keping

•August 16, 2008 • Leave a Comment

hatiku bagimu hanyalah keping..

keping yang bahkan hilang jika angin meruas

air mataku bagimu hanyalah keping

keping yang hanyut bahkan jika embun belum menguap..

adakah tak kau lihat…

keping hatiku kini semakin larut..

hingga tak berbentuk..

kini keping itu hilang..

karena suara dan katamu..

menyiksa..

dan menjadikan kepingan hatiku..

remuk redam…

lantah…

•August 15, 2008 • Leave a Comment

jika mengenangmu…

hanya dengan suara..

maka aku merasa diam….

jika mengenangmu…

hanya dengan mata jiwa..

maka aku merasa mati rasa..

jika melihatmu dengan perasaanku..

maka aku merasa lantah…

aku ingin berdiri dengan hati yang sama…

mencoba bicara dengan suara yang sama…

jika aku memang pendosa..

adakah aku sudah lantah  tanpa kata..

jika aku sang pendusta…

adakah aku lantah tak bersisa..

aku tak ingin lantah..

walau hanya luruh…

aku hanya ingin bersuara…

karena akupun punya rasa…

yang tak pernah lantah…

putih….

•August 13, 2008 • Leave a Comment

jika putih bukan sekedar dirimu..

dan jika abu2x pun tak mewakili hatimu..

harus seperti apakah aku mengenang wajahmu…

adakah aku masih harus terpapar hanya untuk tahu…

apa maksud bicaramu…

jika hitampun tak mewakili dirimu..

merahpun tak seperti hatimu…

adakah aku harus selalu menerka..

kearah mana langkah jalanmu….

seandainya putih itu terlihat jelas dimatamu..

mungkin aku akan lebih mudah mengerti sikapmu…

jika saja hitam sudah dapat kulihat di pelupukmu..

aku dapat saja menghias malam jadi penuh gemintang…

hatimu bahkan tak kelabu…

sehingga aku semakin tak mampu ..

mengartikan dan membaca jiwamu..

aku luruh dan hanyut..

hanya karena aku tak tahu….

anakku

•April 27, 2008 • Leave a Comment

anakku

begitu aku tahu kau tumbuh dirahimku

begitupula mimpiku ruah untukmu

anakku

begitu kau lahir dari rahimku

begitupula mimpiku hadir dalam matamu

anakku…

betapa banyak mimpiku yang ada padamu…

setiap langkahmu…

adalah seolah wujud dari langkahku…

adakah setiap salahmu…

adalah juga karena salah petuahku…

wahai anaku…

setiap kata yang kuucap untukmu..

adalah doa dan mimpiku…

tak ingin ada kata yang salah yang kuucap untukmu..

karena kau adalah kumpulan mimpi-mimpiku

aku tak ingin kau berakhir sebagi mimpi buruk..

bagiku dan bagimu..

berjanjilah..padaku ibumu…

untuk wanita yang hatinya selembut awan

•April 18, 2008 • Leave a Comment

Aku memandang jauh, mataku sesekali berair aku ingin sekali menahan agar air itu tak sampai keluar dari kelopak mataku, agar tak ada satu orang pun yang dapat melihat air mata itu. Hari ini semua yang ku simpan rapat, cerita tentang kehidupanku yang lain selain dirumah ini terbongkar sudah. Dan aku merasa begitu bersalah, karena semua orang pasti akan menganggapku bodoh, bagaimana tidak pernikahan yang hampir menembus 20 tahun tiba-tiba saja goyah karena nafsuku………..oh apakah semua ini adalah salahku,apakah ini adalah karena nafsuku semata………. mengapa semua mata tertuju padaku, seolah apa yang ku lakukan adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, bahkan ketiga anakku kini memilih duduk merapat mendekap ibunya, tak ada satupun yang mencoba untuk merengkuhku, padahal akupun sama – sama hancur…… Continue reading ‘untuk wanita yang hatinya selembut awan’

aku bukan pujangga

•April 18, 2008 • Leave a Comment

wahai kekasih…..

