulang ke rumah ibu, sementara mereka tinggal disana sebelum Mas Andri datang……’kataku,’Mereka pulang……… ?’ suara Mas Gunawan kembali goncang,’Ya…Mas Andri sudah tak lagi bekerja diperusahaan jepang itu, perusahaan itu kabarnya sudah hampir bangkrut, makanya mereka pulang….’kataku,’Lalu bagaimana dengan Amira……….’ Mas Gunawan setengah berbisik,’Amira tadi sempat bertemu dengan Kak Imel….tapi hanya sebentar, karena Amira sudah mengantuk…………’kataku. Wajah Mas Gunawan berubah pucat, fikirannya pasti sama denganku, kehadiran Kak Imel dan keluarga pasti untuk menjemput Amira, tapi alangkah teganya jika Amira harus tahu tentang semua itu diusia yang masih sangat kecil…………ataukah aku yang begitu tega hingga tak mau menyerahkan Amira ketangan ibu kandungnya……..ooh………
Hatiku menerawang pada saat pertama kali Amira lahir, saat itu Kak Imel terkena penyakit TBC (tuberculosis)akut, padahal Amira baru saja lahir. Belum genap satu minggu saat itu. Kabar itu mengejutkan kami di Indonesia karena saat melahirkan Amira Kak Imel ada di dikota Paris, Francis dalam rangka mengikuti tugas suaminya yang memang sedang ada tugas belajar di sana. Karena terkena TBC maka Kak Amira harus diisolasi selama kurang lebih 6 bulan di rumah sakit, maka Amira yang saat itu baru berumur 6 hari tak mungkin diurus Andri, karena mereka sudah ada Sarita dan Sarima anak kembar Kak Imel dan Andri yang hanya berbeda 4 tahun dari Amira, maka saat itu karena tak mungkin Mas Andri mengurus bayi pula, setelah berdiskusi panjang dengan seluruh anggota keluarga, Amira diputuskan ku bawa ke indonesia, setelah usianya mencapai 3 minggu, maka akupun terbang ke Paris bersama Mas Gun. Untuk membawa Amira. Ibu tak mungkin mengurus Amira karena bapak sudah tak sehat jika ditambah Amira ibu pasti kerepotan. Sedangkan di Paris tak mungkin untuk keluarga Kak Imel untuk punya seorang pembantu. Maka saat itu, saat pertama kali aku menggendong Amira, ada hangat yang menjalar ditubuhku, hangat yang sudah bertahun ku damba, hangat yang merasuk ke seluruh tubuhku yang mengisyaratkan aku tak pernah mau berpisah dengan malaikat kecil itu, wangi tubuhnya telah menyihirku…………aku merasa saat itu Amira adalah belahan jiwaku, yang selama ini aku nanti…………..
Saat Amira ku bawa ke Indonesia, memang tak ada kesepakatan apapun dengan Kak Imel dan Mas Andri hanya pesan, ‘Jadikan Amira anakmu ya…siapa tahu bisa jadi pancingan…seperti kata orangtua jaman dulu….tolong ya…win…’ hanya itu saja pesan Kak Imel, aku hanya mengangguk, ‘Tenang Kak….aku bisa urus Amira…yang penting Kakak sehat aja…dulu ya……….’kataku saat itu. Dan Amirapun ku bawa ke Indonesia, kuurus layaknya anakku sendiri…………dan hari ini setelah ratusan hari berlalu……….dimana Amira terbiasa memanggilku mama, ada wanita lain yang datang yang juga minta dipanggil mama………….aku mematung menatap langit, mungkin memang Amira harus pergi. Mas Gun memelukku erat sekali.Aku menangis.Tapi haruskah secepat ini………………… ?
‘Ma…………….’ Amira terbangun dia langsung memanggilku, aku dan Mas Gun memburunya , kami berdua berebutan memeluknya,’Ma…..panas…jangan lama-lama meluknya……..’ Amira berontak. Aku dan Mas Gun tertawa kecil, ‘Maaf ya Mira…Mama dan Papa rindu, abis Mira tidurnya lama…’ kata Mas Gun sambil mencium pipi Amira.’Ma…kak Rita mana… ?’ Amira menatapku,’Pulang ke rumah nenek…Mira mau main sama Kak Rita lagi ya… ?’ tanyaku,Amira mengangguk. Ada cairan panas yang mengalir dihatiku…..saat kehilangan Amira rupanya akan semakim dekat fikirku.’Nanti kita kerumah Nenek ya Ma….’ Amira merajuk, ‘Iya…nanti kita ke rumah Nenek……….’ Kataku lagi, ‘Janji…’ Amira merajuk, ‘Janji Mira…’ kataku, rupanya Mas Gunawan tak tahan dengan semua itu, dia segera beranjak meninggalkan kami, fikiranku kacau tak berarah, aku lantah………..jika harus kehilangan Amira Rahma.
‘Mama kenapa nangis…..’Amira menatapku dengan tatapan bocahnya, matanya menerawang seolah tahu kenapa aku menangis, bola matanya menari didepanku,merasuk ke dalam hatiku.’Ma…’Amira mengagetkanku, aku menatapnya dengan salah tingkah, seakan Amira ingin menghakimiku atas semuanya,’Mira sayang mama….mama nggak boleh nangis ya…..’suara itu bagai embun yang menyirami hatiku ada nafas lega didadaku.Aku memeluknya dengan segala kekuatanku, Ya Allah Amira….memang bukan anakku…tapi salahkah aku jika aku mencintainya seperti cinta ibu pada anaknya…..Ya Allah adakah waktu untuk berpisah dengan Amira tinggal mengitung waktu, akankah Amira menatap asing padaku, akankah Amira tetap seperti bidadari mungilku….yang menemani masa sunyiku…….air mataku deras tak terbendung.Aku enggan melepaskan Amira. ‘Ma….basah nih…bajunya..’Amira berontak dia mencoba keluar dari dekapanku.Tangan kecilnya menghapus air mata dipipiku, sebuah sentuhan yang sangat indah.Aku mematung didepannya, adakah semua ini adalah kesalahan dalam hidupku………..telah terlalu mencintai Amira padahal sudah jelas Amira bukanlah milikku….bukan anakku……….’Mama jangan nangis ya……Amira sedih…kalau mama nagis….’suara itu bening ditelingaku.Aku mengangguk lemah. ‘Janji Ma…..’suara Amira meniru suaraku jika Amira sedang menangis dan memintanya untuk berhenti menangis.Aku mengangguk lagi. ‘Amira main dulu sama Mba Sum ya……mama mau istirahat dulu sebentar..kepala mama pusing…..’ kataku sambil memegang kepalaku, Amira mengangguk lalu berlalu, Aku mencium keningnya sebelum bidadari itu pergi.
Mas Gun terduduk diranjang wajahnya pucat. ‘Mas…makan dulu….’kataku berhati-hati, Mas Gun menatapku,’Win….apa kedatangan Imelda adalah untuk mengambil Amira…. ?’Mas Gun seolah gusar,’Mas…Amira bukan anak kita…kita harus hadapi itu…..’kataku dengan perasaan hancur.’Tapi semuanya pasti tidak akan serta merta apalagi Amira masih terlalu kecil untuk mengerti tentang semua ini…..pasti ada proses…’kataku dengan tegar.Mas Gun menyandarkan kepalanya dipundakku.’Anak itu sudah seperti darah dagingku sendiri………..seolah dia memang lahir dari darahku….’Mas Gun seolah menggumam.Air mataku mengalir begitu saja.Aku sungguh tak pernah siap dengan keadaan ini, mungkin aku memang tak mau siap…….
Setelah mengantar Amira ke sekolah aku segera menuju rumah ibu. Perasaanku sangat kacau sejak semalam, aku ingin berbicara tentang Amira dengan ibu dan Kak Imel. Aku berusaha untuk tegar,setelah berdiskusi semalaman dengan Mas Gun, rasanya aku harus tahu bagaimana masalah ini dari sisi Kak Imel bagaimanapun Kak Imel adalah orangtua asli dari Amira.