aku ingin sekali menuliskan bentuk wajahmu

dalam puisiku

tapi aku bukan pujangga

hingga aku tak mampu menghias kata

hingga seindah wajahmu

cinta untuk amira

•March 17, 2008 • Leave a Comment

Memandang Amira saat terlelap adalah kegemaranku belakangan ini, menatapnya mulai dari ujung rambut hingga kakinya ,seakan tak pernah percaya jika semakin hari tubuhnya semakin besar……Amira bukan lagi bayi mungil yang bisa ku gendong, tapi sudah tumbuh…..dia sudah berumur 5 tahun, tak terasa…waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru saja kemarin Amira masih sangat kecil, bayi berkulit merah yang hanya bisa menangis jika popoknya basah, kini Amira hampir menginjak usia sekolah dasar…..kulitnya putih..berhidung mancung….Amira tumbuh mirip seperti ibunya….Kak Imelda……….aku lantah jika menyadari siapa sebenarnya Amira untukku, Amira memang bukan anak yang lahir dari rahimku sendiri. Galau setiap kali menyadari bahwa Amira setiap hari tumbuh besar, akankah Amira kembali ke pangkuan Kak Imel, karena bagaimanapun Kak Imel adalah ibu kandungnya, akankah Amira marah padaku karena telah memisahkannya dengan ibunya, akankan Amira menatapku seperti tatapannya hari ini, tatapan anak kepada ibunya….ataukah Amira akan menjauh dariku dan mengganti panggilan Mama menjadi Tante jika saat itu tiba, galau hatiku rasanya sudah semakin tak terbendung, apalagi pertanyaan Amira sebelum tidur tadi, menohok bathinku yang terdalam, ‘Ma….betul kata Kak Sari….Amira bukan Anak Mama….. ?’ pertanyaan itu sontak membuatku limbung, ingin sekali aku marah pada Sarita kakak kandung Amira yang berbeda 4 tahun darinya, ‘ Kak Sari iri…mungkin karena Mira..punya Mama yang sangat sayang pada Mira ya..Ma…. ?’Amira memelukku, aku masih terdiam, pertanyaan seperti itu memang sudah ku duga akan dipertanyakan kepadaku suatu saat, tapi kapanpun pertanyaan itu datang, aku tahu, aku takkan pernah siap untuk menjawabnya…………ya..Allah………….aku menatap Amira dengan air mata, aku semakin takut akan kehilangan Amira, karena bagiku Amira….adalah…harapan………indahnya menikmati hidup sempurna layaknya wanita yang lain yang mampu hadir kedunia ini sebagai seorang ibu…yang melahirkan banyak keturunan….sebagai penerus…namaku dan nama suamiku…dan aku bukanlah wanita sempurna itu………………..aku memeluk Amira erat sekali……suara bel pintu berbunyi aku segera bangkit, pasti Mas Gunawan, suamiku, aku segera menyeka air mataku.Aku berusaha menyembunyikan kegalauanku. Tapi itu tak berhasil. Continue reading ‘cinta untuk amira’

Istriku Tak Secantik Aisah

•August 14, 2007 • 1 Comment

Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau, maka anggapan itu menjadi benar untukku. Aku merasa rumput tetangga jauh lebih hijau dan subur, sehingga jika kaki kita merapat padanya, akan lembut dan jika kita pandang tentu akan menyejukan mata. Salahkah jika aku berfikiran seperti itu….. berfikir bahwa istri orang ternyata lebih menyejukkan mataku dibanding dengan istriku sendiri…… ? Tapi jika rumput tetangga lebih hijau mungkin karena sang empunya memang rajin merawatnya, menyiramnya, memberikannya pupuk yang membuat rumput itu memang menjadi sedap di pandang mata dan menjadi penghias yang indah untuk sebuah rumah. Mungkin rumputku menjadi gersang karena aku tak merawatnya, memupuknya, bahkan aku mungkin lupa kapan terakhir kali aku menyiramnya, wajarlah jika rumput itu hampir mati , sehingga menatapnya bukan sedap yang kudapat dan tentu saja jika dipijak kaki tak merasa nyaman…..apakah semua ini memang murni salahku…. ? Continue reading ‘Istriku Tak Secantik Aisah’

Wanita Itu Juga Istri Suamiku

•June 23, 2007 • 4 Comments

Menikah dengan Trihatmanto usiaku waktu itu baru 20 tahun, kuliahku di Universitas Padjajaran sastra inggris belum kelar, sedang Mas Tri begitu aku memanggil suamiku baru lulus satu tahun. Mas Tri anak seorang Jendral waktu itu, tapi waktu aku mengenal Mas Tri aku suka karena beliau mandiri. Walau pun dari keluarga jendral tapi pola hidupnya sederhana, nggak macem – macem. Jaman itu seorang Jendral di negeri ini penguasa betul, militer rasanya jadi sosok yang menakutkan, jangankan anak Jenderal, anak kopral saja biasanya sombongnya setengah mati. Tapi Mas Triku tidak. Dia santun, bahkan kami bertemu pun di
kawasan mesjid Salman ITB, kadang bertemu pula jika ada pengajian minggu di Mesjid Istiqomah jalan Citarum Bandung. Jika ingat masa itu kami sering ketawa – ketawa sendiri, jaman itu aneh sekali, aku yang katanya aktivis tapi malu kalau pakai jilbab. Dulu orang pakai jilbab itu kelihatannya norak sekali, nggak kaya jaman sekarang, artis pun banyak yang berjilbab. Alhamdulillah.
Continue reading ‘Wanita Itu Juga Istri Suamiku’

Berikan Aku Sepotong Surga

•June 6, 2007 • 3 Comments

Kalau bisa memilih aku tak pernah mau jadi seperti sekarang ini, setiap kali keluar rumah pandangan mata tak ramah langsung menyerbuku, bisikan sinis hingga umpatan rasanya sudah puas ku dengar ditelinga. Aku rasanya tak bisa menghindar sejengkalpun dari serbuan pandangan sinis, hingga masuk ke rumah sendiripun pandangan itu jelas terlihat dari sorot dua orang pembantuku, bahkan jika aku pulang ke rumah ibupun tatapan ibu sepertinya tak lagi sesejuk dulu, di matanya kini lebih sering ku lihat air mata, dan air mata itu jelas tercurah untukku, seolah aku adalah pendosa besar yang memang patut menerima umpatan dari setiap mata yang berserumbuk denganku, aku merasa bagaikan asing disegala arah, bahkan sahabatku seakan memilah kata jika mencurahkan hatinya padaku, duniaku rasanya begitu sempit ,entah ke mana aku dapat tenang mematut diri dan melangkah tegak sehingga leherku tak perlu lagi dipijat karena pegal harus merunduk dimanapun berada, tadinya ku pikir akan mudah saja, tapi setelah ku jalani rasanya berat….dan aku hampir tak kuat…..

Continue reading ‘Berikan Aku Sepotong Surga’