Sesampainya di rmah ibu, suasana terlihat sepi hanya ibu yang terlihat membukakan pintu Mbok Nah tak kelihatan,Ibu tersenyum kearahku tapi senyum itu jelas terpaksa, aku tahu ibu juga pasti sama galaunya dengan aku, ibu begitu ingin jika Amira tetap bersamaku,Kak Imel muncul dari belakang pintu teras, Kak Imel menatapku dengan mata yang sembab, pasti telah terjadi hal yang tak ku ketahui, sehingga suasana dirumah ibu menjadi begitu tegang. ‘Amira…sekolah ya….Win… ? ‘Kak Imel memulai pembicaraan,’Ya…baru saja ku antar..’jawabku,’anak-anak mana… ?’tanyaku, ‘Rima dan Rita sedang diatas main dengan Mbok Nah….kebetulan kau datang Win…’kata ibu dengan suara tersekat.’tentang Amira kan Bu…. ?’kataku,’Win…..maafkan Kakak ya….tapi Mas Andri ingin agar Amira segera ikut dengan kami…..’kak Imelda seolah tak bisa lagi menutupi semuanya, aku lunglai saat itu juga,’Win….pasti ngerti kan…. ?’Kak Imel menatapku, aku menerawang menuju Amira, gadis itu memang benar-benar akan pergi dariku,’Tapi tentu tak semudah itu Mel…harus ada proses….Amira masih terlalu kecil….’kata ibu dengan suara tertahan. Aku hanya diam tak bisa memberi pendapat tentang masalah ini, karena aku merasa apapun pendapatku adalah salah.’Bu…aku juga tahu….tapi..’Kak Imel seakan bingung,’Nanti ibu bicara dengan Andri…’suara ibu tegas, ‘BU..ibu pasti sudah dengar keputusan Mas Andri tadi malam…pahami juga dari sisi kami…bu…’Kak Imel menangis,’Ya..tapi kalian juga ingat sama Mira dong…dia itu masih kecil…..dia belum mengerti tentang semua ini….’akhirnya aku bisa mengeluarkan pendapat.’Win….Aku dan Mas Andri sangat berterimakasih atas bantuanmu selama ini…..telah merawat dan menjaga Amira untuk kami……’suara Kak Imel seolah menghakimiku…….’Kak kenapa jadi seperti ini…. ?’kataku,’Aku merawat Amira ikhlas…’jawabku,’Kalau begitu ijinkan Amira…kembali pada kakak Win….’suara itu seperti menghiba.Aku memalingkan wajahku. Menangis.Kak Imel pasti sudah sangat lama kehilangan Amira. Ya…Allah…….
‘Mel……bukan ibu tak mau..kau kembali bersama Amira…tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat ….coba difikir secara bersih Mel…Amira masih sangat kecil…percayalah…siapapun yang mengurus Amira, ibu dan bapak Amira didunia ini hanya kalian Imelda dan Andriansyah…..kau tak perlu takut…’ ibu membelai punggung Kak Imel, kata-kata ibu seolah menghakimiku, jadi aku selama ini siapa…apakah aku tak berhak menjadi ibu bagi Amira, apakah kasih sayangku selama ini tak setulus kasih sayang para ibu lainnya…..apakah memang aku tak pernah pantas menjadi ibu…………….. ?aku menarik nafas panjang, aku ingin menempatkan masalah ini secara wajar, akku tak ingin hanya mementingkan emosiku….aku ingin berfikir jernih, tapi setiap kali bayangan Amira muncul, maka segalanya menjadi kabur, bahwa gadis itu tak lama lagi akan menatapku dengan pandangan asing, karena ternyata aku bukanlah ibunya, karena sebentar lagi semua orang akan tahu….bahwa Amira bukanlah anakku………..bahwa sebentar lagi dirumahku…akan sepi kembali…tanpa ada celoteh…khas bocah…bahwa sebentar lagi…aku takkan lagi mengantar seorang gadis kecil kesekolah, bahwa sebentar lagi aku takkan khawatir jika gadis itu mendadak demam yang membuatku harus menatapnya semalaman, karena aku takkan sanggup membiarkannya dalam kesakitan sendirian, bahwa sebentar lagi panggilan mama akan berubah, dan semenjak itu aku hanya seorang wanita…yang tak ada seorang pun memanggilku Mama……perlahan aku menata hatiku bertanya pada dalam hatiku, apakah selama ini aku mencintai Amira setulus para ibu lainnya didunia ini, ataukah karena aku mencari kesempurnaan seolah aku pun sama dengan yang lain mencintai seorang anak padahal aku lah yang sangat ingin dicintai….apakah selama ini justru akulah yang salah….semua itu berkecamuk dalam batinku, sementara sayup-sayup Kak Imel pun menangis ku dengar.Aku mungkin memang tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak…..karena sepertinya tangisan Kak Imel adalah tangisan yang tak sama denganku, tangisan kerinduan akan anaknya………..sementara aku tangisan yang sampai saat ini aku tak pernah tahu mengapa aku menangis, apakah karena aku takut kehilangan Amira……..atau aku takut Amira membenciku karena aku telah menjauhkannya dengan ibunya…..ataukah tangisan karena aku adalah wanita yang tak pernah tahu nikmatnya menjadi seorang ibu.
‘Win…bawalah Amira kemari setelah kau jemput….biarkan dia tinggal disini dulu….ijinkan Kakak mu untuk sebentar saja merasakan merawat Amira….setelah itu…kita lihat bagaimana baiknya…’ kata ibu sambil membelai kepalaku,’Kau…tak apa kan…Win…tapi bicarakan dulu dengan suamimu ya…’suara ibu samar ditelingaku,’Kita ini orang dewasa pasti bisa berfikir secara dewasa…..tho..dulu kau urus anak itu demi Amira…dan Imel menmintamu untuk merawatnya, itupun demi Amira….maka sekarangpun…kita akan lakukan apapun yang terbaik hanya untuk Amira…..jadi ibu mohon…kesampingkan dulu perasaan kalian…Win…kau bicarakan dengan Mas Gun ya….nanti ibu yang bicara dengan Andri….yang sabar ya…Win…’ibu memelukku, aku tergugu dipelukkan ibu….aku sangat bersyukur ada ibu yang selalu menjadi penengah diantara kami…….’menangislah Win….ibu ada untukmu…kalian berdua anak ibu…..ibu sayang kalian….dan ibu tahu bagaimana perasaanmu pada Amira….begitu juga dengan Imel….tapi kita harus fikirkan Amira..ya Nak….sabar nak…’Ibu pun menangis.’Winda..pamit..ya..bu..mau jemput Mira…nanti terlambat…’kataku,’hati-hati….Win….’Ibu mengusap punggungku, aku mencium tangannya. Sebelum pergi aku memeluk Kak Imel dengan erat, ‘Maafkan Kakak win….’suara itu berbisik ditelingaku,aku tak menjawab hanya berlalu, fikiranku menuju Amira……
Aku sudah telat menjemput Amira, suasana sekolah sudah sepi, Amira sedang bermain dengan salah seorang temannya ketika aku melihatnya. Wajahya langsung berseri keyika melihatkuu datang, bidadari kecil itu berlari kearahku,’Ma….mama…’Amira memelukku, sepertinya dia takut aku tak menjemputnya, aku menggendongnya, Afifah temannya meledeknya, ‘Mira udah besar digendong….’Amira hanya tersenyum dia semakin menggelayut dipinggangku, aku berpamitan pada gurunya, dan minta maaf karena telat menjemputnya. Amira seolah tak ingin lepas dariku tangannya berpegang erat pada leherku, aku menciumi keningnya,’Mama..dari pasar ya..koq telat jemput Mira…. ?’katanya merajuk,’Mama dari rumah nenek…bukan dari pasar…’jawabku,’Koq nggak tunggu Mira ma… ?’suaranya terdengar menyesal,’sekarang kita ke rumah nenek lagi, mira mau… ?’tanyaku,’Mau dong….mira kan mau ketemu kak Sari dan Kak Rima….’mata kecilnya berbinar, hatiku sakit dibuatnya,’Mama telpon papa dulu ya….supaya papa tahu kita sekarang dirumah Nenek….’kataku, setelah memasangkan sabuk pengaman dipinggang Amira, aku menelpon Mas Gun. Awalnya suamiku keberatan jika Amira akan ku inapkan di rumah ibu, tapi akhirnya setuju juga, besok hari sabtu jadi aku dan mas gun jika Amira tak mau menginap dirumah ibu, bisa menemaninya….dan Amirapun besok libur.Hatiku berdegup tak menentu semakin mendekati rumah ibu, rasanya semakin dekat aku akan kehilangan Amira, ‘Ma…tadi mira pinter lho….surat al bayinnah cuman Mira yang hafal….Afi…belum…’katanya dengan nada ceria, ‘wah…mira dapat bintang dong….’kataku,’dapet ma…5 …’ katanya bangga,’eeh suara perut siapa itu….ada yang lapar…nih… ?kataku sambil memegang perutnya,’iya…ma..mira lapar….nenek masak apa ya…. ?’katanya dengan mimik memelas, ‘sabar ya…sayang..tuh rumah nenek udah kelihatan, mira cuci tangan dulu…baru makan…terus….. ?’tanyaku,’sholat dzhur 4 rokaat…’katanya tangkas,’pinter….’jawabku.Akuu memarkir mobilku tepat didepan rumah ibu. Begitu mobil selesai ku parkir, Mbo Nah membukakan pintu untuk kami.Kak Imel dan Kak Andri memburu Amira, sepertinya mereka sudah sangat tidak sabar. Kak Andri memeluk anak itu lama sekali, ada cairan bening di matanya keluar,’Aduuuh…panas om….’Amira mengelak. Andri hanya mematung. Hatiku hancur saat itu kejadian itu membuat batinku menangis, aku menuju dapur, aku ingin menyiapkan makan untuk Amira. Tapi begitu selesai aku menggorengkan ayam tepung kesukaanya, aku melihat Amira sedang duduk dipangkuan Kak Andri sambil disuapi dengan sepotong daging rendang, padahal selama ini Amira paling takut jika ku suapi dengan daging itu, dia takut pedas, tapi saat itu anak itu sepertinya lahap sekali,’Ma…daging pedas ini manis…enak…’ kata Amira dengan senang,’sudah cuci tangan… ?’tanyaku,’sudah..tadi dibantu mama Imel…’aku terkesiap begitu ku dengar Amira memanggil Kak Imel dengan nama Mama Imel,’kata nenek…sekarang Amira punya dua mama dan dua papa, ada Mama imel dan Mama wina…dan papa Andri juga papa gun..’katanya sambil menghitung dijarinya ‘jadi ada empat….’matanya berbinar,aku memandang ibu yang juga ada disitu, ibu hanya mengangguk. Aku kembali ke dapur, kejadian barusan telah membuat hatiku semakin hancur, mungkin memang benar jika darah memang tak mungkin dapat dipisahkan, baru saja satu kali Amira bertemu dengan orangtuanya mereka sepertinya sudah sangat akrab. Ibu membelai punggungku,’sabar nak….sabar ya….’ibu seperti ingin agar aku tak memperlihatkan wajah kecewa dihadapan Amira,aku tak bisa menjawabnya, aku memeluk ibu, aku ruah dipelukkan ibu, aku seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, menangis……..dan tak ingin berhenti menangis.
Aku segera membasuh wajahku, aku mendengar ada suara mobil mas gun parkir didepan rumah ibu. Aku segera memburunya keluar. Saat melewati Amira ku lihat bocah itu tertidur pulas dipangkuan Kak Andri,’Sssst…..’Kak Andri memberi isyarat agar aku tak berisik, aku beringsut membukakan pintu untuk Mas Gun.Mas Gun lebih tenang dari aku, kelihatannya hari ini Mas Gun lebih santai, setelah sholat Ashar Mas Gun berbincang dengan Mas Andri di beranda, aku , Kak Imel dan ibu mematung didepan tivi dengan alam fikiran masing-masing. Tak ada satu patah katapun keluar dari kami. Hanya tarikan nafas yang terdengar…..suasana hening .’Rima dan Sari juga tidur ya mba…. ?’ kataku membuka perbincangan,’Ya…mereka tidur diatas…sebentar lagi juga bangun….’Kak Imel menjawab dengan pandangan tetap kearah tivi,’Win…malam ini Amira tidur bersama kami ya…. ?’ suara Kak Imel akhirnya pecah,aku hanya mengangguk,’Kau dan Mas Gun tidur di kamar mu dulu saja, tapi kasurnya kecil ya..win.. ?’ kata ibu seolah bingung,’Win tidur di rumah aja bu….besok win kesini lagi…..’kataku sambil bangkit, ibu dan Kak Imel seolah memberi isyarat bahwa aku dan Mas Gun harus mengijinkan Kak Imel dan Mas Andri untuk mengenal Amira lebih dekat,’Tenang saja Amira baik-baik saja…ada Sari dan Rima…mereka paling main…’ kata ibu, aku menangangguk. Rupanya telah terjadi pembicaraan serius di beranda antara Mas Gun dan Kak Andri, wajah keduanya terlihat serius. Begitu ku ajak pulang Mas Gun langsung mengangguk, setelah pamitan pada ibu, aku dan Mas Gun pulang dengan mobil masing-masing, aku ingin sekali sampai ke rumah, aku ingin tahu apa yang dibicarakan antara Mas Gun dan Kak Andri.
Aku sengaja menahan diri tak bertanya apa-apa, ku biarkan Mas Gun melahap makanan dimeja, setelah sholat isya dan keadaan agak tenang, karena semenjak datang hingga selesai sholat isya tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Mas Gun, barulah aku berani membuka suara ketika ku lihat wajahnya yang serius berubah.’Mas….ada apa tadi dengan Kak Andri… ?’kataku hati-hati,Mas Gun menatapku, dia tersenyum,’Kau…harus bisa menerima ya…Win…Mereka ingin Amira mereka bawa ke Surabaya…tempat Andri bekerja….mereka akan tinggal disana….aku fikir…kapanpun waktunya, memang mungkin tak pernah tepat baik untuk kita ataupun untuk Amira….tapi..mungkin semakin kecil anak itu semakin baik…ya…Andri juga bilang..semuanya tentu dengan proses, dan kita pasti melibatkan psikolg anak untuk masalah ini…..’Mas Gun membelai rambutku,’Sekolah Mira…bagaimana… ?’kataku,’Ya..sehabis semester ini saja…..Andri dan sikembar akan menuju Surabaya dua hari lagi, sementara Imel akan disini menunggu Mira, dan berkonsultasi dengan psikolog, juga dengan mu…bagaimanapun juga…perlu proses Win…’Mas Gun sepertinya sangat tenang. Aku mematung, aku tahu saat itu akan tiba tapi secepat ini, aku juga tak menyangka,’Sudahlah Win…..sabar ya….’Mas Gun memelukku, kali ini aku tak menangis, air mataku sudah kering.Fikiranku melayang, saat untuk kehilangan Amira semakin dekat, saat itu pasti akan sangat menyakitkan untukku. Aku mematung dan mencoba berkompromi dengan hatiku, Kak Imel dan Kak Andri memang lebih berhak atas Amira daripada Aku, lalu Aku dimata Amira adalah siapa………….
Paginya setelah sholat subuh, tanpa mandi terlebih dahulu aku segera menuju rumah ibu, semalaman aku tak bisa tidur, semalaman aku hanya memandangi kamar bidadari kecilku itu.’Amira…sedang mandi…’Mbo Nah membukakan pintu pagar. Aku hanya mengangguk, aku memburu masuk kedalam aku membawakan baju kesayangan Amira. Tapi begitu masuk Amira sudah rapi dengan baju barunya,’Ma….lihat baju..Mira bagus kan..Papa andri yang beli dari Paris untuk Mira….’Mira berputar-putar dengan baju barunya, aku menganguk saja. Aku tersenyum memandangnya,’Tadi malam Amira bobo sama Mama Imel dan Papa Andri…. ?’tanyaku,’Iya…kata Mama Imel dan Papa Andri….nanti Mira mau diajak ke Surabaya…supaya bisa main terus sama Kak Sari dan Kak Rima….bolehkan Ma…soalnya Kak Sari dan Kak Rima…besok mau pergi ke Surabaya… ‘Mira sepertinya semakin menjauh dariku, aku mengangguk, ‘Mama kan ada Mbo Sum….jadi mama nggak kan sepi…kalau Papa lagi kerja, atau Mama ke pasar aja…’ Mira kecil seperti ingin menghiburku,’Jadi Mama nggak boleh ikut ke surabaya ?’tanyaku,’Kan Papa Gun kerja…nanti siapa yang nyiapi makananannya… ?’Amira menjawab dengan jawaban bocahnya, ‘Amira kan sekolahnya di bandung…..koq mau ke surabaya….. ?’tanyaku, ‘Kata Papa Andri…bisa koq mah..pindah….atau Papa Gun kerjanya disuruh pindah aja..ke surabaya…..’Mira memberi usul padaku wajahnya berbinar,’Nanti Mira juga pasti sering ke bandung ke rumah Mama dan Nenek…Kan Mira juga kangen sama Mama….’katanya sambil memelukku,aku tak menyangka sudah ada pembicaraan yang sangat jauh diantara Kak Imel dan Amira.’berarti Amira jarang dong ketemu Mama Win… ?’ tanyaku,’Nggak Ma,….kata mama Imel kapanpun Mira mau ketemu Mama Win…bisa…’Kata Mira lagi dengan senyum,’Ma..boleh kan Mira ikut ke surabaya…abis…kalau dibandung Mira nggak punya temen Ma…’Mira menatapku,’Boleh…pasti boleh…Mira nggak boleh nakal ya…’kataku dengan tangisan tertahan. Amira bersorak senang, ‘Horeeeeeeeeee’katanya berjingkrak,’Tapi tunggu libur sekolah dulu ya…..’kataku,tanpa menunggu jawaban Mira aku beringsut menuju dapur aku tak kuat dengan semua ini, Suara mira bermain dengan kedua kakaknya menbuat hatiku semakin rapuh.
‘Win….’suara Kak Imel mengagetkanku,aku segera menghapus air mataku,’Aku perlu belajar banyak darimu dalam mengurus Mira…..minta bantuan ya….’ Katanya dengan suara terbata-bata,’selama ini Mira hidup dengan kasih sayang mu…..terimakasih…Win…’ Kak Wina memelukku, aku menangis.’Mba..juga bingung Win….kapan sebetulnya saat yang tepat untul membawa Mira kembali pada kami….dengan bantuanmu…Mba yaqin Mira baik-baik saja…’ Kak Imel melepaskan pelukannya,Aku mengangguk,’Semoga kaupun segera memiliki Mira yang lain ya Win…’ Kak Imel menatapku.Aku tercenung.Amira memang akan segera pergi dariku.
‘Mulai …hari ini Mira akan bertemu psikolog anak, kita juga….semoga semuanya baik-baik saja ya…Win…’ Kak Imel membelaiku dan kemudian pergi. Sendok ditanganku tiba-tiba jatuh, aku membungkuk untuk mengambilnya, tapi tiba-tiba saja saat akan bangkit punggungku rasanya sakit sekali, aku langsung tersungkur, dan jatuh.
Saat mataku terbuka, yang pertama ku lihat adalah wajah Mas Gun, matanya menatapku dengan cemas, kemudian ada ibu. Aku melihat sekeliling, rupanya aku ada di rumah sakit.
‘Syukurlah Win……..’Mas Gun memelukku, ‘Mira mana…. ?’tanyaku,’Win…….’Mas Gun memelukku erat sekali, ibu menangis, matanya basah,’Mira…mana…. ?’aku semakin bingung dengan keadaan ini.’Sabar Win..mira baik..kau yang istirahat ya….’ibu mencium keningku.Tiba-tiba saja aku merasakan ada yang sangat sakit dipunggungku ketika aku ingin bangkit,’Win….jangan banyak gerak dulu ya…istirahat….’Ibu melarangku untuk bangkit. Mas Gun menatapku dengan tatapan yang aneh, aku tahu pasti ada yang tak beres dengan tubuhku, aku menggerakan tanganku rasanya semuanya baik-baik saja,kakikupun baik-baik saja, tapi jika ingin bangkit maka punggungku terasa sangat sakit, bahkan bergeserpun rasanya aku tak mampu.Aku menatap Mas Gun, ‘Mas…ada apa… ?’tanyaku, ‘Kenapa punggungku sakit sekali jika digerakkan… ?’tanyaku , aku tahu Mas Gun takkan bohong. ‘Nggak Pa-pa Win…kau hanya butuh istirahat…sudah..istirahat…’Ibu membelai rambutku, ‘Dokter akan memeriksamu lagi Win….tadi kau…sempat tak sadar….mas panggil dokter dulu ya…’ Mas Gun berlalu, aku ditemani ibu. Aku merasa sangat sehat. Tapi aku tak dapat bergeser sedikitpun..karena punggungku sakit sekali, aku ingat sekarang….ketika jatuh aku hendak mengambil sendok yang jatuh dilantai, tiba-tiba saja sehabis membungkuk aku tak bisa lagi berdiri dan setelah itu aku tak sadar karena aku merasa sakit yang sangat dipunggungku, ya…sebetulnya sakit punggung ini sudah sangat lama sekali aku rasa ,hanya kadang terasa kadang tidak, mungkin tadi adalah puncaknya. ‘Mira mana…bu… ?’tanyaku lagi, ‘Ada Win sama mbak mu…kau tenang ya….’ibu membelai rambutku, ‘Bapak ibu tinggal… ?’tanyaku heran, padahal semenjak bapak kena diabetes tak pernah ibu meninggalkan bapak walupun sebentar, ‘Ada Imel….yang jaga…dan Andri…ibu jaga kamu dulu…’kata ibu sambil tersenyum. Aku merasa sangat senang sekali.
Mas Gun datang dengan seorang dokter. Dia memeriksaku dengan seksama,’kelihatannya ibu sehat…tapi..nanti tunggu di scan baru pulang ya bu…’ kata dokter lagi, ‘Coba ibu duduk…sebentar…’ Dokter itu memegang tanganku, aku memegang tangannya sekuat tenaga mencoba menahan sakit dipunggungku agar aku bisa duduk, ‘Susah dok…sakit…’kataku, mata dokter itu menatapku,’sebaiknya ibu ke ruangan saya….’ Dokter itu berlalu, kemudian datang beberapa orang paramedis mendorongku, aku ditemani Mas Gun dan Ibu. Air mataku meleleh, pasti ada yang buruk dengan punggungku. Setelah serangkaian test akhirnya dokter memberitahuku bahwa ada syaraf dipunggungku yang terjepit. Dokter menyarankan agar aku melakukan operasi, tapi kemungkinan sembuh setelah operasi itu hanya 40 persen katanya, maka untuk sementara agar tak bertambah parah aku sebaiknya melakukan therapy. Dan kemungkinan besar ini adalah penyakit yang harus ku derita seumur hidupku, jika tak ingin sakit maka aku harus menelan obat penahan rasa sakit, tapi jika dipakai secara lama obat itu berpengaruh pada ginjalku, kini sholatpun aku sudah tak bisa ruku dan sujud layaknya sholat orang pada umumnya. Terkadang dalam kesendirian, Aku menangis ……. Adakah semua ini karena dosaku yang teramat banyak sehingga aku mendapatkan semua ini ya Allah……ini semua pasti pengampunan dosa untukku …semoga begitu…Ya Allah……aku yaqin aku mampu mengatasi semua ini, bukankah tak mungkin Allah memberikan cobaan yang tak dapat dihadapi oleh umatnya, Allah maha tahu atas segalanya ,hanya kita manusia yang terkadang tak sabar menerimanya.Aku menangis sepuasnya jika ibu atau Mas Gun tak ada di sisiku. Kadang aku merasa menjadi orang yang sangat tak berguna. Ya Allah ampunilah aku…..begitu banyak nikmat yang telah kau beri tapi hanya dengan cobaan seperti ini aku sudah mengeluh….ya Allah ampunilah aku….
Hari itu Mira datang menengokku. Kini jauh dilubuk hatiku aku tahu mengapa Kak Imel tiba-tiba saja datang untuk Mira….Allah maha tahu waktu yang tepat, karena aku sudah tak bisa lagi menjaganya…..maka sudah saatnya Mira bersama Kak Imel yang dapat memberinya perhatian dan kasih sayang seutuhnya, sedangkan aku untuk sementara ini harus berkursi roda. Jelas tak mungkin mengurus Mira. ‘Ma….sembuh ya….’ Mira memelukku, aku mengangguk lemah….’Mira…sama Mama Imel ya….Mama Win sedang sakit…’kataku sambil membelainya,Mira menangis. ‘Mira sayang sama Mama Win…mira mau tinggal sama Mama Win Aja….biar Mira bisa bantu Mama Win…’ Mira menatapku,’Iya…nanti kalau Mira sudah selesai sekolah..Mira boleh tinggal sama Mama Win lagi ya…Mira bantu Mama Win…’ kataku sambil membelai rambutnya,’ sekarang Mira harus sekolah yang rajin….biar bisa jadi dokter…dan obati Mama Win..’kataku, Mira mengangguk, ‘Mira janji….’ Bocah itu mengangguk. ‘Kata nenek…..mira boleh koq sering tengok mama win…’ mira menatapku, ‘boleh…dong..’ kataku dengan senyum.Mira memelukku,’Maafkan mama ya..mira…’ kataku,aku memeluknya erat sekali. Allah memang selalu merencanakan semuanya dengan indah. Aku menangis….walaupun Mira berada dalam hidupku hanya sebentar namun dengan adanya amira selama itu aku pernah merasakan indahnya menjadi seorang ibu. Aku hanya bisa bersyukur.Semoga Amira Rahma dapat tumbuh lebih baik bersama Kak Imel dan semoga dia tak pernah merasa bahwa selama ini aku telah memisahkannya dengan ibunya, dan semoga saja aku dapat kuat menghadapi hidup seperti keadaan ku saat ini. Ya Allah aku mohon bimbinganmu…………selalu,
Selesai.
71107
Robbihabli minassholihin
Untuk dua permata jiwa ghaisani dan rashad
Yang membuat hidup ini terasa sangat berwarna……………

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.